
"Sha, kalau kita nanti menikah, terus aku menikah lagi, kamu akan ijinkan tidak?"
Wanita yang sedang merebahkan kepalanya di dada pria yang baru saja melontarkan pertanyaan tentang poligami langsung saja mendongak dan menatap tajam pria itu. "Kamu gila! Mana ada wanita yang mau memberi ijin seperti itu!" seru wanita bernama Marisa dengan wajah yang begitu sangat terkejut.
"Aku tahu, tidak ada wanita yang akan mau di poligami. AKu juga nggak ada niat sebenarnya untuk melakukan hal seperti itu. Tapi jika keadaannya berbeda, gimana?"
"Berbeda gimana maksdunya? Belum nikah aja, kamu udah niat selingkuh sampai mau poligami segala."
"Bukan begitu maksud aku, Sha. Dengerin penjelasanku dulu."
"Baik,baik, coba ceritakan?"
Sebelum Rafi bercerita, dia dan Marisa memilih bangkit dari berbaringnya dan duduk di atas ranjang. Rafi lalu meraih tas slempagnya dari laci yang ada di meja tepi tempat tidurnya. Rafi mengambil ponsel jadulnya dan menunjukkan sesuatu pada wanita yang keningnya sedang berkerut.
"Apa ini?" tanya Marisa sambil membaca beberapa pesan yang Rafi tunjukan dalam ponsel jadulnya. Rafi tidak ada pilihan lain lagi selain menjelaskan sesuatu pada wanita yang sangat dia percaya itu.
"Itu namanya sistem, semacam kekuatan yang bisa membuat aku kaya raya jika aku melakukan tugas tugasnya," jawab Rafi, namun masih tidak di mengerti oleh Marisa. Rafi pun akhirnya menceritakan semuanya dari awal dia mendapatkan sistem dan apa saja yang sudah dia lakukan dan dia dapatkan karena misi yang Rafi kerjakan.
"Kamu serius?" tanya Marisa dengn tatapan tidak percaya. "Masa ada kayak ginian?"
__ADS_1
"Aku juga awalnya tidak percaya, Sha. Tapi karena aku penasaran, makanya aku mencobanya, eh beneran aku dapat uangnya."
"Jadi dengan kata lain, kamu kayak orang ngepet gitu ya? Kamu pelihara pesugihan?"
"Astaga! Ya nggak gitu juga kali, Sha."
"Lah, ini, buktinya, kamu harus melakukannya dengan wanita yang bersegel untuk mendapatkan uangnya. Sama aja kan. Kalau ngepet, harus ada yang jaga lilin dan kamu jadi babi. Tapi ini harus pakai wanita yang bersegel."
Rafi hanya bisa mendengus. Lagi lagi dia harus berdebat dengan wanita yang sudah pasti tidak akan mau mengalah dan terlihat kalah jika sudah adu mulut. Rafi memilih mengiyakan saja, daripada urusannya nanti tidak kelar kelarr hanya masalah ngepet dan pesugihan.
"Wahh! Ternyata diam diam kamu sering gonta ganti teman ranjang rupanya. Udah berapa banyak wanita yang kamu tiduri, Fi?" bukannya marah, Marisa malah penasaran dengan apa yang Rafi alami selama ini.
"Nggak sampai sepuluh kamu bilang nggak banyak!" seru Marisa dengan mata melotot. Rafi hanya bisa cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Pantes, kamu tenang dan bisa bersabar, menunggu waktu untuk memasuki lubang bersegelku, ternyata udah banyak persediaan di belakangku."
"Hahaha ... persediaan apaan sih, Sha? lagian kan yang aku tidurin juga para wanita yang sangat membutuhkan pertolongan."
"Membutuhkan pertolongan? Maksudnya?" Lagi lagi Rafi menjelaskan semua yang sudah dia lakukaan kepada wanita yang tentu saja sedang dilanda rasa penarasan. "Owalah, gitu? Yayaya, aku tahu. Terus dari beberapa wanita itu ada yang nuntut kamu untuk tanggung jawab apa gimana?"
"Nggak ada, tapi ya aku senang, mereka semua saat ini sudah menjalani hidup yang lebih baik setelah aku tolong. Bahkan, ada beberapa yang hendak menikah."
__ADS_1
"Lalu, apa hubungannya dengan poligami? Kalau hanya dengan menidurinya sudah kelar urusannya?"
Rafi mengela nafas panjang dan menghembusknannya secara perlahan sebelum membeeri penjelasan. Tak lama setelahnya Rafi menceritakan kisah dua wanita panti dan alasan Rafi meminta ijin poligami. "Ya, aku kasihan aja, jika masa depan mereka nantinya suram demi menebus rasa tanggung jawabnya terhadap panti."
"Ya kan kamu bisa menolaknya secara baik baik, gimana sih?"
"Kalau mereka terus memaksa gimana? Orang aku ngomong soal bayar aja, hanya bercanda. Nggak mungkinkan aku minta timbal balik saat aku memberi pertolongan."
"Ya lagian kamu pake becanda segala. Hati cewek itu jangan dijadiin candaan."
"Hilih, malah curhat," sungut Rafi. "Lalu aku harus gimana? Aku bingung ini?"
"Ya kamu ngomong lagi aja. Jujur, kalau kamu itu bercanda. Kalau mereka tetap maksa, baru kamu ambil tindakan."
"Wahh! Benar juga ya?" Rafi malah terlihat berbinar begitu Marisa memberi saran.
"Hilih, bilang aja kalau kamu juga sebenarnya pengin menikmati mahkota mereka, sok polos banget!" cibir Marisa.
Sontak saja, Rafi langsung cengesan, lalu dia mendorong tubuh Marisa hingga wanita itu terbaring dan menyingkap baju tidur Marisa pada bagian bawah lalu mengarahkan mulutnya untuk menciumi gundukan daging yang masih tertutup segitiga bermuda kecil. "bau lubang nikmat kamu, emang bikin candu, Sha."
__ADS_1
...@@@@@...