
"Angela!" pekik Rafi. Suaranya tercekat dengan mata yang agak menyipit. Melihat seorang pria dengan menggendong tubuh wanita yang terkulai lemas di pundaknya, membuat Rafi yakin kalau tubuh wanita yang ada dalam gendongan pria iu adalah Angela. Sebab, pada arah yang Rafi tuju, hanya ada satu kamar yaitu kamar yang digunakan anak perempuan moreno. Pria itu melalui jalan yang lain jadi tidak tahu kalau Rafi melihatnya.
Tempat yang di sewa Moreno memang konsepnya terpisah pisah semacam bungalo yang berisi satu kamar tidur. Arah masuknya juga ada tiga jalan karena tiap petak kamar istirahat, menghadap ke pemandangan alam yang berbeda dan hal itu menjadi daya tarik tersendiri tempat penginapan tersebut. Makanya, jalan masuk ke tempat itu ada tiga tempat.
Rafi begitu terkejut dan untuk beberapa saat, dia bingung harus melakukan apa saat ini. Jika memberi tahu Moreno, Rafi bisa saja kehilangan jejak orang yang menggendong tubuh Angela. Tapi jika langsung mengikuti Angela, Moreno dan yang lain pasti akan bertanya tanya.
Beruntung tak lama setelahnya. Rafi ingat dengan tas slempang yang selalu dia bawa dan isinya beberapa barang milik Rafi. Seketika pemuda itu memutuskan untuk mengikuti orang tersebut dan akan memberi kabar keluarganya belakangan. Rafi bergerak cepat mengikuti orang yang ternyata setelah beberapa langkah, ada satu orang lagi dengan membawa senjata api, mengawal orang yang mengangkat tubuh Angela.
"Sial! Dia pakai mobil!" umpat Rafi begitu orang yang diikuti masuk ke dalam mobil yang terparkir di tempat tersembunyi tapi jaraknya dekat dengan tempat menginap. dan anehnya di jalan yang dilalui orang itu tidak ada petugas hotel satupun yang terlihat.
__ADS_1
Tak lama setelah mobil musuh bergerak, Rafi melihat sebuah sepeda motor mendekat. Rafi langsung saja menghadangnya hingga motor itu berhenti. "Mas, bisa minta tolong ngikutin mobil itu nggak, Mas? Teman saya dalam bahaya sekarang!" pinta Rafi dengan nada cepat.
"Waduh, gimana ya?" Orang itu nampak kebingungan. Bukannya tidak mau menolong, tapi orang itu takut kena tipu karena di jaman sekarang ini banyak kasus penipuan dengan berbagai cara.
"Tolong lah, Mas, teman aku dalam bahaya itu," Rafi terus memohon dan saat itu juga dia teringat dengan tas slempang kesayangannya. Rafi langsung membuka isinya dan dia mengambil uang satu gepok yang memang sengaja Rafi sediakan jika membutuhkan uang cash. "Nih, Mas sepuluh juta. Aku pinjam motornya, gimana?"
"Ini uang asli?" mata orang itu langsung berbinar.
Setelah melakukan negossiasi dengan cepat, akhirnya motor itu bisa Rafi pinjam. Dengan kecepatan yang cukup tinggi Rafi langsung melajukan motornya mencari mobil yang membawa Angela. Tak butuh waktu lama, mobil itu sudah terlihat. Selain karena jalanan yang sepi, bentuk mobil yang membawa Angela juga mudah dipahami karena mobil itu bukan mobil keluaran jaman sekarang.
__ADS_1
"Mereka akan membawa Angela kemana? Dan siapa mereka? Nggak mungkin kan itu musuh musuh aku, anak buahnya Moreno?" gumam Rafi dengan mata terus fokus menatap ke arah mobil yang melaju dengan kecepatan sedang.
Di dalam mobil, dua orang yang menculik Angela tidak sadar kalau mereka sedang diikuti. Mungkin karena jalanan yang gelap dan juga jalan yang mereka lalui kebanyakan kendaraaan jenis sepeda motor yang berlalu lalang, membuat dua orang asing itu tidak mencurigai kalau salah satu motor yang ada di belakang mobil sedang mengikuti mereka.
Mereka adalah dua orang asing, anak buah saingan bisnis Moreno yang sengaja dikirim untuk melakukan misi khusus, untuk menghancurkan kerajaan bisnis milik Moreno. Wajar jika mereka bisa dengan mudah mengikuti kemana Moreno pergi, karena mereka punya dukungan dan akses yang cukup baik. Bahkan mereka tahu kemana Morreno saat ini juga karena sebuah alat penyadap yang mereka pasang pada benda milik salah satu anak Moreno saat pesta kemarin.
Setelah hampir memakan waktu lebih dari tiga puluh menit, akhirnya mobil yang diikuti Rafi, berhenti di suatu tempat. Kening Rafi berkerut saat mobil itu memasuki bangunan dengan gerbang yang cukup tinggi dan tidak berpenjaga. Bangunan tersebut juga terletak di tempat yang tidak terlalu ramai dengan penduduk. Mungkin karena ini adalah daerah pedalaman jadi rumah penduduknya masih sangat jarang.
Sebelum bergerak, Rafi meraih ponselnya terlebih dahulu untuk memberi kabar kepada Moreno. Tapi sayang, sinyal di ponsel Rafi tidak muncul satupun. Rafi pun sediikit merasa kesal. Namun tak lama setelahnya, Rafi bisa mengendalikan dirinya agar bisa bersikap tenang.
__ADS_1
"Sepertinya aku memang harus menghadapi mereka sendirian. baiklah, siapa takut!"
...@@@@@...