SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Dibalik Sikap Dingin Rafi


__ADS_3

Di ruang yang akan menjadi tempat kerjanya, Rafi kembali memperhatikan layar laptop yang menyala di hadapannya. Telinganya juga dia fokuskan kepada suara seorang pria yang saat ini sedang duduk di sebelahnya. Pria itu dengan tegas dan juga sabar, membagi ilmu yang dia ketahui tentang bagaimana bergelut di dunia usaha yang akan Rafi jalani beberapa waktu lagi.


Namun untuk kali ini, kefokusan Rafi sedikit terganggu. Sejak dirinya keluar dari ruang pria pemimpin perusahaan tersebut, pikiran Rafi tertuju pada dua wanita yang menjadi tamu tuan Moreno. Entah kenapa, saat melihat wajah kedua wanita itu, perasaan Rafi berubah menjadi marah, muak dan berkecamuk. Seakan ada sebuah tenaga yang menekan Rafi untuk mengeluarkan segala rasa yang menekannnya saat itu.


Beruntung, saat itu Rafi bisa menahan diri dari luapan emosi yang tiba tiba menyeruak seluruh rongga dadanya. Rafi memilih pergi meninggalkan dua tamu yang terlihat kegenitan kepadanya, karena Rafi sungguh tidak menyangka jika mereka adalah saudara ayahnya, yang artinya suadara Rafi juga.


"Sepertinya ada yang harus kamu jelasin, Fi," suara berat milik pria yang Rafi kenalm sontak membuat dua orang yang ada di ruang kerja Rafi menoleh hampir bersamaan.


"Penjelasan apa, Dad?" tanya Rafi bingung. Moreno melangkah mendekat dan meminta sang asisten untuk meninggalkan mereka berdua.


"Kenapa kamu bersikap seperti itu kepada tamu wanita tadi? Apa kamu mengenalnya? Atau hanya gara gara dia keluarganya Sergio, jadi kamu bersikap seperti itu?" tanya Moreno lagi begitu dia mendudukan tubuhnya di atas sofa yang tersedia.


Kening Rafi sontak berkerut sejenak, mencerna ucapan Moreno sembari mencari kata yang tepat untuk membalasnya. Rafi berpikir cukup cepat untuk memberi alasan yang tepat, hingga beberpa menit kemudian, Rafi nemenukan sesuatu yang bisa dijadikan penejelasan yang masuak akal.

__ADS_1


Rafi meraih ponselnya yang tergeletak di sisi kiri meja. Jempolnya menggulir menu yang terpampang di alayar ponsel dan ketika dia menemukan apa yang dia cari, Rafi menunjukan layar ponselnya ke arah Moreno. Kening penguasa itu seketika berkerut dan mengambil alih ponsel yang ada di tangan.


"Ini foto Sergio dan istrinya bukan?" tanya Moreno dan dengan cepat Rafi mengangguak. "Lalu dua orang ini siapa?"


"Itu nenek dan kakek saya, Dad," jawab Rafi pelan tapi terlihat sangat meyakinan sampai yang mendengrnya terlihat sangat syok.


"Nenek dan kakek kamu! Bagaimana bisa, Fi?"


"Aku juga awalnya terkejut, Fad, tapi itu adalah orang tuanya ayahku."


Rafi sekilas mengembangkan senyumnya lalu setelah siap, Rafi mulai berkisah tentang nasib yang di alami orang tuanya hingga Rafi menemukan fakta tentang nenek dan kakeknya dari pihak ayah berada dalam foto tersebut. Rasa terkejut semakin terlihat jelas dari wajah Moreno saat ini.


"Astaga! Kok kasihan banget nasib ayah kamu, nak?" Moreno menatap Rafi dengan tatapan penuh haru. "Kalau memang dia keluargamu, kernapa tante kamu kayak masih muda banget?"

__ADS_1


"Aku sendiri kurang tahu, Dad. Mungkin istri Sergio adalah adik paling bunggu dari ayah. Soalnya ayah saya kan anak pertama. Dulu aku ketemu terakhir saat masih smp. Setelah itu tidak pernah berhubungan lagi dengan nenek, kakek dengan anak anaknya."


Morena nampak mengangguk beberapa kali sebagai tanda kalau dia memahami pemuda yang sedasng duduk bersamanya. "Terus tindakan apa yang akan kamu ambil?"


"Yang pasti aku akan memperlihatkan kepada mereka, kalau aku bisa sukses tanpa campur tangan mereka. Aku pengin membungkam mulut mereka, Dad."


Moreno mengangguk tanda mengerti. "Ya sabar, jalani apa yang ada aja dulu. Nanti kalau kamu sudah siap baru kamu tunjukan siapa kamu"


Rafi seketika langsung mengangguk dengan antusias. Kerena merasa cukup mendengar penjelasan Rafi tentang sikapnya, Sang presdir memilih keluar meninggalkan pemuda itu. Rafi pun kemebali melaksanakan kegiatan belajar dan mengajarkan.


Masih di hari yang sama, setelah memberi tahu tentang keadaan tamunya kepada Rafi dan dilanjut pergi menuju apotik untuk membeli minyak pijat, Wildan bergegas kembali menuju kamar wanita yang tadi. Namun sebelum itu dia melongok adiknya terlebih dulu. Karena sang adik terlihat lagi fokus dengan layar ponselnya, Wildan segera saja melangkah ke unit kamar nomer dua puluh depalan.


"Mbak, nih minyak pijatnya," ucap Wildan sambil menyodorkan botol bening yang isinya sebuah minyak ramuan berwarna coklat. wanita bernama Kalina itu menerima botol tersebut dan tak lupa juga mengucapkan kata tertima kasih. Karena Kalina bilang dia bisa melakukan pemijatan sendiri, Wildan lantas memutuskan keluar dari kamar wanita itu. Namun saat langkah kaki Wildan baru sampai batas pintu, dia mendengar suara rintihan kesakitan, hingga langkah kaki wildan terpaksa berhenti.

__ADS_1


"Aduh, sakit."


...@@@@@...


__ADS_2