
"Aduhh," suara rintihan kesakitan terdengar dari mulut wanita yang sedang berusaha memijat bagian tubuhnya yang kesakitan. Meski sedang berusaha, nampaknya wanita itu tidak kuasa menahan sakit akibat jatuh terpeleset di lantai. Wanita bernama Kalina kembali mencoba memijat bagian bawah tubuhnya yang sakit, tapi lagi lagi dia mernintih kesakitan.
Di dalam kamar yang sama, seorang pria yang beberapa detik yang lalu pamit hendak keluar kamar, seketika menghentikan langkah kakinya saat mendengar suara kesakitan dari wanita yang dia tolong. Pria bernama Wildan itu lantas memutar badan dan menatap ke arah wanita yang sedang berusaha memijat bagian atas dari kakinya.
"Apa perlu aku bantu, Mbak?" tawar Wildan yang merasa iba melihat wanita itu seperti kesusahan karena harus menahan sakit sambil duduk. Wildan kembali mendekat ke tepi kasur dimana wanita yang sedang menutup tubuhnya dengan selimut itu terbaring.
"Yakin kamu bisa?" tanya Kalina menatap anak muda yang berdiri dan menatap dirinya.
"Ya akan aku coba, emangnya yang sakit sebelah mana? Tadi pantatnya membentur lantai enggak?" tanya Wildan.
"Enggak sih, cuma ini bagian paha ke bawah sakit banget. mungkin ototnya ada yang cedera," mendengar jawaban dari Kalina, sontak Wildan merasa kesusahan menelan ludahnya sendiri. Dia tidak tahu kalau yang sakit adalah bagian paha dari pinggang ke bawah. Mau mundur, tapi Wildan sudah terlanjur memberi penawaran unttuk menolong.
"Kalau Mbak berkenan di pijat saya ya, saya akan berusaha memijat semampu saya, Mbak," ucap Wildan dengan dada yang tiba tiba ada gemuruh yang cukup kencang.
__ADS_1
"Ya sudah, nih," Kalina memberikan botol minyak pijat kepada Wildan. setelah itu dia kembali berbaring dan merapatkan tubuhnya dengn selimut karena memang dia belum sempat mengenakan pakaian sejak keluar dari kamar mandi.
Wildan perlahan menurunkan tubuhnya dan duduk di tepi kasur. Dengan mencoba bersikap biasa saja, Wildan langsung membuka penutup botol dan mengeluarkan beberapa tetes isinya. "Ini aku selimutnya buka sedikit ya, Mbak," pamit Wildan dan Kalina hanya mengangguk pasrah dengan mata terpejam.
Wildan menyingkap sedikit selimut yang menutupi kaki kalina. Seketika hati pemuda itu berdesir tatkala di hadapannya terpampang secara nyata, paha putih nan sangat mulus. Dengan segala perasaan yang bergemuruh, Wildan mencoba menahan gejolaknya saat tangannya mulai menyentuh kulit paha tersebut. Pelan tapi pasti, Wildan memberi pijatan dari atas lutut hingga ke pangkal paha.
Saat tangan wildan bergerak ke atas, pemuda itu merasakan jari jarinya juga menyentuh bagian tepi dari sebuah benda yang terletak diantara paha wanita itu. Jari Wildan dengan jelas merasakan menyentuh bulu builu halus yang sedang tumbuh di sana. Dengan sekuat tenaga, Wildan menahan hawa liar seorang pria yang seperti sedang menuntut untuk berbuat yang lebih dari itu
"Gimana, Mbak? apa udah enakan?" tanya Wildan memecah keheningan yang berlangsung sejak dia mulai memberi pijatan.
"Ya syukurlah kalau udah enakan," balas Wildan merasa senang. "Mana lagi Mbak yang sakit? Mumpung adikku lagi nggak rewel."
"Sebelah situ, Mas," Kalina hanya menjawab tapi tidak menunjukan letak tubuhnya yang sakit hingga Wildan merasa bingung.
__ADS_1
"Sebelah mana, Mbak? Kaki?" tanya wildan memastikan. Kalina tidak menjawab tapi salah satu tangannya bergerak dan menunjukkan bagian tubuh yang terasa sakit. Mata Wildan sontak membulat menatap arah tunjuk Kalina. Bagaimana mungkin yang sakit malah bagian tubuh yang letaknya antara paha dan lubang nikmat milik wanita itu.
"Yakin, Mbak, disitu yang sakit? Emang tadi jatuhnya gimana sih?" tanya Wildan yang masih dalam keadaan terkejut.
"Tadi jatuhnya itu kaki aku membentang, Mas."
"Owalah, pantas. Jadi aku boleh menyentuh bagian itu, Mbak?"
"Ya gimana lagi sih, Mas? Namanya juga orang mijat. Katanya sudah biasa mijat orang?" ucapan Kalina terdengar kesal.
Wildan sontak cengengesan. "Tapi aku kan mijatnya tubuh laki laki, Mbak. Baru kali ini loh aku mIjat tubuh cewek. Sekalinya mijat malah cewek yang masih muda."
"Ya udah sih cepat pijat, pegal tahu," Kalina terlihat tak sabaran. Mau tidak mau Wildan pun kembali meneteskan minyak untuk pijat ketelapak tangannya lalu meminta kalina membentangkan kaki yang sakit sedikit agar terbuka dan mudah untuk di sentuh bagian yang sakit.
__ADS_1
Masih dengan jiwa laki laki yang meronta ronta, Wildan langsung memberi pijatan lembut pada bagian tubuh yang terletak diantara paha dan lubang wanita. Tangan Wildan memang fokus pada pijatannya, tapi mata pemuda itu malah fokus pada gundukan daging terbelah yang ditumbuhi rerumputan tipis sedikit menyembul dari balik selimut yang menutupinya.
...@@@@@...