
"Apa kamu tidak ingin merasakan kembali nikmatnya hubungan badan?" entah ada maksud apa Wildan menanyakan hal itu, tapi Kalina malah menatapnya sejenak lalu dia berpaling dan memandang gadis kecil yang terlelap.
"Udah malam, aku ngantuk, Wil," ucap Kalina. Wildan cukup terkejut tapi dia mengerti. Mungkin Kalina berpikir Wildan akan mengajaknya berhubungan badan, jadi wanita itu memilih mengusir Wildan secara halus.
"Oh ya udah, aku keluar. Nitip adikku ya?" ucap Wildan sambil berdiri dan segera beranjak begitu Kalina membalas ucapannya. Wildan keluar kamar gadis itu dengan perasaan yang tak nenentu. Sepanjang kaki melangkah menuju post, Willdan kembali teringat dengan kejadian saat Wildan menolong Kalina.
Mengingat tubuh Kalina yang tanpa busana, membua jiwa liar laki laki yang ada di dalam Wildan meronta. Biar bagaiamanapun Wildan adalah pria normal yang tertarik dengan lawan jenis. Apa lagi pemuda itu sempat menyentuh bagian inti milik alalina saat memijat tubuhnya, membuat isi celananya menegang dan ingin menyemburkan bebannya.
"Seperinya aku harus ke toilet dulu deh, tubuh Malina benar benar bikin aku gila," gerutu Wildan langsung menuju ke arah kamar mandi.
Haripun berganti lagi. Seperti biasa, paginya Rafi sudah rapi memakai pakaian kerjanya. Hari ini dia akan kembali melakukan rutinitas sebagai calon presiden direktur di sebuah perusahaan otomotif yang namanya memang cukup diperhitungkan. Pagi ini perbincangan kembali terjadi diantara penghuni rumah tersebut sembari menikmati menu sarapan yang sudah terjadi di atas meja.
"Marisa, nanti akan ada orang kantor yang akan memberi beberapa materi untuk Rafi pelajari, apa kamu sudah siap untuk membantunya?" tanya Moreno sembari memotong kecil daging bakar dan memasukannya ke dalam mulutnya.
"Aku sudah siap dari kemarin, Om," jawab Marisa yang memilih roti lapis keju dan juga telur setengah matang sebagai menu sarapannya.
"Hehehe ... maaf, dari kemarin saya sibuk karena di kantor cabang negara ini terlalu banyak pekerjaan yang terbengkalai," balas Moreno.
Kening Marisa sontak berkerut, sedangkan Rafi tak banyak bicara karena memang masih belum sepenuhnya paham tentang dunia perkantoran. "Kenapa Om tidak meminta salah satu anak Om yang di Italia untuk datang menangani perusahaan disini?"
__ADS_1
Moreno nampak tersenyum lebar. "Kalau Om minta salah satu anak aku untuk datang, lalu kapan Rafi bisa belajar? Om ingin secepatnya Rafi menduduki kursi kepemimpinan."
Rafi yang sedang menikmati nasi uduknya langsung cengengesan."Ya maaf, Dad, kalau aku lambat beradaptasi. Maklum, aku hanya lulusan smp, eh disuruh megang perusahaan. Apa lagi perusahaannya bukan perusahaan sembarangan. Ya aku masih banyak bingungnya."
Moreno dan marisa sontak terkekeh melihat kepolosan pemuda itu. "Ya nggak apa apa, Rafi. Daddy cuma tidak ingin kamu terlalu banyak membuang waktu saja. Manfaatkan waktu sebaik baiknya."
"Baik, Dad. Aku akan berusaha lebih giat lagi," tekad Rafi dan itu cukup menyenangkan bagi dua orang yang ada di sana.
Sementara itu di tempat lain, Sergio masih tidak percaya dengan laporan yang semalam dia dengar dari istri dan keponakanya. Berita kalau Marisa dan Rafi terlihat bersama sangat mengagnggu pikirannya dan membuat Sergio ketar ketir. Pria itu benar benar harus berpikir keras agar bisa memisahkan dua orang itu.
"Apa Mamih benar benar nggak ada ide lain buat misahin Rafi dan Marisa?" tanya Sergio di sela sela menikmati sarapannya.
"Ya sudah. Pih," balas sang istri. "Mamih bahkan sudah ngajak Tania juga. tapi Rafinya susah banget buat ditaklukin."
"Ya mana Mamih tahu. Coba deh Papi suruh Amanda untuk ngebantu? Punya anak gadis nggak dimanfaatin, buat apa coba?"
Seketika Sergio mendengus, tapi saran istri mudanya ada benarnya juga.
Sementara itu saat hari sudah menunjukan waktu sedikit lebih siang, di sebuah kampus nampak beberapa mahasiswa sedang bercengkrama di beberapa sisi kampus. Ada yang di kantin, di kelas, perpustakaan, taman dan beberapa tempat yang memang biasa digunakan mahasiswa untuk bersantai.
__ADS_1
Diantara mereka, ada lima mahasiswa wanita yang nampak sedang duduk di bangku taman yang ada di kampus tersebut. Obrolan mereka terlihat seru, bahkan kelima wanita itu menjadi pusat perhatian mahasiswa lainnya.
"Kamu kenapa, Tan? Kok keliahatannya galau gitu?" tanya salah satu wanita kepada temannya yang ternyata adalah Tania.
"Gimana aku nggak galau, baru kali ini ada cowok nolak aku mentah mentah," sungut Tania.
"Apa? Hahaha ... kamu serius?"
"Serius lah. Ganteng sih, tapi sikapnya jutek banget."
"Wow, menarik tuh! cowok mana, Tan?"
"Anaknya presdir volcano grup. ganteng banget."
"Wuih mantap. Kenapa kamu nggak pakai jurus yang biasa kamu lakukan?"
"Sudah, tapi nggak mempan," Tania terlihat begitu kesal.
"Wuih keren tuh cowok, namanya siapa sih?"
__ADS_1
Nama panggil si Rafi, tapi aku tak tahu nama lengkapnya," saat Tania memyebut kata Rafi, salah satu wanita yang ada disana sontak menunjukkan wajah terkejutnya.
...@@@@@...