
"Gimana? Masih percaya dengan perkataan orang?" tanya Rafi pada wanita yang sedang berada dalam dekapannya. Rafi merasakan ada gelengan kepala dalam dadanya dan seketika senyum Rafi terkembang sempurna. Wanita dalam pelukan Rafi juga nampak tersenyum karena terkaannya salah. Hal itu membuatnya cukup malu.
Ya, saat ini Rafi dan Dinda sedang melepas lelah setelah permainan mereka usai dengan ditandainya Rafi menyemburkan benih di dalam lubang nikmat Dinda. Dengan berakhirnya hubungan ranjang keduanya, Rafi bisa membuktikan kalau ketakutan wanita itu salah. Sejak mahkota milik Dinda berhasil dijebol Rafi, tak lama kemudian wanita itu mengeluarkan suara keenakan akibat sodokan yang dilakukan lawan mainnya.
Bahkan dari penyodokan yang Rafi lakukan, tubuh Dinda sempat menegang beberapa kali. Maka itu saat mereka saling menempelkan tubuh, Rafi melempar pertanyaan untuk memastikan hilangnya ketakutan yang sempat membuat Dinda panik.
"Emangnya dengan uang nanti, kamu mau beli rumah dimana? Harga rumah di kota pasti sangat mahal, Din?" sama seperti kepada wanita lainnya, jika selesai berhubungan badan, Rafi pasti akan kembali nama asli si wanita, bukan memakai kata sayang lagi, seperti pada saat melakukan hubungan badan.
"Ya nanti aku cari di beberapa iklan. Ada sih beberapa rumah yang terdiri dari tiga petak, di pinggiran kota. Aku rasa itu lebih baik. Dari pada aku harus berdesak desakan dalam kontrakan yang hanya terdiri dari dua petak saja," ucap Dinda yang tangannya sesekali meraba dada bidang Rafi. Selama berhubungan badan, Dinda memang sangat mengagumi keindahan tubuh pria itu.
"Kenapa nggak coba cari di kampung saja? Dengan seratus juta, bisa mendapat rumah yang lebih luas loh," Rafi mencoba memberi masukan.
__ADS_1
"Penginnya sih gitu, Mas. Tapi kan aku sendiri nggak pernah ke kampung."
Rafi terdengar bergumam sambil mengangukan kepalanya beberapa kali. "Tapi apa nanti orang tua kamu nggak curiga kamu dapat uang banyak darimana? Nanti mereka malah tidak terima,bagaimana?"
"Aku tahu, Mas, mungkin mereka akan marah. Tapi aku yakin orang tuaku juga tidak punya pilihan lain lagi selain mau menerimanya. Biar bagaimanapun mereka juga butuh tempat untuk berlindung."
Rafi kembali bergumam, tidak ada lagi perkatan yang bisa Rafi ajukan untuk ditanyakan. Akhirnya mereka hanya saling berpeluk untuk melepas lelah. Di saat itu juga Rafi mendengar kalau ponsel jadulnya berdering. Rafi tahu, ada laporan masuk dari sistem. Rafi memilih mengabaikan pesan tersebut. karena Rafi tahu, pasti itu hanya pemberitahuan tentang masuknya sejumlah hadiah dan jika ada tambahah, paling hadiah misterius.
"Mas," suara Dinda kembali menggema setelah memecah suaasana hening yang tercipta beberapa menit yang lalu.
"Hum?" sahut Rafi dengan mata tertutup dan gerakan tangan yang sedang membelai rambut Dinda pun terhenti.
__ADS_1
"Aku boleh nggak menciumi tubuh kamu?" mata Rafi sontak terbuka dan langsung menatap wanita yang juga saat ini sedang menatapnya.
"Tentu saja boleh, Sayang. Lakukanlah sesukamu mumpung banyak waktu," balas Rafi lalu dia meletakan kedua telapak tangannya di belakang kepala sebagai bantal.
Senyum Dinda juga langsung terkembang. Perlahan tapi pasti, tubuh wanita itu berganti posisi menjadi merangkak dan mengungkung tubuh Rafi. Tanpa Ragu dan rasa malu seperti di awal berhubungan badan, wanita itu langsung menempelkan bibirnya pada bibir Rafi dan tentu saja, Rafi menyambutnya dengan penuh semangat.
Usai memainkan bibir Rafi, Dinda mulai menempelkan bibirnya di leher Rafi beberapa kali lalu perlahan turun ke bawah. Saat bibir Dinda sampai pada dada Rafi, wanita itu memainkan pucuk dada Rafi hingga pemuda itu benar benar merasakan sensasi yang luar biasa. Bahkan Rafi langsung bergelojak kembali sampai batang yang sedari tadi terkulai lemas kembali menegang.
Yang dilakukan Dinda saat ini tidak hanya sampai dada saja, dia lalu mengerakan bibirnya sampai mengecup beberapa kali perut rata milik Rafi. Wanita itu benar benar menikmati setiap inci tubuh pria yang dia kagumi. Hingga gerakan bibir Dinda berhenti pada benda berumput tebal yang sudah sangat menegang.
Tanpa perlu meminta ijin lagi, wanita itu langsung melahap batang dan dua kantung telur di bawahnya tanpa rasa jijik. Rafi melihat kalau Dinda kali ini lebih agresif daripada tadi saat akan melakukan hubungan badan ronde pertama. Dengan keagresifan yang ditunjukan Dinda, Rafi yakin sebentar lagi ronde kedua akan segera di mulai.
__ADS_1
...@@@@@@...