
"Apa kita mau main sekarang?"
Rafi yang baru saja akan mendaratkan pantatnya di atas lantai dekat pintu kamar, sontak saja gerakannya terhenti. Matanya lekat menatap wanita yang sekarang sedang cengengesan dan kelihatan makin cantik. "Yang benar saja. Kita belum mandi, belum sarapan, masa langsung main."
"Mandi sama sarapannya nanti saja setelah kita main. Lagian kamu kenapa malah tidur di sofa? Kalau kita mainnya siang, namanya bukan malam pertama dong," balas Lingze. Rafi hanya menggelengkan kepalanya karena merasa heran dengan wanita yang terlihat sangat antusias tersebut. Kini pantat Rafi telah menempel pada lantai dan kakinya lurus ke depan karena baru selesai melaksanakan tugasnya.
"Kamu kok kayak semangat banget? Jangan jangan kamu sudah nggak bersegel?" terka Rafi. Lingze malah tersenyum begitu lebar. Wanita keturunan dari negeri tirai bambu itu lantas merangkak mendekat Rafi dan duduk di atas pangkuan pria yang wajahnya mendadak menegang. "Apa yang kamu lakukan?"
Lingze masih tersenyum dan kedua tangannya bergerak melingkar di leher pria yang sekarang sedang salah tingkah dengan perasan yang tidak menentu. "Kalau kamu meragukanku, kenapa kamu nggak coba sekarang saja?"
"Tapi .."
Saat Rafi hendak berkata, mulut pria itu langsung ditutup oleh tangan Lingze. "Tidak perlu bertele tele, kalau kamu mau membuktikannya, buktikan saja sekarang!"
Rafi terdiam. Matanya lekat menatap wanita yang tersenyum menggoda kepadanya. Lingze menggunakan kesempatan itu mendekatkan wajahnya lalu menempelkan bibirnya pada bibir Rafi. Walapun pemuda itu masih diliputi rasa bingung tapi lama kelamaan Rafi larut dalam gerakan nikmat bibir Lingze dan dia juga membalas gerakan bibir Lingze.
"Kalau kamu sudah sangat ingin melakukannya, kenapa kamu tidak menyerahkannya kepada pacarmu?" tanya Rafi beberapa menit kemudian begitu bibir mereka terlepas.
"Aku pikir juga seharusnya aku begitu. Tapi saat tahu tubuh sahabatku juga disentuh pacarku, lalu, kenapa aku harus bodoh menyerahkan segalanya kepada pria seperti itu?"
"Apa pacar kamu tidak memiliki teman cowok? kamu kan bisa membalas lewat teman kamu juga?" Rafi masih melempar pertanyaan agar permainan itu bisa diundur sedikit lagi.
__ADS_1
"Apa aku harus menjelaskan semuanya baru kamu mau bercinta denganku? Kalau kamu nggak mau, harusnya kamu kemarin langsung meolak, bukan malah menginterogasiku seperti ini," Lingze malah terlihat marah dengan sikap Rafi.
Melihat wajah kesal pada wanita yang duduk dipangkuannya, sontak saja membuat Rafi terkejut. "Bukan begitu. Aku hanya ..."
"Kalau kamu mau jadi laki laki suci, Nggak perlu nanggung kayak gini! Heran, orang tinggal main aja kebanyakan omong. Dahlah mending aku balik. Buang bauang waktu aja!"
Rafi semakin gelagapan dibuatnya. Apa lagi Lingze langsung berdiri dan merapikan pakaiannya yang agak berantakan, Rafi seketika ikut berdiri untuk menahannya. "Maaf bukan maksud aku nginterogasi kamu."
"Lah terus tadi apa? Orang tinggal main aja kebanyakan mulut, kebanyakan nanya. Semalam juga aku sudah jelasin, masih kurang?"
"Iya, maaf maaf. Ya udah ayok kita main, yuk."
"Tahu ah, udah nggak pengin. Awas minggir!"
"Jangan dulu pergi dong, Ling. Pliss."
"Ngapaian aku disini kalau kamu sendiri nggak pengin melakukannya? Buang buang waktu tahu nggak?"
"Bukannya nggak pengin, tadi aja punya aku sudah tegang saat kita perang bibir."
"Lah itu udah tegang kenapa malah banyak tanya? Munafik, orang mau aja, kebanyakan gaya."
__ADS_1
"Iya iya, sorry. Ya udah kita sekarang rebahan, ya? Kita lakukan pemanasan sekarang, oke?"
Lingze mencebikkan bibirnya. Dengan segala bujuk rayu yang Rafi lontarkan, akhirnya Lingze menuruti permintaan pria yang sedang memeluknya dengan wajah memohon. Wajah Rafi yang tampan dan menggemaskan saat merasa bersalah, tentu saja menjadi alasan Lingze untuk mengurungkan niatnya. Akhirnya mereka berdua pun terbaring di atas kasur yang sebenarnya cukup untuk satu orang itu.
"Sekarang, apa yang harus aku lakukan?"tanya Rafi dengan tangan masih memeluk erat wanita dihadapannya.
"Ya nggak tahu," jawab Lingze masih mengeluarkan rasa kesalnya.
"Gini, waktu kamu sama pacar kamu, mainnya sampai mana? Apa sebatas perang bibir doang?"
Lingze berpikir sejenak. "Enggak, kita main sebatas aku mainan punya dia pake mulut doang. Nggak percaya?"
"Astaga! siapa yang nggak percaya? Kalau gitu kamu mainin punya aku pake mulut ya? Gimana?"
Lingze malah berpaling. Dia mati matian menahan senyumnya. Tapi Rafi tak kehilangan akal. dia bangkit dari tidurnya dan membentangkan kedua kakinya diatas dada Lingze, lalu Rafi berdiri dengan bertumpu pada lututnya
"Apa yang kamu lakukan?"
"Nyuruh kamu mainin punyaku lah. Cepat buka celanaku!"
"Astaga!"
__ADS_1
...@@@@@...