
Hari kini berganti lagi dan hari ini Rafi sudah bangun lebih pagi. Selain karena tugas yang biasa dia lakukan di pagi hari, Rafi juga ingin menyempatkan diri mengantar wanita yang sudah bersedia menyerahkan segalanya demi menolong orang tua. Pagi ini Nadia memang harus berangkat kembali ke kampungnya.
"Jangan lupa ngasih kabar jika sudah sampai kampung," ucap Rafi saat ojek yang akan membawa Nadia ke terminal sudah menunggunya.
Nadia tersenyum lalu mengangguk. "Baik, kamu pasti orang pertama yang akan aku kasih kabar jika ada apa apa disana."
Rafi lantas ikut tersenyum. "Semoga segalanya berjalan lancar ya? Ya sudah, sana berangkat, nanti ketinggalan bis."
"Oke, salam buat Mbak Marisa ya?"
Rafi mengangguk dan mereka saling berjabat tangan. tak selang berpa lama ojek yang mengantar Nadia meluncur. Begitu Nadia menghilang dari pandangan, Rafi kembali menuju post jaga dan berniat hendak berbaring kembali.
Di dalam kamar yang sama terlihat Marisa memang masih terlelap dala tidurnya. Rafi hanya tersenyum tipis lalu dia membaringkan tubuhnya di sebelah Marisa dan memeluk erat pinggang wanita itu. Meski keduanya tidak ada hubungan spesial, tapi berdasarkan perlakukan Marisa yang selalu menempel pada Rafi, membuat pemuda itu sekarang tidak canggung lagi memperlakukan wanita itu layaknya pasangan sendiri.
__ADS_1
Rafi masih teringat saat dirinya pacaran dengan Arinda, tidak pernah sekalipun dia berpelukan dengan wanita itu. Bahkan saat kencan pun arinda memilih waktu dan tempat yang tidak biasanya, misal siang hari minta ketemu di pasar, atau menjelang maghrib minta ketemu di pinggir jalan yang agak sepi. Jarang sekali mereka mengumbar hubungan mereka di depan umum.
Maka itu dengan adanya Marisa dan beberapa wanita yang pernah tidur dengan Rafi, membuat pemuda itu sangat menikmati suasana seperti ini. Rafi sendiri sebenarnya juga masih penaasaran dengan wanita yang sedang dia peluk. Dari pembicaraan yang terjadi semalam, Marisa belum memberi kejelasan kalau wanita itu masih segel atau tidak.
Di saat Rafi sedang menikmati suasana di dalam kamar, tiba tiba dia mendengar ada suara seseorang yang memanggil. Rafi segera menyahutnya dan tanpa pikir panjang pemuda itu segera keluar dari kamarnya.
"Loh, Pak Madi!" pekik Rafi saat matanya menangkap sosok laki laki yang bekerja sama untuk membongkar kejahatan seseorang. "Pagi pagi bapak kesini? apa ada masalah?"
Pria yang baru berusia tiga puluh tahun itu lantas duduk dengan wajah sedikit pucat. "Sepertinya aku sudah tidak aman mematai matai mereka, Fi. Sudah ada yang curiga karena tugas mereka semalam gagal."
Madi mengangguk dan dia menyerahkan ponselnya serta sebuah memori ponsel. "Di sini ada transaksi yang sudah terjadi antara bos Bawor dan Tuan Sergio. Ada juga beberapa infromasi tentang keluarga Sergio yang mungkin kamu butuhkan. Apa kamu tidak apa apa, bekerja sendirian?"
"Tidak masalah," balas Rafi dengan sangat yakin. "Nanti biar aku mencari bantuan lewat keluarga Tuan Alexander."
__ADS_1
"Aku kira itu ide yang bagus. kalau begitu apa boleh aku numpang istirahat disini sampai nanti aku berangkat ke tempat istri dan anakku berada?"
"Silakan saja," Rafi lalu menunjukkan kamar yang bisa di pakai oleh pria beranak satu tersebut. "Oh iya, Pak, memang Sergio tahu darimana kalau anak dan istri Tuan Alexander kemarin ada di rumah?"
"Dapat info dari temannya istri Sergio. Tanpa sengaja dia melihat Istri Alexander di bandara saat temannya sedang menyambut kedatangan keluarganya. Temennya istri Serrgio tidak tahu kalau keluarga itu sedang dalam konflik berat."
Rafi manggut manggut tanda mengerti. "Aku pikir ada pengkhianat di dalam keluarga Alexander."
"Kemungkinan tidak ada. Menurut informasi yang saya tahu, Tuan Alexander tidak memiliki musuh. Baiklah aku istirahat dulu, terIma ksih atas tumpangannya."
Rafi mengangguk. Begitu Madi pergi, Rafi langsung memeriksa ponsel yang dia terima dari pria itu. Rafi juga memasukkan kartu memory ke dalam ponsel tersebut. Dari sana Rafi tahu apa saja yang kemungkinan bisa digunakan untuk membuat Sergio lemah dan tidak bisa berkutik.
Dalam kartu memory tersebut, Rafi juga memperhatikan beberapa foto dan pandangan Rafi terpaku pada sebuah foto keluarga yang terlihat sangat bahagia. Hati Rafi berdesir, dia sangat mengenali dua wajah yang ada di dalam foto tersebut. Karena foto itu pula tumbuh tanya dalam hati Rafi. "Apa mereka saling kenal?"
__ADS_1
...@@@@@...