SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Rafi Dan Kegiatan Barunya


__ADS_3

"Wow! ganteng banget kamu, Fi!" seru Marisa begitu melihat Rafi yang sudah mengenakan pakaian kantor berwarna putih lengkap denagn dasi dan aksesoris lainnya. Rafi yang mendapat pujian hanya bisa cengengesan sambil memperhatikan penampilan dirinya di depan cermin. Marisa langsung turun dari ranjang dan memeluk pemuda yang sudah sangat rapi dan wangi dari belakang. "Yah, sepertrinya aku bakalan banyak saingan nih buat ngedeketin kamu."


"Cih, apaan sih. Nggak ada saingan saingan. Males nanggapin cewek matre," ucap Rafi sambil sesekali merapikan rambutnya yang sebenarnya sudah sangat rapi.


"Hihiihi ... siapa yang cewek matre? Kemarin aja waktu aku belum tahu kamu pemilik kost, aku udah nempel sama kamu?"


"Jangan salah paham. Maksud aku bukan kamu. Cewek yang lain loh. Lagian kamu kan kalau masalahnya sudah selesai, akan kembali ke luar negeri bukan?"


"Nggak tahu. capek aku sekolah mulu."


"Loh kenapa jadi nggak tahu?"


Marisa hanya tersenyum lebar sampai terlihat barisan giginya yang rapi. "Yuk turun, katanya kamu udah ditungguin?"


"Kamu nggak mandi dulu?"


"Nggak ada baju ganti. Nanti minta diantar pulang aja sama orang sini buat ambil baju."


"Ya udah terserah kamu aja." Keduanya lantas segera keluar kamar dan ternyata mereka sudah ditunggu sang pelayan yang akan mengantarkan mereka ke ruang makan. Di sana si pemilik rumah nampak sudah menunggu dengan berpakaian yang sama sama rapi dengan Rafi. "selamat pagi, Tuan," sapa Rafi.


"Jangan panggiil aku tuan, Rafi," tolak pria itu."Panggil aja aku Daddy."

__ADS_1


Rafi tertegun dan seketika juga Rafi merasa canggung. Kini dia dan Marisa mendudukan pantatnya pada kursi yang letaknya di sisi kanan pria itu.


"Tuan," Marisa bersuara. "Kalau boleh tahu, nama Tuan siapa sih? Dari semalam kita ngobrol, tapi kita tidak tahu nama Tuan?" Marisa yang memang sudah terbiasa berbaur dengan kalangan orang kaya, merasa lebih santai saat mengeluarkan pertanyaan tersebut. Berbeda dengan Rafi yang masih terlihat begitu kaku.


Pria itu tersenyum "Saya Moreno, Moreno Anderson fox."


"Apa!" pekik Marisa terlihat sangat terkejut. "Jadi anda pemilik perusahaan otomotis yang beberapa kali mengeluarkan alat transportasi edisi terbatas?" Moreno hanya tersenyum lalu dia meraih cangkir kopinya.


"Kamu kenal?" tanya Rafi.


"Astaga Rafi! Tuan Moreno ini salah satu penguasaha terkaya di dunia. kalau nggak salah anda peringkat nomer tujuh ya, Tuan?" Moreno mengangguk pelan dan senyum tipisnya masih terkembang dengan sempunra. "Ya ampun, Fi, kamu beruntung banget!"


"Sepertinya anda wanita yang cerdas, Nona Marisa, bagaimana kalau saya menawarkan pekerjaan sama anda? apa anda bersedia?"


"Saya akan menjadikan Fafi pemimpin perusaahaan saya yang ada di negeri ini."


"Apa!" Rafi dan Marisa memekik bersamaan. bahkan mata mereka langsung menatap pria yang baru saja memberi kejutan lewat ucapannya. "Tuan nggak salah ngomomg?" ucap Rafi.


"Panggil aku daddy, Oke?" Moreno menegaskan dan Rafi lngsung tersenyum kikuk. "Saya memang akan menyerahkan kepemimpinan perusaahaan saya yang ada di sini sama kamu, maka itu saya butuh seseorang yang bisa mengajari ilmu dasar dunia usaha."


"Tentu saja saya mau, Tuan. Saya siap mengajari Rafi sampai dia benar benar siap jadi seorang Presdir, Tuan."

__ADS_1


"Baguslah. Tapi apa ayah anda akan setuju?"


"Urusan Daddy biar jadi urusan saya, Tuan. lagian, Daddy pasti bakalan setuju kalau aku bekerja pada Tuan Moreno."


Moreno hanya bisa kembali tersenyum lalu ketiga orang itu terlibat pembicaraan sembari menikmati menu sarapan yang sudah tersaji dihadapan mereka. Setelah selesai sarapan, Rafi dan Moreno pergi ke kantor untuk melihat keadaan tempat kerja yang akan dipimpin oleh Rafi. Sedangkan Marisa memilih kembali ke kost karena dia harus mengambil beberapa pakaian.


Selama berada di perusahaan, hampir semua mata tertuju pada sosok yang berjalan berdampingan dengan Moreno. Rafi benar benar dibuat takjub sekaligus bingung dengan keadaan yang sedang terjadi padanya saat ini.


"Ini nanti akan menjadi ruang kerja kamu," ucap Moreno setelah selesai mengajak rafi mengelilingi kantor. Rafi lagi lagi merasa takjub dengan apa yang dilihatnya saat ini.


"Apa ini nggak terlalu berlebihan, Tu, eh Dad?" tanya Rafi masih dengan perasaan gugup dan canggung.


"Aku rasa ini tidak seberapa dengan apa yang orang tuamu lakukan, Fi."


Rafi pun tersenyum kecil. di saat keduanya sedang ngobrol, seorang asisten pribadi masuk dan memberi tahu Moreno kalau ada seseorang yang ingin bertemu.


"Sebaiknya kamu ikut Saya menemui tamu saya, Nak."


"Baik, Dad."


Keduanya lantas berjalan beriringan menuju ruang kantor milik Moreno. Betapa terkejutnya Rafi, begitu sampai di tempat tujuan, dia bertemu dengan sosok yang sangat dia kenal.

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2