SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Tak Tahu Diri


__ADS_3

"Nak Rafi, tolong. tolong saya," seorang pria paruh baya tiba tiba menerobos secara tidak tahu diri diantara kerumunan para warga yang sedang berbagi cerita dengan pemuda sukses dari kampung tersebut. Tentu saja, hal itu membuat obrolan yang tadinya sangat seru, harus terhenti karena kedatangan bapak itu yang terllihat sangat panik.


Bukan hanya para warga yang terkejut dengan sikap pria itu, Rafi yang tiba tiba didekati juga cukup terkejut sampai keningnya mengernyit. Entah ada maksud apa pria itu meminta tolong sama dia, padahal Bapak itu jelas bukan penduduk komplek tersebut. Bahkan dia juga dari kampung yang berbeda, tapi kenapa malah datang ke komplek tempat tinggal Rafi.


"Minta tolong apa, Pak?" celetuk Pak Rt yang kebetulan duduk di dekat Rafi.


"Anak saya, Arinda, dari tadi siang tidak pulang. Terus di saat saya lagi mencari, tadi saya dan istri saya mendapat pesan masuk yang berisi tentang ancaman," semua yang mendengar cerita pria itu langsung terperangah, begitu juga dengan Rafi, Tapi pemuda itu memilih diam saja. Dari sikapnya sepertinya Rafi malah seperti enggan menghadapi orang itu.


"Kok bisa gitu? Terus kenapa bapak larinya ke kampung sini? Para warga dan Rt di sekitar rumah Bapa, udah pada tahu kabar itu belum?" lagi lagi suara itu berasal dari orang yang ada di sana. Sedangkan Rafi benat benar memilih diam.

__ADS_1


Semua orang kembali dibuat terkejut begitu orang yang dilempar pertanyaan menjawab dengan gelengan kepala. "Loh, kok aneh, Pak? Bapak bukannya minta tolong kepada tetangga Bapak, tapi bapak jauh jauh kesini hanya untuk minta tolong sama Rafi?"


"Nah, iya! Bapak sudah telfon anak anak Bapak yang lain belum? kan menantu Bapak ada yang polisi?" untuk kesekian kalinya, lagi lagi para warga dibuat terkejut dengan gelengan kepala yang ditunjukkan bapak tadi. "Lahh! Harusnya bapak kan menghubungi menantunya? Kenapa malah menemui orang yang bukan siapa siapa bapak?"


"Ya karena si pengancam minta Rafi yang harus menyelamatkan anak saya. Mungkin orang itu yang dulu pernah melawan Rafi saat menolong anak saya, jadi mereka punya dendam pada Rafi, gitu," terang Bapaknya Arinda lalu dia menatap Rafi. "Kamu ingatkan, Fi, dulu sebelum kamu pacaran dengan anak saya, kamu pernah menyelamatkan Arinda?"


Tentu saja Rafi masih sangat mengingat kejadian itu. Tapi sayang, Rafi yang terlalu polos, mau maunya dimanfaatkan dengan cinta palsu yang ditunjukkan Arinda kepadanya. Bahkan sampai detik ini pun, Rafi masih sangat mengingat penghinaan dan pengkhiatan yang Arinda dan keluarganya lakukan.


"Ya tentunya Rafi harus menolong anak saya sesuai keinginan si pengancam," pria itu kembali menatap Rafi. "Saya janji, jika anak saya selamat, saya mau merestui hubungan kamu dengan anak saya, Fi."

__ADS_1


Rafi langsung tersenyum sinis. Ujung ujungnya ucapan pria itu membuat Rafi ingin tertawa keras. Sudah bisa ditebak, pasti ayahnya Arinda ngomong seperti itu karena tahu siapa Rafi yang sekarang. "Merestui saya?" untuk pertama kalinya Rafi mengeluarkan suaranya.


"Iya," pria itu terlihat antusias. "Saya tahu, kamu masih cinta sama anak saya, bukan? Saya janji, saya akan merestui hubungan kalian. Bahkan bila perlu saat ini juga setelah anak saya diselamatkan, saya akan langsung menikahkan kalian."


Bukan hanya Rafi yang kembali dibuat terkejut, tapi para warga juga. Biar bagaimanapun ada beberapa warga termasuk Pak Rt tahu betul kisah Rafi dan anak dari Bapak itu seperti apa. Bahkan Bapak itu dulu, tega menyuruh orang untuk merusak rumah Rafi hanya gara gara tidak terima anaknya ditonjok oleh pemuda itu.


Di saat itu juga, pria itu kembali menerima pesan. Ponsel yang berada di saku celananya langsung dia ambil dan setelah dinyalakan, ternyata itu pesan dari orang yang katanya menculik Arinda. "Lihat! Orang itu mengirim pesan lagi," pria itu menunjukkan pesan tersebut, tapi Dito yang mengambil alih ponsel. Memang benar itu pesan yang berisi ancaman Rafi harus datang menemui si pengancam.


"Bagaimana, Tuan?" tanya Dito manatap serius kepada Tuanya. Dito memang sengaja memanggil Rafi dengan sebutan kata tuan saat di depan orang banyak. Tapi jika sedang berduaan, Dito cukup memanggil Rafi dengan nama saja. Hal itu dilakukan agar orang lain juga menghormati Rafi sebagai orang besar meskipun pemuda itu dulunya hanya penjual cilok keliling.

__ADS_1


"Baiklah, kita berangkat!" Rafi mengambil keputusan sambil menyeringai.


...@@@@@...


__ADS_2