SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Rasanya Masih Sama


__ADS_3

"Lubang kamu masih seret banget, Sayang," puji Rafi yang saat ini sudah memasukan miliknya ke dalam milik wanita yang pasrah di bawahnya. wanita itu hanya tersenyum sembari menikmati pemandangan indah di atas tubuhnya. "Akhh~ enak banget, Sayang," racau Rafi begitu pinggangnya mulai bergerak maju mundur, menyodok nyodok lubang nikmat yang pernah dia masuki sebelumnya, di saat lubang itu masih bermahkota.


Tidak ada perbincangan diantara keduanya. Yang ada hanya kata kata pujian dan erangan kenikmatan yang keluar dari mulut mereka yang menggema di ruangan kamar yang mereka tempati. Hingga beberapa menit waktu berlalu, Rafi mendengar suara telfon berbunyi. Awalnya Rafi mengabaikan telfon itu, tapi karena telfon itu berkali kali berbunyi, Rafi terpaksa menghentikan permainannya sejenak.


"Sayang, kita main dengan posisi kamu duduk dipangkuanku ya?" pinta Rafi. Dengan penuh semangat Amanda mengiyakan lalu mereka langsung bertukar posisi. Rafi duduk di sofa dan tangannya meraih ponsel di atas meja di hadapannya. Amanda melakukan tugasnya sendiri dengan baik dan tanpa bantuan Rafi, dia mampu mengarahkan batang pemuda itu ke dalam lubang nikmatnya. Di saat Amanda mulai mengggerakan tubuhnya naik turun, ponsel milik Rafi kembali berdering. Pemuda itu lantas menggeser tombol hijau dan meletakkan ponsel di dekat telinga.


"Hallo!" sapa Rafi dengan malas. Matanya memperhatikan tubuh yang bergerak dipangkuannya. Tangan kiri Rafi bergerak, meraih benda kembar yang menari nari di depan matanya.


"Kita pulang jam berapa, Bos? Kamu baru bangun?" tanya suara dari seberang telfon.


"Nanti sore aja," jawab Rafi. "Aku lagi tanggung."


"Lagi tanggung? Emang kamu lagi ngapain?" bisa dibayangkan orang yang sedang menelfon Rafi, saat ini keningnya sedang berkerut begitu mendengar jawaban dari bosnya. Karena Rafi malas menjelaskan kalau dia sedang bermain dengan wanita, pemuda itu lantas menekan tombol pengeras suara hingga suara kenikmatan yang keluar dari mulut Amanda terdengar sampai ke orang yang menelpon.


"Sialan! Malah lagi enak enak!" umpat orang dari seberang lalu tanpa permisi langsung memutuskan panggilannya. Rafi hanya tersenyum sembari melempar ponsel ke sofa sisi kanannya lalu kembali fokus pada permainannya.

__ADS_1


Hingga waktu terus berlalu, tanpa terasa tiga ronde sudah Rafi dan Amanda lakukan. Keduanya terlihat sangat kelelahan. Namun keduanya juga terlihat senang. Waktu menunjukkan pukul dua siang dan sekarang keduanya sedang makan siang di dalam kamar hotel, setelah mereka mandi bersama, begitu ronde ketiga berakhir dengan sukses.


"Aku pikir, kamu akan pindah ke luar negeri, Man," tanya Rafi disela sela menikmati hidangannya.


"Nggak lah. Kalau di luar negeri, kita bingung mau usaha apa untuk penghasilan sehari hari," jawab Amanda yang juga sedang melakukan hal yang sama dengan Rafi.


"Lalu kamu tahu tempat ini dari siapa?"


"Teman kuliah. Sebelum aku kenal kamu, aku sudah tahu informasi tentang rumah yang aku tinggali sekarang. Makanya, kan aku langsung nyari info untuk mendapatkan duit yang cepat. Duit itu untuk membayar rumah yang aku pakai, uang tabunganku dan uang Mommy untuk buka usaha."


"Kamu mau ngirim uang buat bayar aku lagi? Nggak usah! Kan permainan tadi aku yang minta."


"Bukan buat kamu, tapi buat Mommy dan adik adik kamu juga." Amanda malah tersenyum, tapi alasan Rafi cukup masuk akal juga. Amanda pun mengiyakan kalau nomer rekeningya memang masih nomer yang sama. Rafi hanya mengangguk sembari melanjutkan menikmati hidangannya.


"Ya sudah, aku pulang dulu ya, Fi," ucap Amanda beberapa menit kemudian setelah selesai makan dan kini keduanya sudah berada di lobby hotel.

__ADS_1


"Bilang sama Mommy, maaf, aku nggak pamit sama dia," jawab Rafi. Amanda hanya tersenyum sambil mengiiyakan dengan anggukan, lalu mereka berpisah karena Rafi juga harus bersiap kembali ke kota.


"Siapa tuh, Fi, cantik banget," tiba tiba Dito nongol begitu Amanda menghilang dari pandangan. "Kamu habis main sama dia?"


"Ya, seperti yang kamu dengar tadi di telfon," jawab Rafi santai lalu berbalik badan dan melangkah menuju kamarnya.


"Kok kamu beruntung banget bisa ketemu cewek cantik disini? Mana nggak bagi bagi lagi," protes Dito sambil mengikuti langkah Rafi.


"Kamu kan punya duit, ya kamu tinggal nyari."


"Tapi nyari yang secantik itu susah lah. Dia kayak bule. Pasti harganya mahal ya?"


"Ya mahal dong. Hanya seorang presdir yang mampu bayar wanita secantik dia. Mana pelayanannya bagus banget lagi," ucap Rafi yang semakin membuat Dito merasa iri. Rafi sebenarnya tidak ada niat menganggap Amanda sebagai wanita bayaran, tapi Rafi juga tidak bisa jujur tentang wanita itu untuk saat ini. Biarlah semua orang tahu nanti pada saat Rafi sudah menghancurkan Sergio.


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2