SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Lakukan Sekarang ya?


__ADS_3

"Terus kita sendiri gimana, Fi? Apa kita akan melakukannya sekarang?"


Rafi sontak menoleh ke arah Kalina. diatatapnya mata wanita yang juga sedang menatapnya. Tiba tiba dada keduanya nampak bergemuruh dan mereka menjadi salah tingkah sendiri. Rai pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan memperhatikan keadaan kost yang memang cukup sepi.


"Kalau kamu siap ya, Ayok," ucap Rafi dengan suara yang dibuat setenang mungkin.


"Ya siap nggak siap Fi, Ini kan aku sudah melangkah kejauhan," jawab Kalina yang nada bicaranya juga hampir sama dengan suara Rafi yang agak bergetar. Tentu saja dia juga diserang rasa gelisah.


"Ya sudah, kalau kamu siap, lebih baik kamu masuk kamar aku aja. nanti aku nyusul."


"Nggak di kamar aku aja?"


"Kalau di kamar kamu nanti ada orang yang masuk kita nggak tahu. Kalau di kamar aku, kan aku masih bisa sambil mengawasi keadaan di sini."


Kalina terdiam dan nampak berpikir. Tapi tak lama setelahnya dia pun setuju dengan ide Rafi. Wanita itu segera beranjak dan masuk ke dalam kamar Rafi setelah dipersilahkan. Tak lama setelahnya Rafi pun menyusulnya.

__ADS_1


Bingung dan canggung, itulah yang dirasakan dua anak manusia tersebut. Mereka tidak menyangka jalan hidup akan membawa mereka bertemu dan berada di dalam satu kamar untuk melakukan hubungan yang sebenarnya terlarang.


Lagi lagi alasan keadaanlah yang membuat mereka harus memilih langkah sejauh itu. Terutama jika melihat masalah yang dihadapi si wanita. Mungkin banyak wanita yang memilih jalan seperti itu jika terdesak dengan masalah yang cukup pelik dan berhubungan dengan uang.


"Kok kamu diam, Fi?" tanya Kalina setelah beberapa menit berlalu. Kalina berpiikir Rafi akan langsung menyerangnya begitu pria itu masuk ke dalam kamar. Tapi yang terjadi, pria itu malah diam dan duduk agak menjauh.


"Emang kamu beneran udah siap?" Rafi malah bertanya balik.


"Kalau kamu bertanya terus seperti itu, yang ada nanti aku malah goyah. Aku pikir kamu akan langsung melakukannya."


"Bagaimana kalau kita sama sama nonton video dulu? Ya paling tidak kita butuh sesutau untuk membangkitkan gejolak kita, kan?"


Kening Kalina berkerut lalu tersenyum tipis. "Kalau nonton dulu aku malah malu ya, Fi. Emang kamu tahu situs buat nonton film kayak gitu?"


"Ya tahu lah. Biar bagaimanapun aku akan pernah beberapa kali nonton," jawab Rafi dusta. Dia tidak mungkin mengakui kalau dia tahu situs tersebut justru dari Nancy beberapa hari yang lalu.

__ADS_1


"Ya udah kalau itu memang bisa membangkitkan gejolak kita," balas Kalina terpaksa setuju. padahal benaknya benar benar bertarung hebat saat ini.


Rafi menyalakan ponselnya dan mengotak atik sesuatu sesuai yang diajarkan Nancy saat nonton bareng kemarin. Setelah situs yang dicari ketemu, Rafi bergeser dari tempat duduknya mendekati Kalina yang duduk di atas kasur.


"Kita nonton yang mana ini?" tanya Rafi sembari menunjukkan layar ponselnya kepada Kalina. Wanita itu seketika tercekat dan wajahnya memerah melihat layar ponsel Rafi yang menunjukkan banyak pilihan video. Baru kali ini dia akan menyaksikan video bersama seorang laki laki dan parahnya mereka akan lansgung praktek setelah menontonya.


"Tersersah kamu aja, Fi. Aku bingung," balas Kalina yang hatinya sudah merasakan resah dan tak karuan walau baru melihat kumpulan gambar tak bergerak tapi penuh dengan adegan yang akan dia lakukan.


Rafi pun mengiyakan dan dia memilih video yang pemainnya terlihat masih muda. Keduanya beberapa kali menahan nafas saat adegan demi adegan dipertontonkan di depan mata mereka. Keduanya pun semakin diserang rasa resah.


Rafi yang sudah ada sedikit pengalaman menoleh ke arah wanita yang juga nampak sudah terbalut hasrat. Salah satu tangan Rafi yang tidak memegang ponsel bergerak dan menyetuh pipi Kalina. wanita itu cukup terkejut tapi dia tidak menolaknya. Kalina bahkan membalas tatapan Rafi dengan mata sayu.


"kita lakukan sekarang ya?" ajak Rafi lirih. Kalina juga langsung mengangguk pelan. Rafi tersenyum tipis lalu ponselnya dia taruh di atas kasur dan kedua tangan Rafi memegang pundak kalina. Perlahan tapi pasti, Rafi merebahkan tubuh Kalina hingga wanita itu terbaring dan dengan segala kemantapan hati, Rafi mengawawli hubungan nikmat itu dengan menempelkan bibirnya pada bibir wanita yang sudah terbaring pasrah.


...@@@@...

__ADS_1


__ADS_2