
"Sekarang, aku akan kirim kamu menyusul ayah kamu, Rafi. Bersiaplah!" Sergio menyeringai dengan penuh kemenangan dan tanpa pikir panjang, jari telunjuknya langsung menarik pelatuk senjata api yang dia tegang. "Mampus kau!"
Dorr!
"Akhh!" Rafi berteriak cukup keras. Dia terpental ke belakang sambil memegangi dada kirinya. Rafi meringis dan terduduk dengan kepala menunduk.
"Hahaha ..." tawa kemenangan Sergio kembali menggema dan dia merasa puas dengan apa yang baru saja dia lakukan. Kakinya melangkah menuju ke arah musuhnya yang terlihat tak berdaya. "Bagaimana, Rafi? Kamu tidak menduga bukan kalau ini akan terjadi? Hahaha .."
Rafi tetap terdiam pada posisinya yang menunduk. Bahkan suara kesakitan masih bisa Sergio dengar dan membuat pria itu sangat senang. "Jangan pernah menganggapku remeh, Rafi. Aku tidak mudah untuk kamu taklukan. Kamu pikir dengan mengalahkan anak buahku, kamu sudah menang? Hahaha ... kamu salah besar!"
Rafi tidak merespon. Bahkan saat Sergio sudah berdiri dihadapannya dengan mengacungkan senjata api di kepalanya, Rafi masih dalam posisi yang sama, menunduk dengan suara kesakitan yang dia tahan.
Sergio menyeringai penuh kemenangan. "Sekarang pergilah kau ke neraka bersama ayahmu, Rafi!" Sergo bersiap menarik pelatuknya kembali. Namun hal tidak terduga saat itu juga dia dapatkan.
Dakh!
"Akhh!" Sergio teriak kesakitan saat dengan gerakan yang begitu cepat, tangan yang memegang senjata api dihantam begitu kuat olih targetnya. Bahkan senjata api itu langsung terpental beberapa meter. Mata Sergio membulat tak percaya begitu menatap Rafi yang mendongak dan tersenyum sinis. "Kau!"
__ADS_1
Bugh!"
"Akhh!" kepalan tangan Rafi langsung bersarang di perut Sergio hingga dia terpental sampai mundur beberapa langkah. Matanya semakin terbuka lebar dengan apa yang dia lihat saat ini. Rafi berdiri dengan gagahnya. Yang membauat Sergio menatap Rafi dengan tatapan tak percaya adalah, tidak ada luka tembak di dada musuhnya. Rafi terlihat baik baik saja.
"Jangan kamu pikir, cuma kamu yang pintar, Tuan Sergio," kini Rafi yang menyeringai sembari melepaskan beberapa kancing bajunya. mata Sergio kembali dibuat membelalak dengan apa yang Rafi tunjukan. "Nggak sia sia, Daddy meminjamkan baju anti pelurunya. Ternyata ada gunanya juga."
"Kurang ajar!" dengan segala amarah yang semakin meninggi, tangan Sergio terkepal dan hendak memberi Rafi pelajaran. Tapi sayang, tenaganya kalah jauh dengan tenaga anak muda. Belum lagi Sergio juga tidak memiliki ilmu dasar bela diri. Rafi hanya memberinya beberapa hantaman dan tendangan, Sergio sudah terkapar dan mengerang kesakitan.
"Bagaimana, Tuan?" sekarang Rafi yang tersenyum penuh kemenangan. Pemuda itu berjongkok di sisi kanan Serrgio yang sedang mengerang kesakitan. "Harusnya, aku segera mengirim kamu menemui ayahku, tapi aku tidak akan membiarkanmu pergi dengan mudah, Tuan."
"Tentu saja sebuah kejutan yang tidak pernah anda duga," Rafi bangkit lalu merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel dan menghubungi seseorang. Tak lama setelah itu datang Dito dengan beberapa anak buah Moreno. Salah satu anak buah, jongkok di sisi lain sebelah Sergio tergeletak.
"Apa yang akan kamu lakukan, hah!" Sergio masih kuat untuk memberi bentakan, tapi Rafi tidak takut sama sekali. Sekarang anak buah Rafi menunjukan sesuatu yang membuat Sergio ketakutan.
"Tenangkah, ini hanya akan membuat anda, mati pelan pelan, Tuan," ucap Rafi terdengar sangat menakutkan. Rafi pun langsung menatap anak buahnya. "Suntik pria ini sekarang!"
"Baik, Tuan muda."
__ADS_1
"Tidak, tidak, Tidak!" namun teriakan Sergio sama sekali tidak mengundaang rasa belas kasihan dalam hati Rafi.
Tak lama kemudian setelah Sergio tidak sadarkan diri, Rafi bangkit dan langsung memberi perintah. "Buang ke lima orang yang ada di atas, ke dalam hutan di pulau yang berbeda, dan yang lainnya, bawa orang ini ke rumah sakit lalu buat skenario seperti yang aku perintahkan, mengerti?"
"Mengerti, Tuan muda."
Rafi pun langsung beranjak pergi dari gedung itu dan sudah ada Dito yang menyambutnya dengan mobil mewah. Sekarang kita kemana, Tuan?" tanya Dito begitu Rafi memasuki mobilnya.
"Kita ke tempat, dimana akan drama keluarga berlangsung," jawab Rafi dengan mata memperhatikan gedung yang baru saja dia datangi. "Tapi sebelumnya kita cari makan dulu, Dit."
"Oke, laksanakan!" mobil bergerak maju meningggalkan tempat tersebut.
Beberapa puluh menit kemudian di tempat yang terbeda, sebuah keluarga nampak sedang tertawa riang. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, mereka seperti terlihat sedang berbahagia. Hingga salah satu dari mereka mendengar dering ponsel, dan orang itu langsung mengambil ponselnya dan menerima panggilan yang masuk.
"Apa! Sergio kerampokan!"
...@@@@@...
__ADS_1