
Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi kurang lima belas menit. Di sana, di area bangunan yang menjadi tempat kost, Rafi terlihat sedang berbincang dengan seorang pria berbadan tegap yang ditugaskan mengawal dirinya. Rafi memberi pesan kepada pria itu untuk menjaga kost dengan alasan dia ingin istirahat di kamarnya.
Sebenarnya alasan yang diutarakan Rafi hanya kebohongan belaka, tapi Rafi juga tidak mungkin jujur kalau jam segini dia akan menjebol mahkota wanita yang sudah terlebih dahulu berada di kamarnya. Apa lagi Rafi yakin kalau pengawalnya tidak tahu, wanita yang tadi datang adalah wanita yang akan menjual mahkotanya, jadi alasan yang diucapkan Rafi termasuk alasan yang cukup bagus.
Begitu selesai urusan dengan pengawal yang sudah pasti mendapat jawaban yang dibutuhkan, Rafi segera melangkah menuju kamarnya. Saat langkah kaki Rafi tiba di depan kamar yang dihuni oleh Dito, Rafi sayup sayup mendengar suara rintihan wanita sebagai tanda kalau wanita itu sedang keenakan. Rafi sampai menggelangkan kepalanya beberapa kali, karena dari suara rintihan itu, Rafi tahu apa yang sedang terjadi di dalam kamar tersebut.
"Kenapa duduk di lantai?" tanya Rafi begitu dirinya membuka pintu dan kakinya satu langkah masuk ke dalam kamar yang dituju, lalu matanya menangkap sosok wanita yang duduk di lantai tak jauh dari pintu. "Duduk di atas kasur aja, jangan di lantai gitu."
Wanita yang katanya akrab di panggil Dinda itu tersenyum tipis dan merasa sangat canggung. Dia menuruti ajakan Rafi dan mengikuti pemuda itu duduk di tepi ranjang. "Kasurnya empuk banget," kata Dinda begitu pantatnya telah menempel pada permukaaan kasur.
__ADS_1
Rafi lantas tersenyum. "Kalau mau ya silakan rebahan, aku mau ke kamar mandi sebentar," wanita itu hanya mengangguk dan matanya menatap sosok pria yang berlalu menuju kamar mandi yang ada di sana.
Entah apa yang dilakukan Rafi di kamar mandi, yang pasti tak lama kemudian Rafi keluar dari kamar kamar lalu duduk di tepi kasur dekat dengan wanita yang masih duduk di atas kaasur yang sama. "Kenapa? Grogi ya?"
Wanita itu mengangguk tanpa berani menatap pria yang duduk di sebelah kanannya. "Baru kali ini aku berada dalam satu kamar dengan seorang pria, Mas," ucap wanita itu pelan dan cukup lirih. Tapi suaranya masih bisa didengar oleh Rafi.
Rafi sontak menmgembangkan senyumnya sedikit lebih lebar. "Wajar jika kamu canggung. Dulu aku pertama kali dengan seorang wanita juga merasakan canggung seperti kamu. Tapi setelah melakukan hubungan ranjang, rasa canggung itu hilang entah kemana."
"Hehehe ..." Rafi malah terkekeh mendengar pertanyaan tersebut. Dia seperti terjebak karena ucapannya sendiri yang sedikit pamer namun membuka belangnya. "Sering sih enggak. Cuma ya dulu aku pernah ngalamin rasa canggung itu. Lagian nggak sehat juga kan, jika tiap saat gonta ganti pasangan dalam urusan ranjang? Yang ada nanti aku terkena penyakit, highh, ngeri."
__ADS_1
Wanita itu tersenyum sedikit lebih lebar. "Apa Mas juga sudah terbiasa membeli wanita yang bersegel?"
"Hahaha ... ya nggak terbiasa juga," balas Rafi sedikit berbohong. "Hari gini nyari cewek yang masih memiliki mahkota kayak kamu itu sangat susah. Dulu aja pertama kali aku melakukan hubungan ranjang dengan wanita yang juga sedang membutuhkan uang. Jadi ya cukup beruntung juga sih, meski harus membayar mahal."
Wanita itu nampak menganggukan kepalanya beberapa kali begitu Rafi selesai bersuara. "Aku juga beberapa kali sering diajak oleh pacarku, tapi entah kenapa aku justru takut melakukannya. Ini saja aku sebenarnya juga sangat takut. Namun aku sadar, aku sedang butuh uang, jadi aku harus memberanikan diri."
Rafi sontak menatap lekat wanita di sampingnya. dari tadi mata pria itu memang lebih sering memandang Dinda di saat Rafi sedang mengeluarkan suaranya. "Apa yang kamu takutkan? Apa kamu takut rasa sakit saat lubang milik kamu dimasukin?"
"Salah satunya itu," ucap Dinda. "Aku banyak mendengar kalau lubang wanita dimasukin itu sebenarnya sakit banget. Tapi aku tidak punya pilihan lain lagi untuk menghadapinya kan, Mas? yang penting aku bisa dapat duit."
__ADS_1
Rafi kembali tertawa dengan suara yang lebih kecil. "Kamu itu memang harus merasakannya sendiri, biar kamu tahu sakit apa enggak. Kalau gitu agar kamu tidak penasaran, bagaimana kalau kita mulai main sekarang?"
...@@@@@@...