SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Kemarahan Marisa


__ADS_3

"Mereka siapa?"


Rafi menoleh, ternyata Marisa juga sedang memperhatikan dua orang yang sedang berada di depan gerbang tempat kost. "kamu lihatin mereka juga?"


Kini Marisa memandang Rafi. "Apa mereka orang suruhan Om Sergio?" bukannya menjawab, Marisa malah melempar pertanyaan yang membuat Rafi mengangkat kedua pundaknya sebagai jawaban kalau Rafi tidak tahu.


"Ah, aku tahu!" Tiba tiba Rafi teringat sesuatu. "Kamu disini dulu ya? Aku harus melakukan sesuatu. Mending kamu ngumpet ke dalam sana."


Meski penasaran, Marisa memilih menuruti perintah Rafi. Wanita itu masuk ke dalam lapak pedagang gorengan dan memperhatikan Rafi dari sana. Terlihat di depan gerbang, Rafi nampak sedang berbincang dengan dua orang pria. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, tapi tak lama kemudian, dua orang itu pergi. Setelah mendapat gorengan yang dipesan, Marisa langsung saja meleasat menyusul Rafi.


"Tadi siapa?" tanya Marisa saat mereka kini sudah duduk di post jaga.


"Orang suruhan Sergio. mungkin mereka mencari orang yang berkhianat sama mereka," jawab Rafi sambil mencomot bakwan satu biji.


"Mereka tidak mencariku?" Marisa lebih memilih menikmati tahu isi.


Rafi menggeleng. "Mungkin mereka tidak tahu kalau kamu ada disini. Mereka mencari orang yag memang bersembunyi disini."

__ADS_1


"Apa!" seru Marisa nampak terkejut. Dia bahkan berhenti mengunyah dan menuntut penjelasan dari pria di hadapannya. Tapi sebelum Rafi menjelaskan tentang ucapannya, pria yang akan Rafi ceritakan malah muncul dan menghampiri mereka.


"Bapak ini yang dicari oleh dua orang tadi," ucap Rafi dan sontak saja membuat keduanya bingung.


"Maksudnya?" tanya Madi dan Mariisa hampir bersamaan.


Rafi terkekeh lalu dia menjelaskan ke masing masing pihak tentang dua orang yang tidak saling kenal itu. Madi dan Marisa seketika terkejut Begitu Rafi mengatakan semuanya.


"Jadi kamu yang mencelakai ayahku? hah!" bentak Marisa saat Rafi belum selesai menceritakan tentang pria itu. "Berani beraninya kamu muncul dan bersembunyi di sini!"


"Bukan!" bantah Madi. "aku tidak ikut penyerangan yang menimpa ayah kamu."


"Astaga! Marisa!" Rafi malah membentak wanita itu hingga Marisa terbungkam dan terperengah lalu menatap nyalang pemuda yang baru membbentaknya.


"Kamu ngebentak aku, Fi? Hah! Gara gara orang seperti ini, kamu bentak aku!" Marisa terlihat semakin emosi. "Apa jangan jangan kamu juga kerja sama dengan orang ini untuk menangkapku? Astaga! bener bener bodoh aku!"


"Bukan begitu, de ..." ucapan Rafi terpotong karena Marisa lari begitu saja keluar dari tempat kost. "Marisa!" Rafi langsung mengejarnya. Sedangkan Madi hanya bisa mematung dan bingung, tidak bisa melakukan sesuatu.

__ADS_1


"Marisa!" Rafi masih berteriak sembari mengejar Marisa yang sudah menyeberang jalan dan tak lama setelah itu Marisa naik ojeg yang mangkal di daerah itu lalu langsung pergi begitu saja. "Marisa, Tunggu! Astaga!"


Rafi terlihat frustasi. Langkahnya terhenti karena wanita itu sudah pergi jauh menggunakan ojeg. Rafi tidak mungkin bisa mengejar karena tempat kost tidak ada yang jaga. Dengan langkah gontai, Rafi kembali ke post jaga.


"Harusnya tadi aku tidak keluar kamar," ucap Madi begitu Rafi sudah berada di tempat semula. "Seandainya aku tahu kalau wanita itu anak Alexander, aku memilih diam."


"Sudahlah. Bapak tidak salah. Wajar kalau Marisa bertindak seperti itu. Ayahnya masih belum sadarkan diri dan hidupnya memang sedang terancam."


"Lalu wanita itu pergi kemana? Apa tidak bahaya membiarkan dia pergi sendirian?"


"Kita tunggu aja ojeg yang membawanya pergi. Ojegnya biasa mangkal di sana. Nanti biar aku yang cari tahu."


Madi terlihat begitu lega. Berarti ada jejak yang bisa melacak keberadaan Marisa. Madi lantas menceritakan tujuannya menemui Rafi dan sesuai kesepakatan, Rafi pun memberikan alamat istri dan anak pria itu. Rafi juga nitip pesan pada Madi, agar pria itu turut menjaga Kalina yang sekarang hidup bersama anak istrinya. Setelah mendapatkan apa yang dia mau, Madi lantas pergi dari tempat itu dan bersiap diri untuk berangkat menyusul anak istrinya.


Setelah Madi pergi, datang beberapa orang yang membawa belanjaan kebutuhan kamar dan juga motor yang Rafi beli. Karena hati Rafi sedang kacau, barang barang tersebut ditaruh terlebih dahulu di salah satu kamar kosong yang akan digunakan Rafi.


Hingga beberapa jam kemudian, anak muda yang akan bekerja mengganikan Rafi pun datang. ternyata benar, anak muda bernama Wildan itu membawa seorang adik perempuan yang masih sangat kecil. Kata Wildan usianya mau menginjak angka empat tahun. Karena sudah ada Wildan di sana, Rafi pamit sejenak untuk pergi mencari Marisa.

__ADS_1


...@@@@@@...


__ADS_2