SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Jalan Jalan


__ADS_3

Seperti yang sudah dibicarakan, kini Rafi juga melibatkan Wildan dalam rencananya untuk membantu menyelesaikan masalah yang menimpa Kalina. Jika bukan karena Rafi sekarang harus belajar tentang perusahaan yang akan dia pimpin, mungkin Rafi sendiri yang akan turun tangan mengatasi masalah wanita itu. Tapi sekarang keadaannya berbeda, maka itu Rafi memilih sosok lain yang kemungkinan bisa membantu Kalina.


"Aku harus berpura pura menjadi kekasih Mbak ini, Bang?" tanya Wildan begitu Rafi menceritakan tujuannya memanggil dia untuk datang ke kamar Kalina. Sedangkan adik wildan terdiam dipangkuan kakaknya.


"Iya, nanti kalian bersandiwara senatural mungkin agar seperti pasangan sungguhan," ucap Rafi. "Untuk urusan mobil, nanti biar aku yang sediakan, gimana?"


"Aku sih nurut kamu aja, Fi. Enaknya gimana," jawab kalina yang memang sudah pasrah.


"Lah nanti urusan kost gimana. Bang? Siapa yang jagaain?" tanya wildan.


"Ya nanti biar aku yang jaga sementara. nanti kalau urusan sudah selesai, kalian bisa secepatnya pulang."


"Ya udah kalau keputusan Bang Rafi kayak gitu ya aku nurut aja."


"Baguslah. nanti pelaksanaanya nunggu Kalina sembuh aja dulu. Kalau dia butuh apa apa, kamu bantuin ya, Dan."


Siap, Bang."

__ADS_1


Akhirnya musyawarah pun selesai. begitu terjadi kesepakatan dan pembicaraan berakhir, Rafi memilih pamit pergi meninggalkan area kost. Selain ingin beristirahat, Rafi juga tidak enak jika nanti Marisa mencarinya. Soalnya saat ini wanita itu tidak ada aktifitas lain dan seharian berada di dalam rumah.


Sedangkan Wildan dan Kalina kembali membahas tentang rencana yang baru saja mereka bicarakan. Dari rencana itu, Wildan jadi tahu kalau nasib wanita yang sekarang sedang bersamanya, ternyata cukup memprihatinkan. Tidak beda jauh dengan nasib yang Wildan alami.


"Berarti kita sama sama tidak memiliki orang tua ya, Mbak?" ucap Wildan yang sesekali memperhatikan sang adik yang sedang digangguin oleh Kalina.


"Jangan panggil aku Mbak sih. Biar kelihatan akrab, panggil Kalina saja," protes Kalina.


Wildan seketika terkekeh. "Hehehe ... Tapi, Bang Rafi kok baik banget ya sama orang orang seperti kita?"


"Hahaha .. benar. aku aja kaget. Kok masih ada orang baik kayak dia. nolong kayak nggak ada beban. Kamu nggak pengin jadi pacarnya?"


Kalina tersenyum tipis lalu merubah posisi duduknya dengan posisi yang lebih nyaman. "Wanita mana yang nggak ingin jadi kekasih dia, Wil. ganteng, baik, dan sekarang kaya raya. Aku juga mau punya cowok kayak gitu. Tapi belum tentu juga Rafi mau sama cewek kayak aku. Lagian enakan bersahabat kayak gini sih."


Kini Wildan yang gantian tersenyum. "Yah, kamu benar juga." setelah itu keduanya tidak ada pembicaraan lagi selain suara Kalina yang mencoba berinteraksi dengan adiknya Wildan. Pemuda itu juga sangat merasa bersyukur, karena dipertemukan dengan pria bernama Rafi.


Sementara itu setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, Rafi sudah sampai di kediamanya barunya. Kedatangannya langsung di sambut oleh Marisa yang sedari tadi menghabiskan waktu bersama para asisten di rumah itu. Karna sifatnya yang mudah bergaul, menjadikan Marisa bisa cepat akrab dengan para pekerja yang ada di rumah itu.

__ADS_1


"Fi, kita jalan jalan yuk? Suntuk aku di rumah mulu," ucap Marisa yang saat ini sudah berada di kamar Rafi dan menyaksikan pemuda itu melepas jass dan dasinya serta sepatu juga jam tangannya.


"Jalan jalan kemana?" tanya Rafi yang kini sedang melepaskan kancing kemeja putihnya satu persatu sembari duduk di samping ?arisa.


"Ya kemana, ke mall kek. Cuma jalan jalan doang."


"Baiklah, kalau gitu aku mandi dulu yah?"


"Nggak mandi bareng?" tanya Marissa sambil cengengesan.


"Halah kayak kamu berani aja. Udah sana kamu siap siap," usir Rafi sembari dia bangkit dan beranjak menuju kamar mandi yang ada di sana. Marisa sontak tertawa cukup keras sembari beranjak pergi ke kamarnya untuk mandi dan sebagainya.


Selang beberapa waktu kemudian, Rafi dan Marisa meluncur ke salah satu super mall yang letaknya tak jauh dari kediamaan mereka. Sesuai dengan rencananya, disana mereka hanya berjalan jalan santai mengitari beberapa stand yang ada di mall terssebut. sesekali mereka juga masuk ke beberapa toko tapi hanya melihat lihat saja, tak ada niat membeli barang satupun.


Rencana Rafi dan Marisa memang seperti itu, hanya jalan jalan saja menikmati suasana yang berbeda. Setelah merasa cukup lelah, mereka memutuskan istirahat di sebuah cafe yang ada di mall tersebut. Tanpa mereka sadari, di dalam cafe tersebut ada mata yang menatap ke arah mereka dengan tatapan terkejut hingga matanya membelalak.


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2