SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Langkah Rafi


__ADS_3

Waktu terus bergulir maju. Kini malam pun sudah menjelang. Lingze sudah pergi dari tempat kerja Rafi sejak beberapa menit yang lalu. Meski Lingze mangaku masih betah berada di tempat tersebut, tapi dengan sangat terpaksa wanita itu harus pulang karena telah pergi sejak kemarin.


Rafi pun membayar Lingze dengan harga yang lebih dari kesepakatan awal. Biar bagaimanapun Rafi tidak rugi banyak, saat membayar lebih wanita cantik itu. Apa lagi tadi sebelum pulang, Rafi bermain lagi satu ronde. Wajah cantik Lingze yang merengek minta nambah lagi, membuat pria itu tak tega untuk menolaknya.


Mungkin karena pas bangun tidur siang, tenaga lingze pulih kembali jadi saat menjelang petang, wanita itu merengek minta jatah. Lingze memang sempat tidur siang setelah mereka selesai bermain ronde kedua. Lingze tidur selama hampir tiga jam sedangkan Rafi tidur hanya sekitar satu jam saja.


Rafi juga sempat jadi bahan ledekan penghuni kost karena saat mereka pulang, para penghuni kost sempat melihat Lingze keluar dari kamar pemuda itu. Rafi sebenernya malu, tapi mungkin karena bagi para menghuni kost kalau hal itu sudah biasa terjadi, maka mereka menganggapnya apa yang dilakukan Rafi adalah hal yang wajar.


Di saat Rafi sedang bermain ponsel sambil menunggu misi berikutnya, matanya menangkap mobil yang sangat Rafi kenali. Mobil milik keluarga bos ayahnya. Rafi sudah bisa menebak siapa yang datang. Dugaannya benar, Pak Budiman datang setelah membuat janji dengan anak mantan rekan kerjanya itu.


"Ya ampun, Pak, kirain bapak nggak kesini besok besok," ucap Rafi saat menyambut pria yang telah dia anggap sebagai pengganti Ayahnya.


"Bapak penasaran saja dengan apa yang akan kamu omongin, jadi mumpung ada waktu, ya bapak langsung saja kesini," jawab pak Budiman. Rafi lantas mengajak pria itu menuju kursi tamu yang ada disana. Setelah mempersilahkan Pak Budiman duduk, Rafi sejenak pergi ke dapur untuk membuatkan teh hangat. Awalnya pak Budiman menolak, tapi Rafi tetap saja memaksa sampai Pak Budiman pasrah.


"Gimana keadaan Tuan Alexander, Pak? Apa sudah ada perkembangan?" tanya Rafi begitu selesai membuat teh celup dan meletakkannya di meja, tepat dihadapan Pak Budiman.

__ADS_1


"Masih koma, Fi. Entah kapan, Tuan akan sadar," wajah Pak Budiman terlihat sendu.


"Parah banget mungkin ya, Pak. Aku penasaran, siapa yang melakukan ini sebenarnya?"


"Bapak juga, tapi keluarga Tuan Alexander mencurigai kalau kakak dari Tuan Alexamnder lah dalang dibalik musibah yang menimpa bapak kamu dan Tuan, Fi."


Rafi tercengang mendengarnya. "Kok bisa, Pak?"


Pak Budi menagngguk, lalu dia mulai menceritakan kisah keluarga Alxander. Alexander adalah anak kedua dari keluagga Walinton. Dia mempunyai kakak dan adik yang sama sama laki laki. Mereka orang orang yang ambisius jika menyangkut soal harta. Bahkan hubungan kekeluargaan mereka semakin merenggang gara gara masalah harta juga.


Sebenarnya tuan Alexander sudah mengalah kalau dia tidak ingin mendapatkan harta warisan dari orangtuanya. Karena Alexander sudah memiliki beberapa perusahaan yang cukup besar, jadi dia menyerahkan bagian warisannya kepada dua saudaranya. Tapi yang namanya serakah, sang kakak ingin mengusai semua harta itu dan adik terakhir pun dicelakai oleh kakaknya.


"Ya begitulah, Fi. Makanya saya bingung gimana cara menyembunyikan Nona Marisa."


"Nona Marisa? Siapa dia?"

__ADS_1


"Anak ketiga Tuan Alexander. Dia katanya akan pulang ke negara ini. Tapi aku takut dia tidak aman, Fi."


Rafi nampak manggut manggut. Tiba tiba dia memiliki sebuah ide. "Gimana kalau Nona Marisa disuruh bersembunyi disini saja, Pak. Kayaknya disini aman. Hitung hitung biar aku yang jagain."


Terlihat jelas sekali kalau Pak Budiman cukup terkejut mendengar usulan Rafi. Pria itu lantas langsung saja memikirkan ide dari pemuda dihadapannya. "Benar juga ya, Fi, ide kamu. Mending untuk sementara Nona Marisa berada disini. kan orang orang nggak ada yang kenal sama kamu."


"Nah, maksud saya juga gitu. Kalau Nona Marisa mau berada dilingkungan seperti ini ya aku pikir ini jalan yang terbaik."


"baik deh, Fi, nanti aku coba bilang sama Nyonya," balas Pak budiman. "Terus kamu sendiri ada masalah apa, sampai minta bapak datang kesini?"


"Oh iya, aku malah lupa tujuan bapak datang ke sini, hehehe ..."


Pak budiman pun ikut terkekeh. "Ada apa memangnya? Ada masalah?"


"Gini, Pak. Tempat kos ini kan oleh pemiliknya mau dijual. Pak budi mau nggak pura pura jadi pembeli tapi pakai namaku, gimana?"

__ADS_1


"Apa! Pakai nama kamu?"


...@@@@@...


__ADS_2