
"Dari mana kamu memiliki pemikiran seperti itu, nak?" tanya Moreno begitu pertemuan dengan Sergio berakhir. Pria tua itu tak henti hentinya menunjukkan wajah kagumnya hanya karena jawaban Rafi yang sebenarnya tidak tahu apa apa soal dunia bisnis.
"Aku hanya berbicara berdasarkan pemikiranku, Dad," jawab Rafi yang sudah mulai tak canggung lagi menyeebut pria itu dengan panngilan Daddy.
"Tapi jawaban kamu cukup bagus. Daddy bangga kamu bisa memiliki pemikiran seperti itu. Biar bagaimanapun, kita memang harus tahu bagaimana keadaan perusahaan yang mengajak kita untuk kerja sama," balas Moreno dan hanya ditanggapi dengan anggukan beberapa kali oleh Rafi.
"Dad, apa aku boleh pergi sebentar? Aku ingin kembali ke kost karena ada urusan di sana," pinta Rafi yang sebenarnya dia juga rada jenuh berada di perusahaan tersebut.
"Pergilah. Minta supir untuk mengantar kamu."
"Terima kasih, Dad."
Moreno hanya menanggapinya dengan senyuman. Begitu mendapat ijin, Rafi bergegas keluar dan meminta salah satu asisten yang ada di sana untuk mengantarkan dirinya ke tempat kost, sedangkan Moreno langsung tenggelam dengan berkas berrkas yang sudah menumpuk di atas meja kerjanya.
"Wuih, Bang Rafi keren banget!' puji Wildan setelah beberapa puluh menit kemudian Rafi sampai di tempat yang dituju. "Bang Rafi sekarang kerja kantoran?"
Rafi tersenyum tipis. "Baru mulai belajar, adik kamu mana?"
"Lagi sama mbak Marisa ke minimarket," jawab Wildan. "Itu Mobil Bang Rafi? keren banget."
Rafi menoleh ke arah mobil yang sekarang terparkir di halaman tempat kost dan ada supir yang yang menunggunya di dalam. "Mobil mahal itu ya?"
__ADS_1
"Mahal banget lah. Hanya orang orang tertentu saja yang bisa memilikinya. Bang Rafi beruntung, bisa menggunakannya."
Rafi kembali tersenyum tipis. "Gimana? apa ada keluhan?"
"Nggak, Bang. nggak ada. Kenapa?"
"Nggak, nggak ada apa apa. aku hanya mau memberi tahu kalau aku sama Marisa mungkin nggak akan tinggal disini lagi."
"Loh, kenapa. Bang?" Wildan nampak begitu terkejut mendengar ucapan Rafi.
"Aku akan tinggal di rumah pemilik mobil itu bersama Marisa. Tapi aku sesekali akan datang ke sini untuk memantau keadaan kok. Kamu pegang ponsel nggak?"
"Enggak, Bang. Rencananya nanti kalau gajian pertama aku baru mau beli. Buat hiburan Alisa juga."
"Astaga, kenapa jajannya banyak banget, Dek?" Wildan kembali dibuat terkejut lalu dia berjongkok menyongsong sang adik yang nampak senang karena bisa jajan begitu banyak.
"Nggak apa apa, nggak tiap hari ini," balas Marisa, lalu langsung menatap Rafi. "Kok kamu disini?"
"Iya, ada urusan sama Wildan. Mobil yang mengantar kamu tadi mana?" Rafi balik bertanya.
"Aku suruh pulang, soalnya kamu nggak ada, jadi aku niatnya kesana nanti aja, saat kamu pulang dari kantor."
__ADS_1
Rafi nampak manggut manggut lalu tak lama kemudian mereka memilih beranjak ke kamar meninggalkan Wildan yang sedang menikmati jajan bersama sang adik. Begitu sampai di kamar, Rafi langsung melepas jass dan segalanya yang dia pakai. Mungkin karena sudah terbiasa bertelanjang dada di depan Marisa, Rafi tidak terlihat canggung saat melepas pakaian atasnya.
"Oh iya, tadi di kantor Daddy, ada Om Sergio loh, Sa," ucap Rafi begitu dia selesai melepas pakaian atasnya dan duduk di tepi kasur.
"Om Sergio? Ngapain?" Marisa yang sedang menikmati es krim terlihat terkejut mendengarnya.
"Kataya sih pengin ngajak Daddy kerja sama, tapi Daddy nggak langsung setuju gitu. Terus Sergio pulang agak kecewa kelihataanya."
"Ya baguslah. Lagian mana mungkin ada perusahaan yang mau investasi di perusahaan yang beberapa tahun ini sering merugi. Pasti dia ngamuk ngamuk tuh di kantornya."
Apa yang dipikirkan arisa memang benar adanya. Sergio langsung meluapkan amarahnya begitu dia sampai di kantor. Gara gara harapannya tidak bisa terwujud, pria itu langsung emosi dan meluapkannya saat sudah berada di ruangan kerjanya. Kebetulan di sana sudah ada istrinya yang sedang menunggu.
"Bagaimana bisa Tuan Moreno menolaknya? Apa dia tahu kondisi perusahaan kita?" tanya sang istri yang juga terkejut dengan penolakan yang terjadi.
"Ini semua gara gara anaknya. Aku benar benar nggak tahu kalau dia punya anak laki laki disini."
"Apa? Tuan moreno mempunyai anak laki laki Di negeri ini?"
Sergio mengangguk cepat, sedangkan kening sang istri langsung berkerut seperti sedang berpikir. Tapi tak lama kemudian wajah sang istri nampak berbinar. "sepertinya aku memiliki ide bagus."
...@@@@@@...
__ADS_1
Hy reader apa kabar? Makasih ya yang sudah dukung karya othor. Othor cuma mau ngasih tahu, ada karya baru dari othor. Jika berkenan mampir dan ikuti yuk. Jangan lupa juga dukungannya, makasih