SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Bertemu Mantan


__ADS_3

"Rafi!"


Mendeengar ada yang menyebut namanya, langkah Rafi dan Marisa, yang baru saja keluar dari sebuah butik sontak terhenti, lalu mereka serentak menoleh ke sumber suara. Marisa menatap orang itu dengan tatapan bingung dan kening yang berkerut. Sedangkan Rafi matanya sempat membulat dan juga terkejut begitu tahu siapa yang telah memanggilanya, tapi tak lama setelahnya, Rafi langsung memasang wajah datar nan dingin.


"Siapa, Sayang?" tanya Marisa.


"Nggak kenal," jawaban Rafi cukup membuat orang yang memanggilnya langsung menunjukkan rasa terkejutnya. Padahal tadi orang itu sempat tersenyum manis saat menatap Rafi. "Dah, yuk jalan."


Rafi dan Marisa kembali melangkah, tapi orang yang tadi memanggil Rafi segera bergerak dann menahan Rafi dengan meraih tangan pemuda itu. "Fi, kamu lupa sama aku? Kok kamu gitu? kamu udah sukses sekarang, jadi kamu lupa sama aku?"


Rafi seketika langsung mengehntakkan tangan wanita itu dengan keras. "Kamu memang pantas umntuk dilupakan, bukan?" balas Rafi lalu kembali melangkah. Tapi orang itu sepertinya tidak tahu diri. Dia masih mencoba menahan kepergian Rafi meski dia tahu ada wanita yang sedang bergelayut manja di lengan pemuda itu.


"Fi, kamu jangan kayak gitu? Kamu sudah sukses sekarang?" orang itu masih tak percaya kalau pria yang dulu dia hina habis habisan, kini penampilannya benar benar telah berubah. Dilihat dari pakaiannya saja, jelas sekali kalu Rafi bukan pemuda yang miskin sepeeti dulu.


"Heh, Mbak, punya mata nggak sih?" Marisa yang merasa jengah dengan adanya orang itu langsung melontarkan kata kata tajamnya karena merasabkesal. "Nggak lihat apa kalau Rafi sedang bersama calon istrinya?"

__ADS_1


"Calon istri?" tanya wanita itu dengan kening yang berkerut. tapi tak lama setelahnya wanita itu malah terbahak. "Hahaha ... nggaK mungkin?"


"Kenapa nggak mungkin?" tanya Marisa dengan wajah penasaran karrena wanita itu tiba tiba tertawa meremehkan.


"Dari dulu, Rafi itu cinta mati sama aku, iya kan, Fi?" Rafi tak menghiraukan ucapan wanita itu dan dia malah memilih mengedarkan pandangannya ke arah lain karena terlalu jengah dengan wanita yang saat ini menahan langkahnya.


"Hahaha ..." kini Marisa yang tertawa meremehkan. "Bangun, mbak! Jangan kebanyakan mimpi. udah yuk, sayang, kita pergi. udah lapar aku."


Rafi dan Marisa langsung melangkah menuju mobil mereka tanpa mempedulikan wanita yang terus memandanginya. Wanita itu semakin terkejut saat melhat mobil yang digunakan oleh Rafi dan marisa. "Apa Rafi sekarang sudah kaya raya? Atau itu hanya kekayaannya milik wanita itu?" gumam wanita itu dalam hati. "Aku harus cari tahu."


"Eh, maaf, tadi aku ketemu sama temen, Yang," jawab wanita itu beralasan.


"Temam? Mana?" pria itu mengedarkan pandanggannya mencari seseorang disekitar tempat itu tapi tidak ada seorang pun berada di sana selain mereka.


"Sudah pergi, Sayang. Ya udah yuk, masuk, nanti aku nggak kebagian baju lagi," wanita itu langsung menarik tangan lelaki yang masih bingung dengan sikap wanitanya.

__ADS_1


"Siapa tadi, Fi?" tanya marisa begitu mereka sudah berada di dalam mobil.


"Masa lalu," jawab Rafi tanpa menoleh ke arah Marisa. Perasaannya menjadi kesal hanya karena dipertemukan kembali dengan wanita yang dulu sudah sangat menyakitinya. Bukan hanya wanita itu, tapi juga keluarganya.


"Hahaha ... sudah aku duga," tawa Marisa pecah. "Eh tapi kok dia ada disini? Bukankah kamu pernah bllang kalau mantan kamu itu satu kampung dengan kamu?" Rafi hanya mengangkkat kedua pundaknya sebagai jawaban kalau dia tidak tahu dan sudah tidak mau tahu. Marisa pun akhirnya memilih diam karena melihat sikap Rafi yang sepertinya enggan membahas masa lalunya.


Sementara itu di hari yang sama tapi di tempat yang berbeda, seperti biasa, Kalina dan Wildan kini terlihat semakin mesra saja. Saat ini wanita itu terlihat baru selesai memasak beberapa menu sederhana untuk dirinya, wildan dan aAlisa. Kalina memutuskan memasak sendiri agar pengeluaran mereka lebih hemat karena dia belum memiliki pemasukan.


"Kira kira usaha apa yang pas dengan kita, Yang?" tanya Kalina dengan kedua tangan membawa hasil masakannya dan menaruhnya di atas meja.


"Iya yah? Di depan juga udah banyak pedagang makanan," jawab Wildan yang saat itu sedang menunggu masakan hsul karya Kalina sambil menemani sang adik bermain. "Lagian uangku juga sudah menipis, paling nunggu gajian bulan depan."


"Maka itu, kita harus mikirin usaha dari sekarang," jawab Kalina dan Wildan sontak tersenyum lebar. Di saat mereka akan memulai menikmati hidangan di hadapan mereka, keduanya dikejutkan dengan suara teriakan dari depan post jaga.


"Siapa lagi yang datang," gerutu Wildan.

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2