SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Pulang Kampung


__ADS_3

"Kamu ngapain ada di sini!" seru Rafi begitu dia sudah berada di salah satu sisi dekat dengan makam orang tuanya. Wajah Rafi terlihat sangat terkejut dengan adanya sosok yang dulu pernah sangat melukai dirinya.


"Rafi! Kamu udah datang?" sosok yang sedari tadi menunduk itu mendongak begitu mendengar suara Rafi yang terdengar lantang. Sosok itu terlihat terkejut dengan kedatangan Rafi yang ada di tempat yang sama dengan dirinya.


"Kamu ngapain ada di makam orang tuaku?" tanya Rafi dengan wajah heran dan juga penuh rasa benci dengan sosok itu.


"Ya merawat makam orang tua kamu, dong, Fi. Lihat, makam orang tua kamu bersih dari rumput kan?" sosok itu malah terlihat ceria dengan senyum yang menurut Rafi adalah senyum palsu. "Kamu tahu nggak, Fi, aku tuh melakukan ini karena aku menyesal, dulu pernah sangat melukai kamu. Asal kamu tahu, sebagai rasa penyesalanku, aku selalu datang kesini untuk meminta maaf pada orang tua kamu dan merawat makamnya. Tiap dua hari sekali aku kesini."


Rafi langsung mengerutkan kening. Sudah pasti ucapan yang keluar dari mulut sosok yang bernama Arinda, penuh dengan kebohongan. Karena yang Rafi tahu, selama Rafi pergi, orang yang merawat makam orang tua Rafi itu Madi dan istrinya, karena Rafi pernah minta tolong sama suami istri itu. Jadi sangat tidak mungkin jika semua ini Arinda yang melakukannya.


"Apa kamu yakin dengan ucapan kamu itu?" tanya Rafi sembari dia berjongkok menghadap makam orang tuannya.

__ADS_1


"Tentu saja. Aku melakukannya tanpa sepengatuan orang lain, tapi orang tuaku tahu aku melakukan ini. Mereka malah mendukungku. Orang tuaku juga menyesal karena telah berbuat salah sama kamu"


Mendengar celotehan Arinda, sekarang Rafi bisa menyimpulkan tentang maksud dari ucapan wanita itu. Pasti semua ini ada hubungannya dengan keadaan Rafi yang sudah berubah. Rafi seketika tersenyum sinis dan memilih mengabaikan ucapan Arinda. Pemuda itu mulai mengirimkan doa doa terbaik untuk orang tuanya dengan perasaan yang sangat bergemuruh.


Begitu selesai, Rafi langsung bangkit dan segera beranjak meninggalkan makam orang tuanya. Arinda yang sedari tadi menunggu Rafi, tentu saja langsung bergerak mengikuti pria itu. Bahkan Arinda dengan sangat percaya dirnya langsung memeluk Rafi dari belakang.


"Kamu apa apaan sih!" bentak Rafi yang tanpa basa basi langsung menghempas tangan Arinda yang memeluknya dengan erat.


"Minta maaf yang tinggal ngomong, nggak perlu pakai peluk peluk!" sungut Rafi dan ucapannya terasa sangat pedas bagi Arinda.


"Fi, aku tuh menyesal. Aku tahu aku salah, makanya aku ingin melakukan ini semua. Aku tuh sebenarnya masih cinta sama kamu, Fi," Arinda langsung menunjukkan wajah sedihnya. Namun entah kenapa, Rafi sangat meyakini kalau wanita itu hanya sedang bersandiwara saja.

__ADS_1


Karena terlalu kesal dengan wanita itu, Rafi memilih berbalik badan, meninggalkan Arinda tanpa bersuara. Tapi bagi Arinda, sikap diamnya Rafi malah membuat wanita itu mengembangkan senyumnya. "Aku yakin, Fi. Kamu masih cinta sama aku. kamu diam karena kamu terkejut bukan? Tenang aja Rafi, aku kali ini yang akan mengejarmu dan mengembalikan cinta kamu untukku lagi," Arinda langsung menyeringai.


Kedatangan Rafi di komplek tempat tinggalnya, langsung disambut meriah oleh orang orang, warga sekitar. Meskipun orang yang disambut adalah orang yang sama, tapi cara menyambut kedatangan Rafi jelas sangat berbeda. Jika Rafi datang dalam keadaan masih miskin, mungkin para warga menyambutnya tidak seheboh dan sehangat saat ini. Rafi sungguh diperlakukan bagai orang yang sangat istimewa sejak dirinya memilki kedudukan yang sangat diidamkan oleh banyak orang.


"Mas Rafi, apa Mas Rafi, tidak ada rencana, untuk membangun kampung kita ini agar lebih maju?" tanya salah satu warga. Bahkan, panggilan warga yang biasanya hanya menyebut nama jika memanggil Rafi, kini langsung pada berubah. Tentu saja sikap mereka juga lebih sopan.


"Benar, Mas Rafi, tolong lakukan sesuatu untuk kampung kita ini agar semakin maju dan juga pengangguran berkurang banyak," warga yang lain ikut menimpali.


"Ya aku akan lihat dulu, potensi yang ada pada kampung ini, Pak. Kalau memang ada potensi, aku bisa memikirkannya untuk membangun sesuatu bagi kampung ini," jawab Rafi dengan tenang dan terlihat sangat berwibawa.


Di saat suasana perbincangan sedang sangat menghangat, tiba tiba datang seseorang, langsung menyerobot warga dan berhenti di hadapan Rafi. "Nak Rafi, tolong, anak saya sedang dalam bahaya."

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2