
Rafi tercengang dengan apa yang dikatakan wanita yang saat ini melekat pada tubuhnya. Meski menggunakan bahasa inggris, tapi Rafi cukup mengerti, apa yang dikatakan wanita itu.
"Mumpung ada kesempatan? Apa maksudnya?" tanya Rafi dengan tatapan tak percaya. Entah dia beneran tidak tahu apa memang hanya pura pura saja, tapi itu tak jadi soal bagi wanita yang sedang mengembangkan senyumnya.
Bukannya menjawab pertanyaan Rafi, Angela malah tersenyum dengan kepala mendongak, menatap pemuda yang tatapannya penuh dengan pertanyaan dan juga rasa heran. Namun saat Rafi merasakan sebuah tangan meraba bagian celananya, Rafi baru tahu apa yang dimaksud ada kesempatan. "Astaga! Kamu gila!"
Senyum Angela makin lebar. "Kamu tahu kan kalau aku menginginkannya," ucap Angela dengan terus meraba celana Rafi. Bahkan tangannya mulai menelusup ke dalam celana Rafi yang cukup longgar. Meskipun celana Rafi agak ketat, tapi bagian pinggang ceelana yang digunakan pemuda tu tidak pakai pengait, melainkan berbahan karet, Sehingga bagiannya bisa kencang dan juga bisa longgar. Maka itu tangan Angela tidak terlalu kesulitan meraba isi celana Rafi.
"Tapi kita ini sudah jadi saudara, Angela. Nanti Daddy marah," Rafi masih menggunakan cara yang sama untuk menolaknya. Tapi melihat tubuh Rafi yang diam, justru membuat Angela mengerti kalau Rafi juga menginginkannya. Tanpa ada niat membalas ucapan Rafi yang pada akhirnya hanya akan menjadi perdebatan lalu menghilangkan rasa ingin bercinta, Angela langsung menempelkan bibirnya pada bibir Rafi sampai pemuda itu membelalak.
Rafi meggalau, hatinya dilema. Di satu sisi dia sangat takut jika Moreno marah, tapi di sisi lain, godaan Angela sangat sulit untuk dia hindari. Wajah cantik dan tubuh seksi Angela membuat jiwa laki laki Rafi juga ingin menikmatinya. Seberapa besar usaha Rafi untuk menolaknya, akhirnya dia tetap kalah jika godaan lebih kuat dan hasrat kian meningkat. Malam panas pun terjadi saat itu juga.
__ADS_1
Dan waktupun terus melaju. Hari kini berganti lagi dan pagi sudah hadir kembali. Rafi membuka mata dari lelapnya, dan di sisinya ada wanita yang masih terlelap dengan tubuh tanpa busana. Rafi tersenyumn, seketika pikirannya kembali teringat dengan permainan panas yang semalam mereka lakukan. Meski Angela sudah tidak bermahkota, tapi lubang Angela yang montok masih terasa sempit. Hal itu membuat Rafi keenakan, bahkan sampai tiga ronde dia lakukan.
Mengingat waktu yang sudah siang dan takut keluarganya sangat khawatir, Rafi bergegas bangkit dan memakai pakaiannya kembali, lalu membangunkan Angela karena mereka harus segera kembali ke hotel. Untuk urursan dua penjahat, Rafi akan menghubungi pihak polisi terdekat untuk menahan mereka. Begitu urusan dengan penjahat selesai, Rafi dan Angela bergegas pergi menggunakan motor yang semalam Rafi pinjam.
"Angela!" seru Momy begitu melihat anak perempuannya muncul memasuki lobby hotel. "Kamu baik baik saja?" wanita itu langsung memeluk Angela dengan erat.
"Aku baik baik saja kok, Mom," jawab Angela dengan suara yang tenang agar Mommy tidak terlalu khawatir. "Untung ada Rafi, Angela aman."
Karena kejadian buruk menimpa mereka, akhirnya Moreno memutuskan untuk pulang. Moreno tidak mau kejadian itu terulang lagi dan hasrat untuk menikmati waktu bersama keluarga jadi hilang. Apa lagi Rafi juga memberi tahu, ada penyadap dalam ponsel Aron, tentu saja hal itu sangat mengejutkan dan semakin membuat Moreno geram. Sudah pasti, Moreno ingin membalas perbuatan musuhnya itu.
Setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh, akhirnya Moreno dan keluarga sudah sampai dirumahnya. Karena tubuh yang lelah, mereka memilih masuk ke dalam kamar masing masing.
__ADS_1
"Setelah ini, apa yang akan kamu rencanakan, Fi?" tanya Marisa yang saat ini sudah terbaring di sisi Rafi.
"Aku sih rencananya ingin pulang kampung. Semua tetanggaku sangat ingin menemuiku," jawab Rafi yang sudah pasrrah dengan ketiak yang sedang dihirup aromanya oleh Marisa. "Kamu kapan berangkat menemui Daddy, Sha?"
"Lusa, harusnya sih kemarin, tapi malah diajak liburan."
"Kamu harus bisa jaga diri loh! Dan ingat, lubang nikmat kamu harus aku yang memasuki pertama kalinya."
Marisa sontak tersenyum lebar mendengar peringatan Rafi dengan wajah seriusnya. "Iya, Sayang, iya. Astaga!"
Rafi pun tersenyumlega. Dia terdiam dan membiarkan Marisa menghirup aroma ketiaknya. Dalam hati, Rafi mengingat akan dua gadis panti dan mau tidak mau diapun akhirnya memikirkan mereka.
__ADS_1
...@@@@@...