SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Tak Sudi Bersama


__ADS_3

"Kalian mau ngapaian?" tanya Dito, begitu dia dan Rafi hendak masuk ke dalam mobil.


"Kita mau ikutlah," jawab Ayahnya Arinda yang sedang melangkah mengitari mobil bersama anaknya.


Rafi menghentikan gerakannya. Dia menatap dingin dua orang yang sudah berada di seberang mobil, lalu menoleh ke arah tempat kejadian peristiwa yang tadi digunakan untuk menyekap Arinda. "Itu ada motor para penjahat. Kalian bisa gunakan itu untuk pulang. Aku nggak suka naik mobil dengan orang lain."


"Apa! Mana bisa begitu?" Ayah Arinda protes.


"Rafi, kamu kok jadi tega gitu sih?" Arinda ikutan protes.


"Jangan harap, aku akan baik sama kalian!" acam Rafi, lalu dia segera saja masuk ke dalam mobil.


Dito tersenyum sinis dam segera saja masuk ke dalam mobil juga. Tak butuh waktu lama, mobil melaju meninggalkan dua orang yang berteriak minta ikut menumpang.


"Sialan! Sombong banget dia. Baru jadi orang kaya aja, belagu banget," maki Ayahnya Arinda begitu emosi melihat mobil itu melaju meninggalkannnya.


"Kok Rafi jadi berubah gitu sih? Pokoknya aku nggak terima, aku harus jadi istri Rafi," rengek Arinda yang membuat sang ayah semakin kesal dan menatapnya tajam.

__ADS_1


"Kamu mau dihina terus oleh dia? Nggak sadar tadi dia ngomong apa?" bentak Sang Ayah.


"Dia seperti itu karena marah dan kecewa sejenak, Yah. Nanti kalau aku terus deketin dia, pasti lama lama akan luluh. Biasalah kalau orang cinta tapi marah, selalu kayak gitu, padahal hatinya sayang," Arinda masih sangat percaya diri kalau Rafi bersikap seperti itu hanya untuk sementara waktu.


"Terserah kamu lah, Ayah udah nggak mau ikutan lagi," sungut sang Ayah lalu dia melangkah menuju tiga motor yang tadi ditunjuk Rafi. Namun sayang, mereka memang sedang sial. Tidak ada kunci motor satupun yang tertinggal di sana. Ayah Arinda masuk ke dalam dan berusaha mencari kunci di sana. "Benar benar kurang ajar! Nggak ada kunci motor satupun disini, Sial!"


"Loh, jadi kita pulang dengan jalan kaki? Jauh banget, Yah," keluh Arinda.


"Ya gimana lagi! Kalau kamu mau para preman kembali kesini ya silakan, tunggu aja," jawab sang ayah dengan segala rasa kesalnya lalu pergi begitu saja meninggalkan sang anak. Arinda jelas sekali tidak ada pilihan lagi selain mengikutti ayahnya.


Sementara itu di dalam mobil.


"Ya kesel aja sama orang orang modelan kayak mereka. Giliran ada yang lebih kaya aja langsung nyosor. Menjijikan," sahut Rafi sambil sesekali melihat layar ponselnya menunggu chat dari Marisa. "Kirain pulang kampung, nggak bakalan ketemu drama ala televisi. Eh nggak tahunya di kampung pun ada juga orang orang seperti itu."


"Ya lagian, kamu pulang kampung pakai diumumkan segala. Jadi ya gitu, banyak drama yang terjadi," balas Dito. "Eh tapi kalau diperhatikan, mantan pacar kamu itu cantik juga loh."


"Hahaha ... ya cantik lah, makanya dulu aku begitu bodoh dipermainkan oleh wajahnya," balas Rafi yang sebenarnya hatinya kesal jika mengingat kisahnya dengan sang mantan.

__ADS_1


"Kira kira masih rapat nggak, Fi?" Kening Rafi langsung berkerut dengan mata menatap pria yang duduk di belakang kemudi. Dito yang melirik Rafi sedang menatapnya langsung tersenyum lebar. "Itu lubang nikmatnya milik mantan kamu, masih ada segelnya apa udah jebol?"


"Oh," jawab Rafi begitu maksud dengan apa yang dikatakan supirnya. "Udah jebollah. Orang aku pernah mergokin dia mau masuk ke hotel dengan cowok yang katanya kaya."


"Waw, keren! Aku bisa nyobain dia nggak ya?"


"Kalau mau nyoba ya sana. Mumpung kita besok masih satu hari di sini."


"Sipp! nanti di hotel, aku akan memikirkan caranya."


Rafi hanya menggelengkan kepalanya lalu melempar pandangannnya ke arah lain. Rafi memang malam ini sengaja menginap di hotel bukan di rumah dia, karena keadaan rumah memang agak berantantakn. Apa lagi Rafi berencana akan membongkar rumah itu dan membangun kembali agar lebih layak di tinggali jika Rafi pulang kampung.


Sementara itu masih dimalam yang sama, tapi jauh dari tempat Rafi berada. Nampak beberapa orang pria sedang berkumpul di sebuah bangunan. Dilihat dari keadaaanya, mereka sepertinya bersiap siap hendak melakukan perjalanan jauh.


"Ingat, kalian harus menggunakan kesempatan ini sebaik baiknya," ucap salah satu dari mereka yang sedari tadi hanya duduk sambil menikmati minuman beralkohol.


"Tentu!" jawab salah satu dari mereka dengan sangat antusias. "Aku jamin, anak itu tidak akan kembali dengan selamat."

__ADS_1


Pria yang sedang menenggak Alkohol langsung saja menyeringai. "Itu kabar yang paling sangat aku tunggu. Aku yakin anak itu akan menyesal karena sudah berurusan dengan kita."


...@@@@@...


__ADS_2