
"Nggak mau ya nggak apa apa. Tapi kamu yang akan rugi."
"Aku rugi kenapa?"
Dito langsung menyeringai. "Kamu tahu kan, aku dekat dengan Rafi? Jadi, aku cukup berpengaruh dengan segala keputusan dia, terutama soal cewek. Aku bisa dengan mudah mengatur cewek mana yang bisa dekat dengan Rafi dan cewek mana yang tidak dekat dengan dia."
Lagi lagi ucapan Dito, membuat wanita di hadapannya terperangah. "Masa sampai segitunya?"
"Ya memang adanya seperti itu. Apa lagi ayahnya juga mempercayakan Rafi sama aku. Ya wajar kan jika Rafi nurut apa kata aku. Lagian jika kamu mau memakai caraku, kamu nggak bakalan rugi besar. Ingat, apa yang akan kamu dapatkan? Rafi bukan orang sembarangan. Banyak wanita yang ingin bersanding dengan Rafi." Arinda terdiam. Dito tahu, wanita itu pasti saat ini sedang dalam dilema. Dan Dito sangat yakin kalau Arinda pasti akan masuk ke dalam perangkapnya.
"Kamu sedang tidak mempermainkan aku kan?" tanya Arinda dengan tatapan penuh menyelidik.
"Hahaha .. apa untungnya aku mempermainkan kamu?"
Arinda sontak mendengus dan dia kembali terdiam dengan tatapan ke arah kolam yang nampak sepi karena mungkin ini masih terlalu pagi untuk berenang. Namun, setelah cukup lama berpikir, Arinda kembali menatap lawan bicaranya dengan bibir yang tersenyum. "baiklah. Kapan kita akan melakukannya?"
Hati Dito langsung bersorak tapi sikapmnya dibuat setenang mungkin. "Lebih cepat lebih baik. Lagian, Rafi harus kembali ke kota sore ini. Jadi ya terserah kamu, maunya kapan?"
__ADS_1
"Ya udah kita lakukan sekarang aja," Arinda malah terlihat antusias.
"Yakin? Ini kan masih agak pagi?" Dito masih sedikit mengulur waktu.
"Yakin lah!" Arinda menjawabnya dengan lantang. "Katanya lebih cepat lebih baik. Lagian ya nggak rugi juga main di kamar sama kamu satu kali, jika balasannya, aku akan menjadi majikan kamu nantinya."
Dito langsung menyeringai. "Baiklah kalau kamu sudah yakin. Kita ke kamarku sekarang."
"Tapi kamu harus benar benar membantuku loh!"
Ting!
Sebuah pesan masuk dari ponsel milik pria yang tadi mengurungkan niatnya untuk berenang. Pria itu terlihat sudah rapi dengan memakai kaos, celana pendek selutut dan juga sepatunya. Sejak menjadi orang yang banyak duit, penampilan pria bernama Rafi itu memang sudah jauh berbeda. Wajah yang tampan dengan bentuk tubuh yang sangat ideal, membuat aura Rafi sebagai orang kaya semakin terlihat dengan jelas.
Rafi tersenyum begitu membaca pesan dari asistennya kalau saat ini berhasil merayu mantan pacar Rafi dan sedang berada di dalam satu kamar yang digunakan Dito. Tanpa ada niat membalas pesan itu, Rafi segera saja keluar kamar untuk pergi menuju ke rumahnya. Rafi sengaja pergi sendiri karena dia tiidak mungkin menunggu Dito yang sedang enak enak dengan Arinda. Dengan mengguakan ojeg online, Rafi pergi meninggalkan tempat dia menginap.
Sebenarnya Rafi bisa saja pergi menggunakan mobil. Berhubung yang memegang kunci mobil sedang sibuk sendiri di kamarnya, Rafi enggan mengganggu kesenangan sang asisten sekaligus temannya itu. Apa lagi di sana ada Arinda, makin menambah males Rafi untuk ke kamar Dito. Makanya, Rafi pergi menggunakan ojeg online.
__ADS_1
"Kamu jadi merenovasi rumah?" tanya Pak Rt setelah Rafi sudah sampai di rumahnya beberapa menit yang lalu. "Kenapa kamu nggak jual aja tanah itu? Kamu kan udah kaya, Fi? Kamu bisa mendapatkann tanah yang lebih luas."
"Aku tahu, Pak. Tapi kan tanah itu memilki arti pentiing buat aku. Bapak tahu kan bagaimana perjuangan Ayah untuk mendapatkan tanah itu. Maka itu aku nggak akan pernah menjualnya. Aku bisa memanfaatkannya untuk yang lebih bermanfaat."
Pak Rt manggut mamggut. "Aku tahu. Ya terserah kamu aja enaknya bagaimana? Aku hanya akan menjalankan amanat sesuai yang kamu inginkan, Fi."
"Makasih, Pak. Kalau ada apa apa, Pak Rt jangan segan menghubungi saya." Dan Pak Rt hanya tersenyum sekaligus mengangguk. Mereka lantas lanjut berunding dan keduanya mendatangi rumah Rafi untuk melihat kondisi dan mendengar keinginan Rafi tentang bentuk rumahnya.
Sementara itu di tempat lain. Tak jauh dari kampung Rafi, beberapa orang nampak turun dari motornya dan memilih duduk di sebuah warung. Mereka telah melakukan perjalanan yang cukup jauh dan sekarang mereka sudah sampai di tempat tujuan.
"Kita akan mulai mengintai Rafi darimana?" ucap salah satu dari lima orang tersebut.
"Dari komplek tempat tinggalnya aja. Nanti kalau dia akan kembali ke kota, baru kita lakukan rencana kita."
"Oke!"
...@@@@@...
__ADS_1