SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Kerja Sama


__ADS_3

"Apa!" pekik Kalina langsung menatap wajah pria yang terbaring bersamanya. "Kamu serius? Ayahmu meninggal karena dibunuh?"


Rafi mengangguk. "Ayahku meninggal saat terjadi perampokan. Saat itu ayahku sedang bersama bosnya. Sampai saat ini saja bos ayahku katanya belum sadarkan diri."


"Astaga! Kok bisa? Mengerikan sekali," Kalina masih menatap Rafi dengan rasa yang tidak percaya dengan apa yang dia dengar. "Lalu bagaimana cara kita mencari pembunuh ayah kamu, Fi?"


pemuda itu lantas menceritakan petunjuk yang dia dapat dari ang ayah. Rafi juga menceritakan tentang penghuni kost yang baru saja datang hari ini saat mereka berdua lagi menikmati sarapannya. Dari cerita yang Rafi katakan, Kalina mengerti apa yang harus dia lakukan.


"Berarti kamu akan menyuruhku untuk mendekati wanita dan anak itu?" terka Kalina.


"Iya. Kamu deketin mereka dan usahakan agar kamu bisa akrab dan mudah mudah mencari informasi tentang TGM itu."


Kalina nampak mengangguk tanda mengerti "Baiklah, jadi mana yang harus kita lakukan dulu? menyelidiki pembunuh ayah kamu atau menyelesaikan masalahku?"


"Menurutku lebih baik kita melakukan penyelidikan dulu, nanti kalau kita sudah dapat informasi, baru kita berangkat ke kampungmu, gimana? tanah rumah kamu masih aman di tangan rentenir itu kan?"


"Sepertinya sih masih. Bukankah tiap bulan ada bunganya? Pasti Paman aku akan terus menyalahkanku."


"Nggak perlu kamu pikirkan. Nanti kita sama sama hadapi keluarga kamu."


Kalina lantas tersenyum dan mendaratkan bibirnya di pipi Rafi sembari mengucapkan kata terima kasih lalu kembali merebahkan kepalanya di dada pemuda itu. Padahal di luar, panas sangat menyengat, tapi entah kenapa dua anak manusia itu masih betah di dalam kamar tanpa memakai busananya.

__ADS_1


Mungkin karena memang tempat kost tersebut sangat sepi di siang hari, jadi keduanya merasa aman saja berada di dalam kamar selama mungkin. Sekarang waktu sudah menunjukkan hampir jam dua belas siang, tapi keduanya masih larut dalam diam dengan tubuh yang masih menempel.


"Kal," suara Rafi kembali terdengar setelah beberapa saat tadi terdiam karena kehabisan bahan pembicaraan.


"Hum?" sahut Kalina tanpa menatap wajah si pemanggil. Mata Kalina terpejam sambil mengusap dada Rafi yang terasa sangat nyaman.


"Bisa minta tolong?"


Kali ini kalina dengan antusias langsung mendongak. "Minta tolong apa?"


"Itu ..." Rafi menjawab dengan ragu.


"Itu apa? Katakan saja? Jangan sungkan," Kalina makin antusias.


"Iya lah, selama ini kamu juga sudah banyak nolong aku, jadi sekarang gantian aku harus bisa nolong kamu. Katakanlah," balas Kalina dengan semangat.


Rafi lantas tersenyum dn mengusap pipi wanita itu. "Tolong kamu mainin punyaku pakai mulut kamu ya?"


Senyum Kalina yang tadi sempat terkembang berubah menjadi rasa terkejut, begitu mendengar permintaan yang Rafi katakan. "Astaga, Fi! kamu serius? jorok tahu."


"Ayolah, pliss? Aku pengin merasakannya, Kal? tolonglah."

__ADS_1


"tapi, Fi.Yang lain aja deh. Masa aku makan isi celana kamu? yang benar saja?"


Rafi mendengus kesal, wajahnya langsung di tekuk dan dia merubah posisinya menjadi memunggungi Kalina. Tentu saja sikap Rafi membuat Kalina dilema. Bagaimana mungkin dia melakukan hal yang diminta Rafi. Membayangkannya saja dia merasa jijik. tapi melihat Rafi cemberut seperti itu, Kalina jadi merasa tak enak sendiri. Biar bagaimanapun Rafi lah yang saat ini sering menolongnya.


Rafi memang penasaran dengan apa yang dia lihat saat menonton video. Kemarin bersama Nancy, dia tidak sempat mewujudkannya, dan sekarang dengan Kalina, Rafi merasa memiliki kesempatan untuk mengobati rasa penasarannya. Tapi penolakan yang Kalina lontarkan cukup membuatnya kecewa.


Namun di saat Rafi terdiam, matanya menangkap tubuh Kalina yang berpindah tempat menjadi duduk di hadapannya. Tangan wanita itu perlahan bergerak dan meraih benda milik Rafi yang sudah setengah menegang. Rafi diam saja, hanya matanya yang terus mengawasi gerak gerak Kalina.


Meski awalnya ada keraguan, akhirnya keinginan Rafi bisa dipenuhi oleh Kalina. Semula Kalina sempat merasa mual karena benda menegang milik Rafi bau asam. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, kini Kalina malah terlihat enjoy menikmati milik Rafi dengan mulutnya. senyum Rafi langsung terkembang begitu keinginannya sudah terwujud.


"Enak?" tanya Kalina. Rafi dengan sangat antusias langsung mengangguk. Tangannya meraih dan menggenggam rambut kalina agar wanita itu tidak terganggu saat memainkan batangnya.


"Kita main lagi mau nggak, Kal?" ajak Tafi.


"Aman nggak? Ini sudah siang loh."


"Aman dong. kan, aku lebih tahu kapan tempat ini rame."


"Baiklah."


Senyum Rafi langsung melebar dan detik detik ronde kedua akan segera dilaksanakan.

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2