
"Bukankah ini nenek dan kakek? Ada hubungan apa Sergio dengan mereka?" pekik Rafi dalam hati saat matanya terpaku pada sebuah foto keluarga yang terpampang dari layar ponsel yang baru saja dia terima dari pria beranak satu. Rafi begitu terkejut saat melihat orang tua dari ayahnya berada dalam satu foto yang sama bersama Sergio dan seorang wanita. Tentu saja hal itu membuat benak Rafi bertanya tanya, ada hubungan apa Sergio dengan nenek dan kakeknya?
Untuk mencari jawaban tersebut satu orang yang bisa memberi informasi adalah wanita yang saat ini masih tertidur di dalam kamarnya. Rafi yakin Marisa pasti tahu tentang foto tersebut. Karena Marisa masih tertidur, Rafi memilih waktu untuk ertanya nanti, saat Marisa sudah terbangun.
Sambil menunggu Mrisa bangun dan kebetulan satu persatu penghuni kost juga mulai pada berangkat, Rafi memilih melaksanakan tugasnya terlebih dahulu seperti biasa. Namun saat Rafi akan hendak membuang sampah di depan tempat kost, dimana biasa sampah itu dikumpulkan, Rafi melihat bocah remaja nampak sedang mengorek ngorek sesuatu di sana.
"Apa yang sedang kamu cari?" tanya Rafi pada bocah laki laki yang usianya mungkin lebih muda darinya.
"Nyari barang yang bisa dijual kembali, Bang," jawab anak muda itu.
"Kardus terima tidak?'"
"Abang punya kardus bekas?"
Rafi mengangguk. "Ada lumayan banyak. Kalau mau, kamu bisa ikut saya."
Pemuda itu langsung tersenyum senang dan dia dengan sangat semangat mengangguk dan berkata mau. Rafi lantas mengajak pemuda itu masuk ke area kost dan menyuruhnya menunggu di depan ruang tamu dimana di sana juga ada sebuah gudang.
Senyum pemuda itu merekah saat melihat Rafi mengeluarkan cukup banyak tumpukan kardus yang sudah terikat rapi dari dalam gudang. Entah kenapa di sana banyak sekali kardus bekas dan karena tempat itu sebentar lagi akan menjadi miliknya, Rafi dengan seenaknya memberikan kardus kardus tersebut.
__ADS_1
"Ini dijual berapa, Bang?' tanya bocah itu dengan mata memperhatikan kardus kardus tersebut.
"Dijual?' tanya Rafi dengan kening berkerut, dan anak muda itu mengangguk. "Ini buat kamu. Aku nggak menjualnya."
Anak muda itu langsung mendongak dan matanya menatap tak perccaya kepada Rafi. "Beneran, Bang?"
Rafi mengangguk yakin dan anak muda itu terlihat sangat senang. Rafi pun tersenyum melihat kebahagiaan sederhana yang ditunjukkan anak muda dengan penampilan terlihat sangat lusuh tersebut. "Kamu kenapa jadi pemulung? Bukankah kamu masih sangat muda? Kenapa kamu nggak nyari pekerjaan saja?"
Pemuda itu berjongkok sambil merapikan beberapa kardus yang berserakan. "Lulusan Sekolah dasar bisa kerja apa, bang? Bisa dapat rejeki dari mulung aja, aku sudah seneng banget, asal bisa beli makan buat aku dan adik."
Rafi tertegun mendengarnya. "Kamu punya adik? Lalu orang tua kamu kerja apa? Mulung juga?"
"Loh, kok bisa?" Rafi kembali dibuat terkejut.
"Sejak Ibu meninggal, ayah nggak tahu kemana perginya, Bang. katanya sih nikah lagi. Mau tidak mau aku harus merawat adikku karena biar bagaimanapun cuma aku keluarga yang dia miliki."
"Lah terus, kalau kamu pergi memulung, adikmu sama siapa?"
"Ada, dititpin ke tetangga. Beruntungnya punya tetangga yang baik, Bang. Mungkin karena sama sama orang susah kali ya?"
__ADS_1
Rafi tersenyum getir. Melihat pemuda itu tentu saja mengingatkan Rafi pada dirinya sendiri. Apa yang dikatakan anak muda itu memang ada benarnya, orang yang sama sama dalam keadaan susah justru jiwa tolong menolongnya lebih tinggi dari orang kaya. Itu yang Rafi rasakan selama hidup di kampung.
"Jika aku menawari kamu sebuah pekerjaan, apa kamu mau?" entah kenapa, Rafi tiba tiba memiliki sebuah ide dan memiliki niat untuk membantu anak muda itu.
Nampak sekali anak muda itu terkejut dan langsung menatap Rafi. "Kerja apa, Bang?"
"Kebetulan aku butuh anak laki laki untuk menjaga tempat kost ini. Kalau kamu mau, kamu bisa kerja disini dan juga bisa sekalian tinggal di sini."
Mata anak muda itu kembali membulat dan seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. "Tapi, bang, aku hanya lulusan sekolah dasar."
"Loh, kerja disini tidak perlu pake ijasah. Kalau kamu mau, besok kamu bisa mulai kerja."
"Tapi, bang, aku ..."
"Bawa aja adik kamu kesini. Soal gaji nanti kita bisa bicarakan jika kamu beneran mau."
Wajah anak muda itu langsUng terlihat berbinar. dengan senang hati, dia menerima tawaran dari Rafi. Biar bagaimanapun, Rafi memang harus mencari seseorang untuk berjaga di tempat kost agar dia bisa bergerak untuk mengatasi berbagai masalah terutama tentang Sergio.
...@@@@@...
__ADS_1