SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Kelakuan Marisa


__ADS_3

"Fi."


"Hum?"


"Aku mau menyerahkan mahkotaku sama kamu asal kamu bisa memberi pelajaran pada Om Sergio, bagaiimana?"


Rafi sontak menoleh pada wanita yang sekarang juga sedang menatapnya. Tidak ada kebohongan dibalik bola mata wanita itu. "Apa itu nggak kelamaan?"


Kening Marisa sontak berekut, lalu tak lama setelah itu dia tersenyum dan kembali menempelkan lubang hidungnya pada bulu ketiak yang tersaji di hadapannya, menghirup aroma asam yang ada di sana dengan segenap perasaan, kemudian setelahnya, dia kembali menatap Rafi. "Lama atau nggak, kan, tergantung kamu, Fi."


Rafi mendengus lalu merubah posisi tidurnya menjadi memunggungi Marisa. "Ketiaknya sini dulu ih, orang lagi dicium baunya. pelit amat," gerutu Marisa sambil memaksa tubuh Rafi agar kembali telentang dan memamerkan ketiaknya. Lagi lagi Rafi hanya mampu mendengus tapi dia tidak menolak keinginan wanita itu.


"Tapi kan itu kelamaan, Non," protes Rafi. "Lagian kamu sendiri juga tahu, aku memang sedang mencari cara untuk menghancurkan om kamu, eh, kamu malah ngasih tantangan kayak gitu. Seandainya aku memiliki kekuatan lebih untuk mengetahui kelemahan Om Sergio, sudah aku hancurkan orang itu dengan cepat. Kamu sendiri juga tahu aku belum bisa menjangkau orang itu lebih dekat lagi."

__ADS_1


Marisa mendengar ucapan Rafi dengan baik dan juga mencerna setiap kata yang keluar dari mulut pria itu, sembari jari tangan kirinya memainkan bulu ketiak Rafi yang agak lebat. "Sebenarnya ada sih, cara yang bisa kamu gunakan untuk menghancurkan Om Sergio dengan mudah."


"Apa itu?" kini Rafi kembali menatap MArisa dengan tatapn serius.


"Om Sergio dengan istri pertamanya itu punya anak gadis, lebih muda dari aku. Mungkin kalau kamu mengeluarkan aura kaya raya kamu, itu cewek bakalan luluh, Fi. Dan kamu bisa memanfaatkannya."


Sekarang gantian Rafi yang mencerna ucapan Marisa dengan mata menatap langit langit kamar lalu kembali memandang wajah wanita yang masih setia bermain dengan bulu ketiaknya. "Apa dia msih bersegel?"


"Kalau soal itu aku kurang tahu juga. Soalnya kami memang tidak terlalu dekat," balas Marisa dan dia bngakit sejenak dari berbaringnya,nmeraih ponsel yang tergeletak di lantai terus mencari sesuatu dalam ponsel tersebut. "Nih anaknya, namanya Amanda."


"Emang pentingnya apa sih bersegel atau tidak? Yang penting kan tujuan kita sama, Fi. menghancurkan Om Sergio. Kita bisa loh menghancurkan Om Sergio lewat anak anaknya."


Rafi kembali terdiam dan apa yang dikatakan Marisa memang benar, dia bisa menghancurkan Sergio melalui orang orang di sekitarnya. "Baiklah. KIta pikirkan jalan keluarnya besok lagi." Rafi bangkit dari tidurnya dan meraih kaosnya kembali. Tapi saat dia hendak mengenakan kaos itu, Marisa mencegahnya. Rafi sempat terkejut saat kaos itu direbut oleh Marisa dan melemparkanya ke sembarang tempat. "Kamu apan apaan sih? Orang kaos mau dipakai malah dibuang?"

__ADS_1


"Ngapain pakai kaos, orang aku masih pengin mainin ketiak kamu."


"Astaga! Tadi kan udah main cukup lama? masa nggak bosen? lagian kita mau tidur?"


"Ya udah kamu tinggal tidur aja. Kalau kamu kedingianan biar aku yang meluk tubuh kamu dan kita pakai satu selimut buat berdua."


Rafi langsung mendengus lagi tapi untuk kesekian kalianya dia tidak mampu menolak ucapan wanita itu. Rafi kembali berbaring dengan perasaan kesal. "Mau enak sendiri, tapi giliran aku minta dienakin, nggak mau," gerutunya.


Marisa langsung cengengesan, lalu dia kembali merebahkan badannya dan menempel pada tubuh Rafi yang sudah terbaring duluan. Rafi memejamkan matanya dan membiarkan wanita itu menghirup dan bermain dengan ketiak sepuasnya.


Namun beberapa menit kemudian, Rafi merasa ada yang aneh. Mungkin Marisa berpikir kalau Rafi sudah tertidur. Rafi merasakan tangan Marisa kini bergerak pelan, merayap diperutnya lalu tanpa di duga, tangan Marisa masuk ke dalam celana Rafi hingga menyentuh sesuatu yang memang sudah sangat menegang sejak tadi.


Tak hanya itu, Rafi juga merasakan pergerakan tubuh Marisa dan juga tangan wanita itu yang perlahan melepas pengait celana Rafi dan menurunkannya sedikit lalu mengeluarkan isinya. Rafi mendengar Marisa mengucapkan kata besar sekali sambil menggenggam batang miliknya, dan tidak lama berselang, Rafi merasakan kini batang tersebut sudah dikuasai oleh mulut marisa. Rafi benar benar terkejut, tapi dia tetap menahan diri agar tidak membuka mata.

__ADS_1


"Orang doyan aja, pakai jual mahal. Baiklah, sementara main sama mulut dulu, lain kali kamu harus menyerahkan mahkota kamu sama aku, oke?" gumam Rafi dalam hati.


...@@@@@...


__ADS_2