
Brak!
Rafi yang sedang fokus menatap layar ponsel, sontak terlonjak saat mobil yang dia kendarai tiba tiba berhenti bersamaan dengan suara benturan yang cukup keras. "Ada apa, Pak?" tanya Rafi saat kepalanya mendongak sambil memperhatikan arah depan mobil.
"Sepertinya ada kecelakaan, Tuan. Mobil di depan berhenti mendadak barusan," balas sang supir.
"Kita menepi lalu keluar, Pak. Kali aja kecelakaannya sangat serius," ucap Rafi dan langsung disetujui oleh sang supir.
Begitu mobil menepi dan berhenti, Rafi bergegas keluar dari mobil. Matanya langsung memandang ke arah orang orang yang sudah berkerumun di depan mobil warna hitam yang tadi berhenti mendadak. Rafi dan pak supir langsung melangkah mendekat untuk melihat keadaan.
Di depan mobil hitam itu, seorang wanita muda terlihat sedang memohon ampun kepada pria yang diperkirkan usianya setara dengan usia ayah angkat Rafi. Pria berdasi itu terlihat sangat marah dengan tangan mengacung kepada wanita muda itu. Sementara di tepi jalan, seorang ibu terkapar dengan kaki bersimbah darah.
"Ampun, Pak, maaf, saya tadi terlalu terburu buru. Saya mohon, ampuni saya, Pak?" wanita muda itu sampai mengeluarkan air mata saat meminta pengampuna dari pria berdasi itu.
"Enak aja minta maaf! Emangnya dengan maaf, bisa memgembalikan keadaan mobil saya seperti semula?" bentak pria berdasi dengan segala amarahnya. "Lihat! Ini mobil mahal dan tidak semua bengkel bisa menerima mobil seperti ini untuk diperbaiki!"
__ADS_1
Semua mata yang ada di sana langsung melayangkan tatapannya ke arah mobil yang bentuknya sedikit berubah karena berbenturan dengan motor milik si wanita itu di sisi kanannya. Rafi juga ikut melihatnya, dan setelah dia memperhatikan mobil itu, Rafi langsung tersenyum sinis.
"Pokoknya kamu harus tanggung jawab! Kamu ganti rugi atas kerusakan mobil saya, atau saya bawa kasus ini kejalur hukum!" pria berdasi itu mengancam dengan suara yang sangat lantang sampai membuat si wanita yang sedang berlutut terkesiap. Dari gelagat yang ditunjukan wanita itu, jelas sekali kalau wanita itu sedang merasa bingung dan juga takut.
"Pak, untuk urusan ganti rugi bisa nggak dibicarakan nanti?" celetuk salah satu warga. "Kasian ibunya, harus segera dibawa ke rumah sakit."
"Oh, nggak bisa! Yang ada nanti malah mereka kabur!" tolak pria berdasi itu tanpa basa basi. "Ganti rugi terlebih dahulu baru silahkan bawa orang tua itu ke rumah sakit. Ingat, jika ada yang membantunya, akan aku tuntut kaliab karena bersekongkol."
Semua orang yang mendengarnya sungguh dibuat geram dengan tingkah pria berdasi itu. Mungkin karena dia merasa kaya raya dan punya kuasa, jadi dia bisa seenaknya mengancam demi kepenrtingan pribadi.
"Baik, Tuan muda," jawab sang supir tegas. Semua kembali dibuat terkejut saat Rafi dipanggil tuan muda, termasuk pria berdasi itu.
"Eh, eh! Nggak bisa! Enak aja!" pria berdasi itu malah menantang keputusan Rafi. "Kamu siapa, berani beraninya ikut campur urusan saya!"
"Yang jelas saya adalah orang yang punya hati, tidak seperti anda, punya hati cuma buat hiasan doang! Udah tahu ada wanita tua sedang kesakitan, lebih mentingin mobil murahan yang rusaknya nggak seberapa!" balas Rafi dengan segala rasa kesal yang ada.
__ADS_1
"Apa! Kamu menghina saya!" pria berdasi itu langsung membentak Rafi karena tidak tidak terima dengan hinaan yang baru saja dia dapat.
"Udah, bapak bapak, angkat tubuh ibu itu ke mobil saya, biar bapak ini, saya yang hadapi," titah Rafi yang langsung dituruti oleh orang orang yang ada di sana. Sedangkan pria itu makin meradang dan langsung mendekat ke arah Rafi dengan segala amarah yang siap dia lontarkan.
"Maksud kamu apa, hah! Kamu nantangin saya!" bentak pria itu.
"Kenapa memangnya kalau saya nantangin anda? Keberatan?" balas Rafi dengan sinisnya. "Lagian ucapan saya benar, mobil anda itu mobil yang harganya paling murah."
"Hahaha ... tahu apa kamu tentang mobil saya. Asal kamu tahu, mobil saya ini hanya ada dua ratus unit di seluruh dunia. Bayangkan saja, tidak semua orang bisa memiliki mobil seperti ini, paham?"
Rafi langsung tesenyum sinis. Tentu saja dia sangat tahu harga mobil itu, dilihat dari loggonya, jelas sekali perusahan mana yang memproduksi mobil tersebut. "Anda tadi sempat mengatakan kalau mobil anda harus dibawa ke bengkel khusus bukan?" tanya Rafi sambil merogoh saku celananya mengambil dompet dan mengeluarkan sebuah kartu dan memberikannya kepada pria itu.
"Gaya gayaan pakai ngeluarin kartu nama," gerutu orang itu sebelum membaca apa yang tertulis dalam kartu tesebut.
...@@@@@@...
__ADS_1