SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Menemani Marisa


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, Rafi terdiam sembari menikmati pemandangan di sisi jalan yang beberapa waktu ini menjadi pemandangan sehari hari yang bisa dia nikmati jika pulang maupun pergi dari rumah menuju kentor ataupun sebaliknya. Meski terdiam, pikiran pemuda itu berkelana pada penawaran yang baru saja dia dapatkan saat tadi dia singgah di rumah sakit.


Rafi masih tidak menyangka kalau dia bisa begitu mudah mendapat penawaran seperti itu. Rafi memperhatikan dirinya sendiri, mungkin karena keadaan yang sekarang berbeda, jadi wanita itu bisa langsung memberi penawaran yang sangat tidak biasa. Rafi yakin kalau wanita itu pasti berpikiran kalau Rafi adalah orang yang memiliki banyak uang karena penampilan Rafi yang memang mencerminkan penampilan sebagai orang kaya.


Rafi memang tidak menolak penawaran tersebut. Biar bagaimanapun Rafi pria normal yang juga menyukai wanita yang masih bersegel. Rafi hanya sengaja memberi waktu wanita itu untuk berpiikir ulang keputusannya karena itu akan mempengaruhi masa depan si wanita. Walaupun pada kenyataannya, banyak wanita yang sudah melepas mahkotanya diluar nikah, entah kenapa Rafi justru memikirkan nasib masa depan para wanita yang sudah dia renggut mahkotanya.


Lamunan Rafi seketika buyar begitu mobil yang dia naiki masuk ke dalam area rumah yang katanya adalah rumah miliknya. Entah benar atau tidak jika rumah mewah itu memang miliknya, tapi Rafi cukup senang tinggal di tempat yang sangat nyaman.


Begitu memasuki rumah, Marisa sudah menunuggu kedatanganyya pulang. Layaknya istri yang menyamut suaminya, Marisa langsung bergelayut di lengan rafi saat menyambut kedatangannya.


"Gimana, Fi? Kita jadi nyari baju sekarang kan?" tanya Marisa dengan manjanya.


"Ya nanti dulu, dong. Aku kan perlu ganti baju," tolak Rafi sembari kakinya melangkah santai menuju lantai dua, dimana letak kamarnya berada.

__ADS_1


"Nggak usah ganti baju," cegah Marisa. "Kamu tahu nggak, laki laki kalau menemani wanita membeli baju tapi laki lakinya tetap memakai pakaian seperti yang kamu pakai ini, itu terlihat keren tahu. Pasti orang orang akan berpikir kalau kamu laki laki yang sangat kaya dan baik hati karena mau membelikan sang kekaasih baju. Ya walaupun pada kenyataannya aku yang bayar baju sendiri."


Rafi seketika terkekeh, tapi dia tertarik dengan ide yang Marisa katakan. "Ya udah kalau begitu kita pergi sekarang," ajak Rafi yang menghentikan langkah kakinya sebelum menaiki anak tangga.


"Ya udah, aku mau ambil tas dulu. Kamu tunggu disini," Rafi mengangguk. Marisa langsung naik ke lantai dua, dan tidak butuh waktu lama keduanya nampak keluar dari rumah. Melihat sang tuan rumah yang sepertinya mau pergi, empat orang pria berbadan tegap yang saat ini memang sudah siap sedia berada di rumah Rafi langsung pada mendekat.


"Apa Tuan muda daan Nona akan pergi?" tanya salah satu dari empat pria berbadan tegap itu.


"Benar, Tuan muda, kami siap menjaga anda kapanpun," jawab mereka lagi.


"Baiklah, kami akan pergi mencari baju."


"Baik, Tuan muda. Kami akan mengawasi anda tak jauh dari keberadan anda."

__ADS_1


Dengan mobil terpisah mereka semua berangkat menuju ke sebuah butik yang Marisa dapatkan berkat rekomendasi dari temannya. Apa yang dikatakan Marisa memang benar, begitu mereka sampai di tempat tujuan, kedatangan Rafi daan Marisa langsung menjadi pusat perhatian. Rafi yang awalnya bingung harus bersikap bagaimana, langsung diberi arahan oleh Marisa aga dia bersikap biasa saja, santai tapi dingin biar aura presdirnya melekat pada diri Rafi agar terkesan sangat berwibawa.


Rafi yang memang sebenarnya sudah tampan sejak lahir, jelas saja aura ketampannya semakin bersinar dengan pakaian yang dia kenakan. Sikap dingin dan acuh yang dia tunjukkan juga semakin menambah daya tarik para wanita yang ada di sana untuk memperhatikannya. Tak sedikit wanita yang berkhayal ingin berada di posisi Marisa saat ini.


"Gimana,Sayang? Bagus nggak?" tanya Marisa sengaja memakai kata sayang agar wanita yang sedari tadi menatap lapar ke arah Rafi tahu kalau pria tampan yang mereka perhatikan adalah kekasihnya. Ya meskipun pura pura.


"Apapun yang kamu pakai, tetap terlihat cantik kok," jawab Rafi jujur.


"Hahaha ... bisa aja kamu ngomong, Yang. Ya udah aku ambil yang ini aja deh, lebih cocok yang ini daripada yang tadi."


Rafi hanya mengangguk dan Marisa kembali masuk ke ruang yang digunakan untuk mencoba baju. Setelah selesai melakukan pembayaran, mereka memutuskan pergi jalan jalan ke tempat lain. Di saat mereka melangkahkan kakinya keluar dari butik tersebut, mereka dikejutkan dengan suara seseoang yang memekik menyebut nama salah satu dari mereka.


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2