SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Jiwa Penolong Beraksi


__ADS_3

"Hentikan!" teriak Rafi dengan lantang. semua orang yang ada disana termasuk empat orang yang sedang memukuli satu orang pria itu juga menghentikan aksinya. Dengan langkah tegap dan penuh kewibawaan, Rafi melangkah menuju ke arah dimana seorang pria sedang meringkuk menahan sakit.


"Apa kalian nggak punya mata? Orang ini sudah hampir mati, masih kalian aniaya!" bentak Rafi penuh dengan kegeraman. Lalu dia berjongkok memeriksa pria yang kelihatannya usianya masih muda itu.


"Anda siapa? Berani beraninya ikut campur urusan kami!" tanya salah satu pria berseragam dengan logo sebuah nama supermarket.


"Ya, ini bukan urusan anda! Lagian dia memang salah, jadi wajar kalau kami hukum dia, biar dia jera!" hardik rekannya tak kalah lantang.


"Heh! Kalian punya otak nggak sih?" Rafi menatap keempat orang yang sedang menatapnya dengan sinis. "Meskipun dia salah, bukan begini cara kalian menghukumnya."


"Aku tidak salah, Bang. sumpah! Aku tidak mencuri," sang tersangka masih membantah tuduhan dengan suara terbata karena menahan rasa sakit disekujur tubuhnya.


"Nggak usah bohong kamu! Orang udah jelas jelas aku melihatnya sendiri kamu menyembunyikan barang curianmu di kantong yang kamu bawa!" salah satu pria berseragam kembali mengeluarkan kata tajamnya.


Kini Rafi tahu permasalahannya. Dia menatap tajam empat orang yang nafasnya menderu dengan penuh amarah. "Berapa banyak barang yang dia ambil? Sampai kalian membuat dia babak belur begini? Berapa?"

__ADS_1


Keempat orang itu seketika saling pandang. "Hanya sebuah apel, tapi apel itu harganya sangat mahal!" balas salah pria bersergam.


"Berapa harganya? Sebanding nggak dengan perbuatan kalian yang hampir menghilangkan nyawa orang?" cecar Rafi. "Katakan! Berapa satu biji harga apel itu?"


Ke empat pria itu kembali saling pandang. melihat penampilan Rafi yang sangat berkelas tentu saja membuat nyali mereka cukup menciut. Mereka sudah bisa memastikan kalu Rafi berasal dari kalangan orang kaya yang bisa melakukan apa saja.


"Apa kalian memiliki bukti yang akurat kalau orang ini mencuri? Tunjukkan bukti itu sekarang?" Kini tiga pria yang berpakaian seragam yang saling pandang. Sedangkan pria berpakaian satpam menatap ketiga pemuda dengan tatapan bingung. "Bukankah di tempat kerja kalian ada cctv?"


"Anda siapa? Berani beraninya ikut campur urusan kami? Tanpa bukti cctv pun kami melihat dengan jelas kalau dia menyembunyikan apel kantung plastik yang dia bawa, Nih kantungnya." salah satu pria berseragam kembali lantang melontarkan pembelaannya.


"Nggak usah membalikkan fakta kamu! Dasar maling, mana mau ngaku kamu!" Seenaknya melemparkan kesalahan ke orang lain."


"Kalau kalian nggak salah, kalian nggak perlu marah!" balas Rafi lantang. "Atau jangan jangan kalian yang sebenarnya maling tapi nggak mau ngaku?"


Ketiga orang itu tentu semakin terlihat emosi mendengar ucapan Rafi. "Hei, Bung! Jangan mentang mentang anda memakai jass dan berdasi terus dikiranya kami takut! Selama kami benar, kami nggak ada takut takutnya sama sekali!"

__ADS_1


"Apa saya harus menunjukan siapa saya baru kalian akan memperlihatkan kejadian yang sebenarnya? Kalau kalian memang nggak takut, tunjukan rekaman cctv yang membuktikan kalau orang ini bersalah. Jika memang terbukti, saya sendiri yang akan menyeretnya ke kantor polisi, gimana?: tantang Rafi dengan santainya tapi cukup membuat tiga pria berseragam terkejut.


Di saat seuasana terlihat menegang, sang supir mendekat ."Maaf Tuan muda, apa Tuan muda perlu bantuan pihak kantor untuk mengatasi kasus ini?" sang supir memberi penawaran. Mendengar kata tuan muda keluar dari mulut sang supir membuat empat pria yang ada disana terkejut bukan main, satpam dan tiga pria berseragam tentu saja sangat tahu, jika seseorang dipanggil Tuan muda maupun tuan besar, berarti dia bukan orang sembarangan.


"Nggak perlu," tolak Rafi. "Aku hanya ingin tiga orang ini membuktikan tuduhannya." Rafi memandang tiga pemuda yang wajahnya sudah berubah pias. "Bagaimana? kalian berani tidak menunjukkan rekaman cctv sebagai bukti?"


"Maaf tuan muda," sang satpam yang sedari tadi diam, kini mengeluarkan suaranya. "Saya memang tidak tahu kejadian pastinya bagaimana, saya hanya mengikuti perintah mereka untuk menangkap pria ini yang tadi hendak kabur."


Rafi mengangguk beberapa kali sebagai tanda kalau dia mengerti. "Ya sudah, Pak satpam, bisa tunjukan dimana ruang kontrol agar bisa melihat hasil rekaman cctv?"


"Bisa, Tuan, tapi tidak semua orang bisa masuk ke ruang tersebut, harus ada ijin dari pihak supermall," jawaban pak satpam tentu saja membuat senyum tiga pria itu terkembang. Melihat reaksi mereka, Rafi langsung tersenyum sinis.


"Baiklah," Rafi menoleh kearah sang supir. "Pak, tolong hubungi pihak kantor untuk menghubungi pemilik supermall ini, bisa?"


"Tentu bisa, Tuan muda."

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2