SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Memanfaatkan Kesempatan


__ADS_3

Tanpa terasa waktu kini terus bergulir dan hari sudah menuju siang. Di saat itu, Rafi masih asyik duduk di post jaga sambil bercengkrama dengan dua pengawal yang sudah menyelesaikan tugasnya. Para penghuni kost juga satu persatu sudah keluar dari kamarnya. Bahkan ada beberapa orang yang hendak berangkat untuk memulai aktiftasnya.


Di saat itu juga, Marisa datang menghampiri Rafi. "Fi, kita nanti pulang jam berapa?" tanya Marisa begitu berdiri di dekat rafi dengan keadaan masih sedikit acak acakan. Sepertinya wanita itu baru saja bangun tidur.


"Ya nunggu Wildan pulang, kenapa?"


"Kamu nggak ngantor?"


"Nggak. Aku udah minta ijin sama Daddy."


Nampak wajah terkejut tergambar pada diri Marisa, tapi itu tidak berlangsung lama karena setelahnya Marisa nampak mengangguk beberapa kali. "Kalau aku pulang duluan gimana? Soalnya aku butuh laptop, Fi."


"Kenapa kemarin nggak di bawa sih? Lupa?" Marisa langsung mengangguk sambil cengengesan. "Ya udah kamu pulang dulu nggak apa apa. Nanti setelah urusan disini selesai aku akan langsung pulang."


Marisa langsung setuju dengan usulan Rafi. Dia segera saja beranjak menuju kamar untuk mengambil barang bawaannya. Rafi juuga memerintahkan salah satu pengawal untuk mengantarkan Marisa pulang. Beberapa saat kemudian, mobil yang Marisa, meluncur meninggalkan tempat kost.

__ADS_1


Melihat ada kesempatan bagus, Rafi langsung menghubungi wanita yang akan menjual mahkotanya. Namanya Dinda dan hari ini memang mereka sudah saling janji untuk bertemu. Meski perjanjian awalnya Rafi akan menghubungi Dinda setelah jam makan siang, tapi dengan adanya kesempatan sebagus ini, Rafi memutuskan langsung bergerak cepat.


"Baiklah, aku tunggu di tempat kost ya?" ucap Rafi membalas suara yang terdengar dari dalam ponselnya, Setelah itu panggilan pun berakhir.


Hingga beberapa puluh menit kemudian, wanita bernama Dinda terlihat datang ke tempat kost. Saat itu waktu baru menunjukkan pukul delapan lebih tiga puluh menit. Rafi menyambut kedatangan wanita itu dan mengajaknya duduk di ruang tamu.


"Kok waktunya berubah? Untung tadi aku belum berangkat cari uang," ucap Dinda begitu pantatnya menyentuh tempat duduk.


"Hehehe ... sorry, nanti siang aku ada pekerjaan," kilah Rafi. "Nanti kita main di sini aja."


"Loh, nggak jadi di hotel? katanya di sini nggak aman?" Dinda kembali dibuat terkejut karena semua rencana, telah berubah secara mendadak.


Sejenak Dinda mencerna ucapan Rafi, dan tak lama kemudian wanita itu mengerti. "Benar juga ya? Karena semua pada berangkat kerja, jadi tempat ini sepi."


"Ya maksud aku tuh emang seperti itu, makanya kita berhubungan badan di sini saja ya?" Dinda pun mengangguk dengan perasaan yang sebenarnya sedang gugup. "Ya udah, mending sekarang, kamu ke kamar dulu, nanti aku nyusul. Aku mau ngomong sebentar sama orang yang tadi bersamaku."

__ADS_1


"Aku nungguin di kamar? kamar yang mana?"


Bukannya menjawab, Rafi malah mengajak Dinda untuk bangkit dari duduknya dan keluar dari ruang tamu. "Tuh, kamar nomer tiga puluh yang ada di lantai dua. cat pintunya yang warna biru," tunjuk Rafi.


Wanita itu mengangguk kembali dan tanpa perlu berlama lama, Dinda langsung beranjak menuju kamar yang ditunjuk Rafi. sedangkan Rafi sendiri memilih beranjak menuju ke salah satu pengawalnya guna menitip beberapa pesan. Setelah selesai, Rafi bergegas menuju kamar untuk segera menikmati mahkota milik Dinda.


Sementara itu, jauh di tempat yang berbeda, terlihat dua orang berbadan tegap menarik sebuah koper yang cukup besar. Sesekali senyum mereka merekah begitu kakinya manapaki jalan di bandara. Sebelum keluar dari area bandara, dua orang itu menghampiri salah satu petugas bandara untuk mencari informasi yang dia butuhkan. Setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan, dua pria berwajah bule segera keluar dari area bandara dan mencari taksi untuk mengantar mereka ke arah salah satu hotel.


"Menurutmu? Apa mungkin Moreno sudah tahu kehadiran kita di negara ini?" tanya salah satu dari dua bule itu begitu taksi yang membawa mereka, meluncur meninggalkan bandara.


"Kalau menurutku, sepertinya Moreno memang sudah tahu. Kamu kayak nggak kenal Morreno aja, brat," balas temannya dan hal itu malah membuat pria yang tadi melempar pertanyaan sontak terkekeh.


"Hahaha ... ya kali aja, anak buah Moreno, saat ini, sedang lengah dan kita lolos dari pantauannya."


"Cih, mana mungkin. Maka itu kita harus hati hati dalam melakukan rencana kita. Pokoknya kita harus berhasil secepatnya mengetahui orang yang akan menggantikan posisi Moreno di negara ini."

__ADS_1


"Siap!"


...@@@@@@@...


__ADS_2