
"Papih!" pekik Lupita dengan suara lumayan kencang. Begitu bangun tidur, wanita itu tidak melihat Sergio di atas brangkarnya. Lupita segera saja bangkit dan memeriksa segala yang ada di ruangan tersebut. "Astaga! Apa Sergio diculik? Tapi kunci mobil, dompet dan baju ganti Sergio nggak ada. Apa dia kabur?"
Pikiran Lupita seketika menjadi kacau. Tanpa mempedulikan penampilannya, Lupita langsung menghubungi keluarganya sembari keluar kamar untuk menemui petugas rumah sakit. Rasa terkejut sontak menyerang keluarga Cahaya gemilang. Mereka segera bersiap diri untuk pergi ke rumah sakit.
Begitu menghadap perawat yang sedang berjaga, Lupita langsung saja melaporkan tentang suaminya yang menghilang. Beberapa perawat juga sangat erkejut mendengar laporan itu. Mereka lalu mengajak Lupita untuk pergi ke ruang pengawas, guna memeriksa cctv.
"Jadi suamiku kabur!" ucap Lupita begitu melihat hasil rekaman dari pantauan cctv. Di sana jelas sekali terlihat kalau Sergio memang pergi sendirian. Namun di saat berada di tempat parkir, rekaman menunjukan Sergio sedang bicara dengan seseorang lalu mereka pergi bersama menggunakan mobil yang biasa digunakan Lupita. "Siapa pria itu? Apa anak buahnya Sergio?"
"Gimana, Bu? Apa kita langsung membuat laporan atas hilangnya suami ibu?" salah satu petugas keamanan memberikan saran.
"Jangan dulu. Aku kayaknya kenal orang yang bersama suamiku," ucap Lupita, lalu tak lama setelahnya, wanita itu meminta ijin keluar dari ruangan tersebut.
Karena Sergio pergi, dengan terpaksa Lupita terlebih dahulu melunasi biaya perawatan suaminya sembari menunggu keluarganya datang. Di dalam rekaman, jelas sekali kalau Sergio pergi menggunakan mobilnya, jadi Lupita berinisiatif menunggu keluarganya saja. Yang membuat Lupita penasaran, kemana Sergio pergi dan kenapa suaminya pergi diam diam. Lupita masih berbaik sangka karena mengira Sergio pergi bersama anak buah yang Lupita tahu kalau mereka adalah anggota Jaringan tato tulang ikan.
"Apa yang terjadi? Kenapa Sergio pergi diam diam begitu?" cecar wanita tua setelah bebarapa menit, dia dan keluarga yang lainnya datang menemui anaknya. Lupita langsung saja menceritakan semua yang dia tahu bersam dugaan dugaannya.
"Apa kamu yakin, Sergio pergi untuk membalas perbuatan Rafi?" sang Ayah malah meragukan cerita dari anaknya.
"Aku sangat yakin, Ayah, pasti Sergio pergi bersama anak buahnya," jawab Lupita dengan sangat antusias.
__ADS_1
"Dari mana anak buahnya tahu kalau Sergio mengalami perampokan? Bukankah kamu tadi bilang Sergio sampai meminjam ponsel? Kenapa dia tidak memakai ponsel kamu?"
Kening Lupita sejenak berkerut memikirkan ucapan Ayahnya. "Ya kalau itu aku nggak tahu."
"Ayah cuma khawatir aja kalau semalam Sergio mendengar pembicaraan kita."
"Nggak mungkin! Bukan semalam dia tidur nyenyak?" bantah Lupita meski dirinya juga terkejut dengan apa yang dikatakan ayahnya.
"Bisa saja sebenarnya dia sudah bangun. Ini aneh, dia seperti menunggu waktu yang tepat untuk kabur. Kalau memang dia pergi untuk menyerang Rafi, ngapain report repot dia pergi diam diam begitu. Kan bisa diomongin pagi ini dengan kamu. Bukankah biasanya seperti itu?"
Ucapan Ayah kali ini sukses membuat Lupita terperangah. Dia tidak memikirkannya sampai serinci itu. Dia terlalu yakin dengan apa yang dia pikirkan, sampai Lupita tidak memikirkan hal lainnya yang belum tentu benar. "Lalu dia kemana kalau bukan menemui Rafi?"
"Ya bisa saja dia menyelamatkan aset aset hartanya begitu mendengar obrolan kita semalam," celetukan sang ayah langsung membuat mata Lupita membulatt.
"Mending sekarang kamu coba periksa di rumah, kali aja Sergio sudah mengambil Surat surat berharganya." tanpa pikir panjang, Lupita langsung menyetujui saran ayahnya.
"Kalau Sergio benar benar pergi dengan membawa aset asetnya, nasib kita gimana, Yah?" tanya Ibu sengan segala rasa khawatirnya begitu Lupita pergi menggunakan taksi.
"Ya sekarang tinggal tugasnya Burhan untuk bertindak."
__ADS_1
"Loh kok aku, Yah?" Burhan malah terkejut mendengar ucapan ayahnya.
"Kalau bukan kamu siapa lagi yang kita andalkan. Kamu kan pemimpin perusahaan yang Ayah rintis, jadi sudah tanggung jawab kamu untuk memperbesar perusahaan ayah."
Burhan langsung mendengus. "Ya Lupita juga harus kerja keras dong! Dia harus menuntut harta gono gini."
"Ya itu bisa dibicarakan nanti. Sekarang mending kita pulang, nunggu kabar dari rumah." Dan semua keluarga Cahaya gemilang pergi dari rumah sakit.
Sementara itu dikediaman Moreno, tiga orang penghuni rumah itu sedang menikmati santap pagi sembari ngobrol seperti biasanya.
"Kamu hari ini jadi ke panti asuhan?" tanya Moreno disela sela menikmati roti panggang kejunya.
"Jadi, Dad, aku harus jadi saksi tentang kemilikan tanah panti itu," jawab Rafi yang sarapannya selalu memakai nasi. Moreno hanya mengangguk beberapa kali. Di saat obrolan lainnya sedang berlangsung, salah satu asisten rumah tangga datang ke tempat mereka.
"Maaf tuan, ada tamu?"
"Tamu? Siapa, Bi?" tanya Marisa.
"Itu, Non, katanya, namanya Sergio."
__ADS_1
"Hah!"
...@@@@@...