
Rafi kembali ke ruangannya dengan perasaan yang sangat lega. Setidaknya satu masalah sudah berhasil dia atasi. Kini saatnya Rafi mulai bekerja sekaligus memikirkan jalan keluar untuk mengatasi masalah yang lain, termasuk urusan dengan panti asuhan dan juga yang paling utama adalah urusan dengan Sergio dan anggota tatto tulang ikan.
Rafi sengaja, tidak melakukan rencana apapun untuk menghadapi Sergio dan orang orangnya. Tapi pemuda itu memilih menunggu sang musuh bergerak terlebih dahulu. Rafi sangat yakin kalau Sergio dan para anggota tato tulang ikan pasti saat ini sedang merencanakan ssesuatu untuk menghadapinya.
Apa yang dipikirkan Rafi memang tidak sepenuhnya salah. Sergio memang sudah merencanakan untuk menghabisi Rafi. Tapi pria itu belum melancarkan aksinya karena memang dia belum menemukan saat yang tepat untuk melakukan penyerangan. Tapi bukan Sergio namanya kalau tidak melakukan pengintaian. Orang orang tulang ikan tentu saja sudah melakukan pengintaian terhadap Rafi.
Dan waktu pun terus bergulir. Saat ini gantian istri dan anak anak Moreno yang akan meninggalkan negara ini. Ada rasa lega dalam diri Rafi, karena Angela mau ikut pulang. Awalnya wanita itu meminta pada ayahnya untuk menginap beberapa hari lagi di negara ini. Namun saat Aron mengingatkannya kalau ada yang harus dikerjakan Angela, wanita itu dengan sangat terpaksa mau pulang ke negaranya.
Bukannya Rafi tidak suka dengan keberadaann Angela di negara ini. Rafi hanya lebih menghormati ayah angkatnya saja. Angela cantik dan lubangnya juga enak. Pria manapun juga pasti akan doyan jika tidur dengan wanita itu. Tapi Rafi memilih menghindarinya daripada terjadi hal hal yang tidak diinginan nantinya.
"Kamu kenapa melamun? Kangen Marissa?" suara Moreno yang tiba tiba menggelegar tentu saja membuat Rafi terkejut. Malam ini setelah makan, Rafi memang memutuskan duduk di kursi teras belakang dengan mempelajari semua pekerjaannya melalui laptop. "Baru juga tadi pagi Marisa pergi, udah kangen aja kamu," seloroh Moreno yang ikutan duduk di tempat yang sama.
__ADS_1
"Ya, gimana nggak kangen, Dad, hampir tiap hari kita selalu bareng. Dari bangun tidur sampai tidur lagi, kita selalu ketemu. Eh sekarang kita malah jauhan. Walaupun ada ponsel, tetap saja rasanya beda."
Moreno lantas tersenyum. "Ya, Daddy tahu rasanya. Jauh dari keluarrga juga rasanya sangat nyiksa. Oh iya, katanya kamu sudah ada calon untuk dijadikan asisten, kapan dia datang?"
"Besok. Dad. Oh iya, Dad, akhir pekan nanti kan libur, aku ingin pulang kampung. Ingin menjenguk makam ayah sama ibu dan juga ketemu dengan warga kampung juga."
Moreno nampak mengangguk beberapa kali. "Urusan panti gimana? Sudah selesai?"
Moreno kembali tersenyum. "Kamu begitu bijak menggunakan uang yang kamu miliki, Fi. Daddy sangat salut dengan didikan orang tua kamu."
Rafi pun ikut tersennyum. "Ya karena aku pernah ada di posisi hampir sama dengan mereka, Dad. Lagian apa gunanya punya uang banyak kalau tidak digunakan yang lebih bermanfaat bagi orang lain. Rumah sudah ada, barang mewah juga sudah ada. Jadi nggak salah, kan, kalau uang yang aku miliki bisa digunakan untuk hal yang lebih bermanfaat."
__ADS_1
"Tentu saja itu tidak salah. Daddy selalu dukung kamu. Selama itu untuk hal yang baik, akan ada Daddy di belakang kamu."
"Makasih, Dad." dan beberapa puluh menit kemudian, pembicaraan pun berakhir. Keduanya memilih memasuki kamar masing masing, untuk melepas lelah setelah seharian bergelut dengan pekerjaan mereka.
Hingga hari kembali berganti, kini orang yang akan menjadi asisten pribadi sudah berada di kantor Rafi. Dialah Dito, teman yang Rafi kenal pertama kalinya saat baru pindah ke kota besar. Dekat dengan Dito, membuat Rafi percaya kalau pria yang usianya lebih tua satu tahun diri dirinya sangat yakin, Dito bisa membantunya dalam segala hal. Selain masalah kantor, tentunyya masalah lainnya termasuk jika ada wanita yang ingin memanfaatkan Rafi.
Dua hari kemudian, akhir pekan pun tiba. Seperti yang direncanakan, Rafi saat ini sedang menuju ke kampungnnya. Dia hanya pergi berdua dengan Dito selaku jadi supir dan juga pengawal pribadinya.
"Gimana, Dit? Rasaanya kerja kantoran," tanya Rafi ditengah tengah perjalanannya.
"Ya, yang pasti senang lah, Fi. Apa lagi posisiku langsung tinggi gini. Nggak nyangka aja, kamu akan menaikan derajatku," jawab Dito yang matanya lebih fokus ke arah jalan. Rafi pun ikutan mengulas senyum.
__ADS_1
Begitu sampai di tempat tujuan, Rafi memilih langsung menuju ke makam orang tuanya. Dan betapa terkejutnya Rafi saat matanya menangkap sosok yang dia kenal sedang berada di makam orang yang paling berharga dalam hidup Rafi.