
Raut wajah terkejut saat ini terlihat jelas dari orang orang yang ada di sebuah ruangan khusus, yang tersedia disalah satu restoran yang cukup mewah. Semua orang yang terdiri dari satu keluarga itu, nampak kaget dengan informasi yang baru saja mereka dengar dari salah satu orang yang baru menjadi anggota keluarganya selama lima tahun terakhir.
"Kamu yakin? Rafi yang saat ini bersama dengan Moreno itu anaknya Mail?" tanya seorang wanita yang usianya paling tua diantara para wanita yang ada di ruangan tersebut.
Pria bernama Sergio yang menjadi menantu dari wanita itu mengangguk dengan pasti. "Orang suruhanku sudah menyelidikinya dengan sangat akurat, Bu. Rafi adalah anak dari supir yang bekerja di rumah adikku, si Alexander. Sayangnya dia sudah meninggal saat adikku dirampok," balas Sergio tanpa mengakui kalau dialah dalang dibalik perampokan yang menimpa adik kandungnya.
"Baguslah!" suami dari wanita tua itu malah terlihat senang dengan berita yang baru saja disampaikan menantunya. "Dengan begitu, kita bisa memanfaatkan keadaan Rafi untuk membantu membesarkan perusahaan kita. Lagian dia tidak mengetahui kalau ayahnya bukan anak kandung kita, jadi ayah harap, kalian juga jangan membocorkan berita tentang ini."
Wajah wajah orang yang ada disana, terlihat sama reaksinya dengan pria tersebut. Tidak ada yang merasa kehilangan dengan berita meninggalnya Mail. Yang ada dalam pikiran mereka adalah keuntungan yang akan mereka dapatkan dengan keadaan Rafi yang sekarang.
"Tapi, bagaimana caranya kita menunjukkan kalau kita adalah keluarga Rafi, Bak?" tanya Sonya, memantu keluarga itu.
__ADS_1
"Ya gampang. Kita masih punya foto ayahnya Rafi. Tinggal merangkai kata kata yang pas aja untuk meyakinkannya," jawab kepala keluarga yang usianya sudah tua tapi masih memikirkan harta dan kedudukan saja.
"Tapi, apa Rafi tidak dendam dengan perbuatan kita? Bukankah perlakuan kita dulu ke orangtuanya bagaimana?" kini istri dari pria tua itu yang melempar pertanyaa.
"Emang dulu apa yang ayah dan ibu lakukan sama orang tuanya Rafi?" tanya Lupita yang tidak sepenuhnya ingat dengan kejadian tempo dulu. Karena pada saat orang tua Rafi dihina oleh orang tuanya, Lupita saat itu masih sekolah bersama Burhan.
"Tidak perlu dipikirkan. Rafi pasti tidak ingat dengan kejadian itu," bukannya menjawab pertanyaan sang anak, pria tua itu malah menganggap remeh dengan keadaan yang ada. Dari pembicaraan yang terjadi di sana, jelas sekali mereka akan melakukan sesuatu yang pastinya sangat menguntungkan mereka semua dengan keyakinan yang cukup tinggi.
Sementara itu di lain tempat, di saat malam sudah menjelang, Rafi sedang mengahabiskan waktu bersama Marisa dan juga Moreno, di teras belakang rumah. Mereka saat ini sedang membicarakan pesta mewah yang akan mereka selenggarakan dalam waktu dekat ini. Meskipun Moreno sudah menyerahkan segala urusan ke asisten dan sekretarisnya, tapi pria itu tetap membahas apa saja yang akan dia lakukan bersama Rafi saat acara itu berlangsung.
Rafi sontak cengengesan. "Hehehe ... namanya juga lupa, Dad. Lagian dari kemarin kan banyak tugas yang harus aku lakukan. Tadi siang aja aku harus menghadapi orang orang yang akan mengusir penghuni panti."
__ADS_1
Moreno nampak mengangguk mengerti. Kalau soal Rafi yang berkelahi, Moreno sudah mendengar ceritanya dari anak itu tadi setelah makan malam. Tapi untuk berita dari Madi, Moreno memang baru mengetahunya saat ini. "Lalu, apa yang akan kamu lakukan untuk menghadapi keluarga ayah kamu?"
"Kita lihat saja nanti, Dad. Apa yang akan mereka lakukan. Baru, setelah itu, aku akan ngambil tindakan."
"Kok aku ngerasa aneh ya dengan tindakan keluarga kamu, Fi," kini Marisa kembali mengeluarkan suaranya setelah tadi sempat terdiam dan hanya jadi pendengar saja. "Perlakuan mereka ke ayah kamu itu kayak bukan ke anak kandung loh."
"Kenapa kamu bisa mikirnya gitu, Sha?"
"Gini, kamu tahu Om sergio kan? Dia itu jahat, nakal, licik sejak nenek dan kakekku masih hidup, tapi Nenek dan Kakekku tidak pernah sampai memutuskan hubungan darah. Bahkan saat Om sergio selingkuh dengan wanita yang nenek tidak suka, nenek tetap memanggapnya sebagai anak. Kalau nenek dan kakek kamu itu sangat berlebihan."
Rafi tercenung mendengar ucapan wanita yang duduk di sebelahnya. Jelas saja kalau pikirannya saat ini terusik dengan apa yang Marisa ucapkan tadi.
__ADS_1
"Apa perlu orang orang Daddy menyelidiki latar belakang ayah kamu, nak?"
...@@@@@@...