SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Setelah Urusan Kamar Usai


__ADS_3

Puas melakukan aktifitas di dalam kamar, Rafi dan Marisa memilih membersihkan badan mereka di kamar yang berbeda. Meski Rafi sudah melihat sebagian tubuh Marisa, tapi wanita itu masih belum mau melakukan hal yang lebih, jadi mereka memutuskan mandi di tempat yang berbeda.


Selesai mandi, Rafi dan Marisa memilih tempat duduk yang ada di taman belakang untuk memulai pelajaran yang dibimbing oleh Marisa. Dengan materi yang sudah Marisa dapat dari orang kantor suruhan Moreno, Marisa mulai menunjukkan tahapan tahapan ilmu yang harus Rafi pelajari.


Dengan ditemani dua gelas es kopi dan beberapa cemilan, Rafi dengan serius memperhatikan setiap ilmu yang Marisa sampaikan. Marisa sungguh terlihat sepeerti guru idaman. Sudah cantik, cara menyampaikan ilmunya pun sangat elegan, jelas dan mudah dimengerti oleh Rafi. Kalaupun ada sesuatu yang Rafi tidak terlalu jelas memahami, maka Marisa akan kembali mengulang bagian yang Rafi tidak pahami dengan jelas sampai pemuda itu paham.


"Ternyata belajar ilmu perusahaan sangat memusingkan ya?" keluh Rafi begitu kegaiatan belajarnya selesai. "Pantas, kebanyakan yang bekerja di kantor kantor lulusan sekolah tinggi semua."


Marisa tersenyum. sesekali tangannya mencomot cemilan dalam toples yang kini berada di atas pangkuannya. "Ini kelihatan sulit karena kamu belum praktek aja, Fi. Nanti kalau kamu sudah menjalani pekerjaan, kamu juga akan tahu mudah dan sulitnya menjalankan perusahaan. Apa lagi kamu akan menjadi presdir, pasti pekerjaan kamu akan sering berhubungan dokumen serta memeriksa beberapa laporan."


Rafi nampak manggut manggut, lalu dia meraih toples yang berada pada pangkuan Marisa dan memindahkannya di atas meja. Setelag itu Rafi merebahkan kepalanya di atas pangkuan wanita yang sedang bersamanya. "Kamu serius, nggak ingin terjun dikantor ayah kamu?"


Marisa menggeleng sembari memainkan dagu Rafi yang ditumbuhi jambang tipis. "Nggak lah, ada dua kakakku ini. Lagian aku ingin jadi seketretasis kamu, Fi."


"Oh iya, ya. nanti aku butuh sekretaris. Kira kira nanti aku butuh supir dan asisten pribadi nggak, Sha?"

__ADS_1


"Ya pasti kamu nanti butuh lah. Kalau biasanya asisten pribadi yang usianya nggak terlalu jauh dari kamu. Fi. Biar dia juga bisa jadi teman kamu. Kalau bisa yang jago bela diri juga. Nanti kalau kamu sudah menjabat sebagai presdir, pasti banyak pihak musuh yang ingin menjatuhkan kamu beserta keluarganya."


"Kayak ayah kamu ya?" tanya Rafi, dan Marisa sontak mengiyakan. "Kira kira Daddy Moreno punya musuh nggak ya? Secara dia bisnisman kelas dunia?"


"Ya pasti ada. Nanti lama lama kamu juga bakalan di kasih tahu. Makanya aku saranin kamu nyari supir yang minimal bisa bela diri juga kayak kamu. Paling nggak bisa jaga jaga agar nasibnya nggak sama kayak ayah kita, Fi."


Rafi pun membenarkan ucapan Marisa. "Ya sudah, nanti aku coba cerita sama Daddy. Semoga dia bisa bantu nyariin."


Sementara itu di tempat lain, tepatnya di tempat kost milik Rafi, terlihat Kalina sedang bermain dengan Alisa di salah satu ruang yang ada di sana. Sedangkan Wildan terlihat baru saja masuk sambil menentang kantung plastik berisi cemilan dan melangkah menuju ke ruang dimana dua wanita beda usia sedang bermain.


"Wil, sebentar lagi Alisa sudah mulai sekolah dong ya?" tanya Kalina begitu Wildan duduk di sau ruang bersamanya.


"Kan ada aku, aku mau kok jagain," Kalina pun ikutan mengambil cemilan berupa roti goreng.


"Loh, emang kamu akan disini terus? Aku pikir jika kamu berhasil merebut rumah orang tua kamu, kamu akan tinggal di kampung?"

__ADS_1


"Aku tinggal di kampung sama siapa? Emang kamu mau Kita melakukan hubungan jarak jauh? yang ada nanti aku terus terusan diganggu juragan Selamet."


"Hahaha ... iya juga ya? Terus kalau kamu tinggal disini, apa yang akan kamu lakukan? Nggak mungkin kan kamu selamanya nggangur?"


"Ya mungkin kita bisa sama sama merintis usaha, gimana?"


"Wahh! Ide bagus tuh, boleh boleh."


Di saat mereka sdang asyik berbincang, mereka mendengar ada seseorang yang teriak teriak. Wildan segera bangkit dari duduknya dan keluar dari ruangan itu.


"Permisi. Mas, mau nganter paket."


"Paket? buat siapa ya mas?"


"Di sini tertulis nama Rafi."

__ADS_1


"Oh, oke," Wildan menerima paket itu. Saat diteliti, paket itu ternyata hanya ada tulisan untuk Rafi, tidak ada alamat atau nama jasa pengiriman. "Paket apa nih? Kok aneh benar?"


...@@@@@...


__ADS_2