
"Enak banget, Sayang, Akhh~~"
Pria yang sedang menyodok lubang nikmat milik seorang wanita itu sontak menyeringai memandangi wajah wanita yang tergelok pasrah di bawah tubuhnya.
"Yang kenceng nyodoknya, Sayang," racau si wanita. Tanpa menjawab, pria itu mempercpat gerakan pinggangnya sembari menyambar bibir si wanita yang sedang keeenakan. "Mmmh~~"
"Mau dikeluarin di dalam lagi apa gimana, Sayang?" tanya pria yang baru saja menyambar bibir wnita yang terletak pasrah di bawahnya.
"Di dalam lagi aja, Sayang," jawab si wanita. Pria itu langsung mengiyakan, lalu dengan gerakan pinggang yang dipercepat, pria itu ingin segera menuntaskan permainannya. Dan seperti kebanyakan hubungan ranjang lainnya, jika pria sudah menyemburkan benih, berarti itu adalah tanda kalau permainan sebentar lagi berakhir.
"Akhh~~" lenguhan panjang menggema hanpir memenuhi ruang kamar. Seorang pria telah menyemburkan benihnya setelah tubuhnya mengejang dan menegang. Hingga tetes terakhir, benih itu dia tumpahkan ke dalam lubang wanita yang baru dia lihat wajahnya, kemarin siang. Pria itu ambruk di samping tubuh wanita dengan nafas yang menderu.
"Punya kamu enak juga, Dit. Walaupun hitam, tapi gede banget, gemuk," ucap si wanita beberapa saat kemudian setelah nafasnya sudah berhembus secara normal. Wanita baru tadi mengetahui nama pria yang memuaskannya, ketika mereka berdua sudah berada dalam satu kamar. Wanita bernama Arinda itu kini memiringkan tubuhnya dengan tangan kanan memainkan benda milik pria di hadapannya.
__ADS_1
"Hehehe ..."Pria yang sedang telentang menghadap langit langit itu sontak terkekeh. "Tadi aja kamu sempat nggak mau kan? Eh malah akhirinya kamu sampai minta tiga ronde. Untung aku kuat."
"Ya kan aku nggak tahu, kamu bakalan sekuat dan seenak ini. Untung aku juga masih rutin pakai kontrasepsi, jadi benih sebanyak apapun yang kamu masukkan, aku masih bisa menampungnya dengan tenang."
Dito kembali terkekeh. Dia memang cukup takjub dengan wanita di sebelahnya. Bagi Dito, wanita yang saat ini sedang memainkan benda miliknya termasuk wanita yang hyper. Meskipun ini bukan yang pertama kali Dito menemui wanita seperti itu, tapi Dito cukup kaget karena wanita ini jika diperhatikan, seperti wanita baik baik. Wajar sih, jika Rafi dulu ketipu dengan cinta palsu Arinda.
"Jadi gimana? Mau main lagi?" tawar Dito, antara serius dan bercanda.
Wanita itu melihat jam di tangan yang saat ini sedang memainkan batang milik Dito. "Nggak lah, udah hampri sore. Nanti kita malah ketahuan Rafi, bisa bahaya."
"Penginnya sih lanjut, tapi kalau nanti ketahuan Rafi gimana? Bisa bisa rencana aku untuk kembali kepadanya berantakan," Dito sontak mengiyakan. Lagian dia dan rafi juga sebentar lagi mau ke kota, makanya Dito antara serius dan bercanda, saat mengajak Arinda untuk bermain lagi. "Tapi kamu serius kan, mau bantuin aku dekat dengan Rafi?" tanya wanita itu lagi.
Dito langsung memiringkan tubuhnya menghadap Arinda. "Ya seriuslah, Sayang," jawab Dito terlihat sangat meyakinkan. "JIka kamu kembali sama Rafi, kita jadi mudah dan bisa sering main kayak gini, benar nggak?" Arinda justru dengan sangat sumringah langsung menunjukan senyumnya.
__ADS_1
Dito lantas menyeringai. Biar bagaimanapun itu hanya bualan semata. Mana mungkin Dito akan mempertaruhkan kepercayaan Rafi kepadanya. Sebrengsek brengseknya pria itu, Dito juga masih bisa berpikir jernih. Kerja ikut Rafi lebih enak dari saat dia masih jadi satpam. Gaji gede. Rafi kemana mana, Dito ikut. Rafi makan enak, Dito juga makan enak. Urusan wanita untuk teman tidur, Dito lebih mudah mencarinya setelah pekerjaannya terbilang lebih keren.
"Baikah, aku harus segera pulang, takut nanti Rafi nyariin kamu," Arinda langsung bangkit dari tidurnya.
"Yakin nih langsung pulang? Nggak mau nambah?" Dito masih saja menggodanya dan hal itu sukses membuat Arinda dilema.
"Jangan bikin aku galau sih?" keluh wanita itu. Dito pun kembali terkekeh. Akhirnya dia merelakan wanita itu untuk mengenakan pakaianya. Setelah siap, Arinda dan Dito perang bibir terlebih dahulu, lalu wanita itu segera pergi meninggalkan pria yang masih terbaring tanpa busana.
Dari sisi yang berbeda, Rafi hanya menggelengkan kepalanya saat melihat Arinda baru keluar dari hotel, sedang mengeluarkan motor dari tempat parkir. Saat itu Rafi baru pulang dari komplek rumahnnya dengan naik ojeg. Waktu minta jemput Dito, Rafi dapat jawaban, kalau Dito masih main dengan Arinda.
Untungnya Arinda tidak melihat kedatangan Rafi. Mungkin karena wanita itu terburu buru dan takut kelihatan oleh Rafi, jadi wanita itu meninggalkan area hotel dengan tergesa gesa. Dari jarak yang tidak terlalu jauh, Rafi hanya bisa menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Untung, aku bisa lepas dari wanita seperti itu, menjijikkan!" umpat Rafi, lalu segera dia masuk ke dalam hotel.
__ADS_1
...@@@@@@...