
"Hallo."
"Iya, pak?"
"Ke rumah Non Marisa? Ngapain Pak?"
"Aduh gawat tuh, Pak."
"Aduh, Gimana ya, Pak?"
"Ya udah, nmanti saya pikirkan, Pak. Kalau bisa nanti aku telfon bapak."
"Baik, Pak."
Klik.
Panggilan telfon pun berhenti, lalu pria yang baru saja menerima panggilan telfon itu nampak langsung berpikir dengan mata mengawasi gerakan kepala seorang wanita yang sedang memainkan miliknya dengan mulut. Pria itu membelai dan memegang rambut si wanita agar dia juga bisa lebih jelas melihat mulut wanita yang sedang lahap menikmati batang kotornya.
Rafi dan Nadia baru saja selesai melakukan hubungan di siang sepi seperti ini. Hubungan yang awalnya hanya karena uang dan saling menguntungkan, kini hubungan itu kembali berlanjut karena suka sama suka. Tempat yang sepi dan tidak adanya kegiatan lain membuat dua anak manusia itu kembali melakukan hubungan penuh rasa nikmat.
Saat Rafi sedang berpikir setelah menerima telfon dari pria yang bekerja di rumah mantan bos ayahnya, matanya tiba tiba berbinar begitu memperhatikan Nadia. "Kamu bisa menolongku nggak, Sayang?" tanya Rafi.
__ADS_1
Nadia yang sedang fokus memainkan milik Rafi seketika langsung menghentikan kegiatannya dan dia mendongak. "Bantuan apa, Mas?"
"Kamu nanti gantiin jaga post bentar bisa? Saya diminta menjemput Marisa?"
Kening Nadia berkerut lalu dia duduk tegap menghadap Rafi. Sedangkan tangan wanita itu menggengam milik Rafi dan memainnya naik turun secara perlahan. "Menjemput Marisa? Siapa itu?"
"Marisa itu anak majikan tempat ayahku bekerja. Wanita yang kemarin itu, yang mau kembali kesini sore ini."
"Oh dia?" Rafi mengangguk. "Kenapa kamu yang jemput, Mas? Kan dia ada sopir?"
"Ceritanya panjang. Permasalahan orang kaya lebih mengerikan daripada permasalahan kita, orang miskin. Kamu bisa kan gantiin aku sebentar sore ini?"
Wanita itu tersenyum sembari mengangguk "Jadi teman tidur kamu malam nanti aja bisa, apa lagi hanya jagain sebentar tempat ini? Mau jemput Marisa jam berapa?"
"Emang kita mau main lagi?"
"Ya, sekali lagi ya, Sayang. Orang udah tegang gitu."
Wanita itu tersenyum lantas dia kembali mendekatkan mulutnya ke ujung batang dan melahapnya. Permainan itu terjadi lagi setelah terjeda hampir dua puluh menit di ronde pertama siang ini. Tepat pukul dua siang lebih tiga puluh menit, permainan selesai dan mereka kembali melakukan mandi bersama tanpa adanya permainan dalam kamar mandi.
Begitu selesai mandi dan Rafi sudah rapi, dia lantas pamit kepada Nadia mau mencari motor sewaan terlebih dahulu. Rafi juga tak lupa menghubungi pak Budiman untuk mengirimi lokasi rumah Marisa. Wajar jika Rafi minta alamat, soalnya Rafi kesana menggunakan motor sedangkan jarak tempat Rafi berada dengan rumah Marisa cukup jauh.
__ADS_1
Di kediaman Marisa sendiri, wanita itu sedang dalam keadan gelisah. setelah mendapat info dari Pak Budi kalau Rafi akan menjemputnya, Marisa sedikit lega. Tak jauh dari rumah Marisa memang terlihat sebuah mobil yang agak mencurigakan. Mobil itu sejak siang berada di tempat yang sama hingga menjelang sore ini.
Tak lama setelah menempuh perjalanan cukup jauh dan memakan waktu lebih dari satu jam, akhirnya Rafi sampai di lokasi tujuan dengan selamat. Beruntung, Rafi tidak terlalu sulit mendapatkan motor yang bisa dipinjam. Dia menggunakan motor milik salah satu pedagang yang ada di depan tempat kostnya.
"Tadi waktu kamu masuk kesini, lihat ada mobil di tikungan dekat rumah ini nggak, Fi?" tanya Pak Budiman saat Rafi sudah duduk di kursi depan bangunan belakang rumah utama.
"Ada, Pak. Tadi aku lihat," setelah menanggak air minum yang disajikan untuknya.
"Karena adanya mobil itu, saya minta tolong sama kamu agar kamu menjemput Non Marisa. Soalnya kalau pake mobil akan lebih bahaya."
"Iya, Pak saya ngerti, Non Marisanya mana?"
Di saat yang bersamaan Marisa nampak datang bersama seorang wanita yang lebih tua darinya. Wanita itu masih terlihat cantik diusianya yang tidak muda lagi meski wajahnya terlihat lelah. Mungkin wanita itu terlalu banyak memikirkan segala masalah yang dia alami akhir akhir ini.
"Kamu Rafi anaknya Pak Mail?" tanya wanita yang tak lain adalah ibunya Marisa, Nyonya Ayudia.
"Iya, Nyonya, Saya Rafi," jawab pemuda itu sopan.
"Maafin keluarga kami ya, Nak. Gara gara permasalahan keluarga kami, ayah kamu ..."
"Nggak apa apa, Nyonya, saya ikhlas. Mungkin sudah jalannya seperti ini."
__ADS_1
"Terus, Rafi kan naik motor, lalu bagaimana caranya agar aku bisa keluar dari rumah ini?" tanya Marisa, dan semua yang ada di dana terdiam sembari berpikir termasuk Rafi.
...@@@@@...