
Rafi pulang dengan rasa yang sebenarnya masih penasaran dengan kehidupan wanita yang dia tolong bersama seorang ibu tadi. Yang membuat Rafi penasaran, karena dia sempat mendengar gumaman si wanita saat ibunya masih dalam pengaruh obat bius. Rafi yakin kalau wanita itu sedang dalam masalah yang serius.
Namun sayang, wanita itu seperti wanita angkuh. Meski membutuhkan bantuan, wanita itu malah bersikap kalau dia tidak mau dibantu oleh siapapun. Itu semua dapat dilihat saat Rafi melemparkan pertanyaan dan wanita itu dengan santainya menjawab kalau dia tidak ada masalah. Hal itu cukup bagi Rafi untuk menilai kalau wanita itu agak sombong.
Sesampainya di rumah, seperti biasa, Rafi akan meneruskan belajarnya dengan Marisa. Meski wanita itu akhir akhir ini sibuk dengan dunianya sendiri, Marisa masih bisa meluangkan waktu untuk mengajari Rafi sesuai kemampuannya dan juga perintah yang dia dapat dari Moreno.
"Kamu kenapa? Kok kayak senang gitu?" tanya Rafi saat melihat senyum Marisa terkembang sambil menatap layar ponsel. "Dapat orderan banyak?" tanyanya sembari duduk di sisi kanan wanita itu.
"Tidak!" bantah Marisa. "Daddy sekarang sudah lebih baik keadaannya, dan kata Mommy, Daddy sebentar lagi pulang," Marisa sangat antusias mengatakan kabar baik tersebut.
"Wah! Ya bagus itu! Apa Tuan Alexander akan langsung pulang ke negara ini?" Rafi juga langsung terlihat senang mendengar kabar tersebut.
"Sepertinya nggak. Kondisi ayah kan belum sangat stabil. Paling pulang ke rumah kakak pertamaku terlebih dahulu," jawab Marisa masih sangat antusias.
"Terus kamu sendiri gimana? Apa kamu mau menyusulnya?" mendengar pertaaanyan seperti itu, rasa antusias yang tadi ditunjukkan oleh Marisa, malah berkurang. Dia menatap pemuda yang hanya memakai kaos tanpa lengan dan terlihat seksi karena memamerkan bulu ketiaknya.
__ADS_1
"Kalau aku pergi menemui Daddy, terus yang menemani kamu tidur siapa, Fi? Apa kamu akan membawa wanita lain ke kamarmu?"
Rafi seketika mengerutkan keningnya lalu tak lama setelahnya suara tawa Rafi pecah walaupun tidak terlalu kencang. "Hehehe ... kenapa kamu malah khawatir akan hal seperti itu, Sha? Aku kan bisa tidur sendirian. Lagian aku mana berani pulang terus bawa cewek lain ke rumah ini. Nggak enak sama Daddy."
Marisa sontak tersenyum canggung. "Benar juga. Ya udah deh, nanti aku pikirkan dan bicarakan sama Mommy. Aku kangen sih sama mereka, tapi kan kamu tahu kondisinya. Kalau memang aman ya aku akan berangkat menemui Dadddy dan Mommy."
"Ya begitu lebih baik. Kamu jangan terlalu mengkhawatirkan aku," mendengar ucapan Rafi, Marisa langsung mengangguk beberapa kali. Karena tidak ada pembicaraan lainnya, mereka langsung memulai membahas mengenai pelajaran.
Di sisi lain, disebuah gedung perkantoran, Sergio nampak terdiam dalam kursi kebesarannya. Setelah mendapat kabar dari anak buahnya tentang Rafi, pria itu bukannya senang, tapi malah dilanda dilema. Sergio merasa berada di sebuah persimpangan kali ini. Makanya, wajah Sergio terlihat sedikit frustasi.
Di satu sisi, Sergio sangat senang mengatahui kenyataan kalau Rafi adalah anak dari pria yang sempat diasuh oleh mertuanya yang sekarang. Sergio bisa memanfaatkan keadaaan itu untuk kepentingan pribadinya. Tapi di sisi lain, tumbuh rasa takut dalam diri pria itu. Sergio takut kalau Rafi tahu, dialah dalang dibalik meninggalnya ayah Rafi.
Seorang wanita deengan pakaian kantor yang cukup seksi melangkah dengan anggunnya sembari kedua tangannya memegang beberapa dokumen. "Tuan, ini laporan keuangan bulan ini dan bulan kemarin," ucap wanita yang menjabat sebagai sekretaris Sergio.
Mendengar laporan dari sang sekretaris, Sergio langsung mengehmbus nafasnya dengan kasar. "Apa kita mengalami kerugian lagi?" tanya Sergio sambil mengambil satu dokumen dan memeriksanya.
__ADS_1
"Untuk bulan ini tidak, Tuan. Tapi kita tidak mendapat keuntungan yang terlalu besar juga. Hanya ada pendaapan kurang dari sepuluh persen," jawab sang sekretaris.
"Kenapa keuntungan kita selalu menurun drastis sih?" Sergio sungguh merasa kesal.
"Mungkin kita memang butuh sesuatu yang lebih bagus lagi, Tuan, misalnya mencoba membuat produk baru, atau produk lama kita ganti kemasan dengan produk baru. Kan banyak produk lama yang sudah mengalami penurunan penjualan."
Kening Sergio sontak berkerut. "Tapi untuk berinovasi, kita butuh investor, Brina."
Sekretaris seksi itu nampak mengangguk membenarkan ucapan Sergio. "Terus, langkah apa yang akan Tuan lakukan?"
Sergio mengangkat kedua pundaknya. Aku tidak tahu, aku pusing. Lebih baik, aku istirahat dulu. Kamu temani aku ya?"
"Dengan senang hati, Tuan." keduanya lantas menuju kamar yang ada di kantor Sergio itu.
...@@@@@@...
__ADS_1
Hy Reader, terima kasih, sudah mengikuti kisah ini ya? Makasih juga atas dukungannya. Othor juga mau mengumumkan nih, ada cerita baru yang sama serunya dengan cerita ini. Judulnya HANTU HANTU CANTIK. Ikuti yuk. Ditunggu dukungannya. Terima kasih