SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Keinginan Menolong


__ADS_3

"Hebat loh, Mbak yang itu, hidup di luar negeri tapi bisa mempertahankan mahkotanya."


"Hah!" Rafi sampai kaget mendengar cerita dari wanita yang dia tolong. "Mana mungkin?"


"Kata dia sih begitu. Emang kalau bohong juga kayaknya nggka mungkin deh. Lagian kan kelihatan kalau bohong atau nggak."


Rafi hanya nyengir lalu mereka duduk di post jaga sambil memandang para warga kost yang satu persatu mulai berdatangan. Mendengar kata wanita bersegel, Rafi jadi teringat misi ke empat yang belum menemukan titik terang. Rafi juga berpikir, apa bisa dia merayu dua wanita ini agar mau menyerahkan mahkotanya untuk Rafi? Sebagai pria yang tidak memiliki jiwa playboy, Rafi cukup kesulitan dalam hal merayu wanita.


"Senang yah yang baru pada pulang kerja. Meskipun mereka lelah, tapi lelah mereka menghasilkan," Rafi menoleh ke arah wanita yang baru saja mengucapkan suatu kata yang sederhana tapi terasa getir terdengar dari mulut wanita itu.


"Kenapa? Apa kamu mau kerja juga?" tanya Rafi.


Wanita itu tersenyum tipis sejenak, lalu menunduk memperhatikan jari tangannya sendiri. "Wanita lulusan sekolah menengah pertama, mana bisa kerja kantoran kayak gitu. Paling pekerjaan yang cocok kayak aku, hanya jadi pembantu. Seandainya aku punya rejeki, aku lebih baik di kampung, buka usaha sendiri biar selalu bisa memantau keluargaku."


Kening Rafi berkerut lalu dia juga mengalihkan pandangannya ke layar ponsel walaupun entah apa yang akan dia lakukan dengan ponsel tersebut. "Emang keadaan keluarga kamu gimana? Apa kamu punya saudara?"

__ADS_1


Wanita itu kembali memandang ke arah parkir kost. "Aku anak pertama, memiliki tiga orang adik dan yang paling besar kelas dua sekolah menengah. Sekarang ayah lagi sakit keras sudah satu tahun lamanya,bsejak jatuh dari pohon kelapa. Butuh biaya yang lumayan besar untuk operasi. Sedangkan penghasilan ibu tidak seberapa. Mau gadein rumah, takut nggak bisa nebus. Serba bingung."


Rafi terdiam mendengar cerita wanita itu. Dari kata katanya terdengar adanya kesedihan dan ketiberdayaan yang sangat berat. Tapi wanita itu seperti tidak punya pilihan lain lagi untuk terus memikul beban itu. "Sabar ya? Nanti pasti ada jalan keluarnya," cuma itu yang bisa Rafi katakan saat ini.


Wanita itu menatap Rafi dan tersenyum getir. "Ya kalau tidak sabar, kita bisa apa lagi, Mas."


Rafi pun ikut tersenyum. Ya, benar, Selain sabar, apa lagi yang bisa dilakukan oleh orang orang miskin jika terbentur dengan masalah keuangan. Rafi pernah berada pada posisi wanita itu. Tidak bisa melakukan apa apa di saat Ibu butuh biaya dan bapak belum kerja. Itu saja Rafi masih beruntung karena dia hanya anak tunggal. Berbeda dengan wanita yang ada di sana bersamanya.


"Kalau aku membantu biaya pengobatan orang tua kamu, apa kamu mau?" tanya Rafi sesaat setelah keduanya saling diam.


Wanita itu langsung menatap lekat ke arah Rafi. "Aku takut nanti nggak bisa bayar uang kamu, Mas. mending jangan, karena jumlahnya cukup banyak."


Wanita itu masih tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. "Tapi, Mas?"


"Sudah, kamu katakan saja berapa yang kamu butuhkan, nanti aku coba bantu kamu. Daripada kamu disini bingung nggak bisa ngapa ngapain juga, bukankah lebih baik kamu pulang dan memulainya dari sana."

__ADS_1


"Tapi serius, Mas. Uang yang dibutuhkan tidak sedikit. Aku nggak yakin bisa mengembalikannya. Kalaupun sanggup juga pasti akan sangat lama."


"Ya berapa? Katakan saja. Kamu kan bisa mengangsurnya tiap bulan. Misal adanya seratus ribu, dulu, ya udah nggak apa apa. Yang penting tergantung niat kamu itu."


Wanita itu terdiam, tapi pikirannya mencerna semua ucapan Rafi. hatinya jadi dilema. Pria itu terlihat sangat serius dalam memberi pertolongan sedari siang. Dan sekarang pria itu menawarkan pertolongan yang jarang sekali dilakukan orang lain walaupun itu adalah saudara.


"Saya butuh sekitar tiga puluh lima juta, Mas. Itu untuk biaya operasi," wanita itu berkata dengan menunduk.


"Ya udah nanti aku pinjamin empat puluh lima juta." Wanita itu kembali mendongak dan menatap Rafi dengan tatapan terkejut. Tapi disaat mulutnya akan berkata, Rafi terlebih dahulu meneruskna ucapannya. "Jangan ditolak, ini kesempatan buat kamu."


Wanita itu langsung terdiam dengan mata menatap pria yang terlihat tegas dengan keputusannya, lalu dia menduduk dan berpikir lagi.


"Mas," panggilnya setelah terdiam cukup lama.


"Apa?"

__ADS_1


"Daripada aku hutang sama kamu, bagaimana kalau aku jual saja mahkotaku sama kamu, Mas?"


...@@@@@...


__ADS_2