
"Kamu kenapa, Fi?" tanya Marisa yang nempak heran saat Rafi terlihat terkejut setelah mendapat pesan dari Madi di ponselnya.
"Nggak, nggak kenapa kenapa," balas Rafi dusta. Sebenarnya dia cukup terkejut mendapat pesan yang berupa perintah untuk memastikan sesiatu. Pesan itu berasal dari pria yang bekerja sama untuk mencari tahu dan juga menghancurkan jaringan yang telah membunuh bapaknya.
Yang membuat Rafi terkejut adalah nama orang yang harus dia selidiki. Nama balakang dari orang tersebut adalah walington, nama yang sama persis dengan nama belakang bos tempat ayahnya bekerja. Saat Rafi sedang berpikir, wanita yang duduk di atas tembok kembali merengek.
"Fi, kamu nggak ngajak aku sarapan?"
Rafi sontak menoleh dan memasukkan ponselnya ke saku celana yang dia pakai. "Mau sarapan apa?"
"Terserah kamu, yang penting aku ikut," jawab wanita itu terlihat manja.
Rafi hanya menghembus nafasnya secara pelan lalu dia bangkit. Marisa kembali bergelayut pada lengan Rafi dengan senyum yang sangat cerah. Keduanya lantas keluar dari tempat kost untuk mencari makanan. Perlakuan Marisa kepada Rafi tentu saja menjadi sorotan para pedagang yang ada di sana. Berbagai celetukan membuat pemuda itu salah tingkah dan merasa malu sendiri.
"Kalau jalan jangan kayak gini bisa nggak sih, Non? malu itu dilihatin," protes Rafi.
"Biarin. Lagian aku juga takut. Cuekin aja napa," tolak Marisa. Rafi memilih diam. Percuma jika Rafi meminta wanita itu untuk melepas tangannya, yang ada malah akan terjadi perdebatan. Rafi memilih warung nasi telur sebagai menu sarapan kali ini.
__ADS_1
"Ceilah, ceweknya ganti lagi nih," suara Dito mendadak muncul di saat Rafi belum lama duduk di warung tenda tersebut. "Mbak, pacarnya Rafi?" tanya Dito tanpa mempedulikan wajah tak bersahabat pemuda itu.
"Pacarnya bukan ya?" Marisa menjawab sambil menoleh ke arah pria yang mukanya agak masam. Setelah itu Marisa kembali memandang pria yang tadi melempar pertanyaan. "Mungkin bentar lagi kita jadian, doain ya, Bang."
Rafi kini yang gantian menoleh dan menatap tajam Marisa lalu mendengus kesal. "Kalau ngomong itu hati hati. Nanti pacar kamu tahu, baru nyesel," sungut pemuda itu.
Dito dan Marisa malah tertawa bersamaan. "Ya ampun, Fi, jangan galak galak sama cewek kenapa? Nanti jadi suka loh," celetuk Dito.
"Iya, tuh, Mas. Rafi galak banget kalau sama aku. Heran," Marisa pura pura kesal.
"Wajar sih, Mbak, kalau Rafi begitu. Dia maunya sama cewek yang masih ting ting."
Entah Marisa beneran tidak tahu atau pura pura tidak tahu, tapi yang pasti Rafi langsung melotot kepada Dito hingga pria itu terpaksa tutup mulut sambil cengengesan. Dito segera memilih topik lain untuk bahan obrolan sambil menikmati nasi telur yang sedang mereka nikmati bersama. Begitu sarapan selesai, Marisa kembali bergelayut manja kepada Rafi hingga langkah kaki mereka sampai ke area kost.
"Nona sebaiknya istirahat di kamar sana. Udaranya disini panas banget," Rafi mencoba memberi saran agar Marisa tidak terus terusan menempel kepadanya.
"Nggak mau lah, takut. aku disini saja," tolak Marisa.
__ADS_1
"Apa nggak bosen? Nona kan bisa mencari kesibukan yang bisa bermanfaat," Rafi masih berusaha membujuknya. Rafi memang sengaja melakukannya agar dia bebas mencari teman kencan yang masih ting ting pada aplikasi kencan Dengan adanya Marisa, Rafi merasa gerak geriknya kurang leluasa.
"Kesibukan apa sih? Aku aja bingung mau melakukan apa."
"Ya kan Nona bisa berkirim chat dengan pacar Nona, teman teman Nona atau yang lainnya. Bukannya nempel terus sama aku."
Wanita itu langsung menatap tajam Rafi. "Jadi kamu nggak suka aku berada disini? Ya udah, aku pergi," Marisa langsung bangkit dan prgi begitu saja meninggalkan Rafi yang berusaha menjelaskan kalau bukan seperti itu yang dimaksud pemuda itu.
"Argghh ... dasar wanita, tahu ah. Yang penting dia pergi," gerutu Rafi lalu dia langsung menatap layar ponselnya dan fokus mencari wanita bersegel untuk memenuhi misi berhadiah uang seratus miliar.
Beberapa menit kemudian saat mata Rafi masih fokus menatap layar ponsel, dia melihat sebuah motor yang dikendarai dua orang masuk ke area tempat kost. Rafi terus memperhatikan gerak gerik dua orang tersebut hingga mereka turun dari motor dan mendekat ke arah Rafi.
"Permisi, Mas," sapa salah satu dari orang tersebut.
"Ya, ada apa ya, Mas? Ada yang bisa saya bantu?" balas Rafi ramah.
"Mas, pernah lihat wanita ini nggak di sini?"
__ADS_1
Kening rafi berkerut saat ditunjukan sebuah foto.
...@@@@@@...