
"Loh, Mbak! Mbak kenapa?" seru wildan begitu matanya melihat sosok penghuni kamar yang bsedang tergeletak di lantai kamar mandi. Wildan sempat tertegun sejenak sampai terbengong dan terkesima tatkala matanya menyaksikan keadaan wanita itu. Selain karena wanita itu mengerang kesakitan, si wanita juga dalam keadaan tanpa busana. Itulah kenapa Wildan sempat terpaku beberapa saat dengan mata membelalak.
"Terpeleset, Mas," jawab wanita itu salah tingkah sambil menahan sakit. Wanita bernama kalina langsung menutup dua benda penting ditubuhnya dengan telapak tangan. Dia tidak mungkin berdiri meraih handuk yang tergantung di belakang pintu kamar mandi. "Tolong, lemparin handukku."
Wildan yang sedang dalam kebingungan sempat tergagap begitu mendengar kata tolong dari mulut si wanita. Namun secepat mungkin Wildan bisa menguasai dirinya dan melaksanakan perimintaan tolong dari wanita tersebut. Wildan menutup pintu sejenak dan meraih handuk yang menggantung di sana lalu menyerahkannya kepada wanita itu.
"Mbak bisa berdiri?" tanya Wildan seperti orang bodoh karena terlalu gugup berada dalam situasi seperti itu.
"Kalau aku bisa berdiri ngapain aku teriak minta tolong, Mas," jawab si wanita sedikit kesal. Wildan yang menyadari kalau dia salah dalam melempar pertanyaan langsung tersenyum lebar.
"Maaf, ya udah. Sini, biar aku bantu, Mbak," ucap Wildan dan dia baru berani berjongkok di hadapan si wanita begitu tubuh wanita itu sudah tertutup kain handuk. Awalnya Wlidan mengajak si wanita untuk mencoba berdiri, tapi wanita itu malah merintih kesakitan. Beberapa kali dicoba, tetap saja tidak bisa. Akhirnya Wildan mencoba mengangkat tubuh wanita itu dengan kedua tangannya.
Wildan yang memang seumur hidupnya tidak pernah berinteraksi dengan wanita dalam hubungan yang spesial, tentu saja menjadi sangat gugup berada di dalam situasi seperti ini. Ada sesuatu yang meronta akibat pikirannya kembali membayangkan apa yang dia lihat saat membuka pintu tadi.
"Sebaiknya di pijat, Mbak, takutnya kenapa kenapa itu pahanya," ucap wildan memberi saran begitu dia meletakkan tubuh wanita itu di atas ranjang.
__ADS_1
"Kamu ada kenalan nggak? tukang pijat di daerah sini?" tanya si wanita sesaat setelah dirinya menarik selimut untuk menututpi tubuh polosnya.
"Ya nggak ada, Mbak. Aku aja baru kerja di tempat ini beberapa hari, belum kenal orang orang sini," balas wildan. "Aku sih sebenarnya sedikit sedikit bisa bisa mijit, Mbak. Tapi aku nggak pernah mijit cewek."
"Kenapa? Apa kamu punya kelainan?" pertanyaan si wanita langsung membuat Wildan seketika terbahak.
"Hahaha ... ya enggak lah, Mbak. Nggak enak aja mijat cewek. Takut dikira modus. Lagian, di tempat tinggalku juga jarang ada cewek muda sakit badan. Kebanyakan ibu ibu sama bapak bapak."
Si wanita nampak manggut manggut mendengar jawaban Wildan. "Terus aku harus gimana, dong? Bisa bisa aku seharian nggak bisa ngapa ngapaain ini?" keluh wanita itu.
"Jangan!" tolak si wanita. "Dia sedang sibuk hari ini. tadi aku sudah kirim chat sama dia."
Wildan mengangguk mengerti. kini dia nampak bingung karena tidak punya ide lagi. "Terus enaknya gimana, Mbak?"
"Ya kalau kamu nggak keberatan, tolong kamu beliin minyak kayu putih atau minyak pijat di apotik. Biar aku pijat sendiri."
__ADS_1
"Oh gitu? Ya udah, Mbak, kalau begitu aku keluar dulu. Mbak nya tunggu bentar ya?" si wanita mengangguk sekaligus mengiyakan. Wildan segera pergi untuk melaksanakan permintaan wanita itu. Namanya lelaki, dihadapan pada situasi yang tak terduga seperti itu, langsung pikiran nakalnya berkelana, membayangkan yang enak enak saja, begitu juga Wildan.Pikirannya tertuju pada keindahan tubuh wanita bernama yang dia tolong tadi.
Sedangkan di tempat lain, saat ini Rafi terlihat sedang mempelajari beberapa hal mengenai perusahaan yang akan dia pimpin. Dengan dibantu oleh sang asisten dari tuan Moreno, Rafi memperhatikan apa yang sedang di ajarkan pria di hadapannya.
"Maaf menganggu, Tuan muda," sebuah suara tiba tiba muncul diantara Rafi dan sang asisten, memecahkan keseriuasan yang sedang terjadi di sana.
"Ada apa ya, Mbak?' tanya Rafi setelah dia menoleh dan mengetahui siapa yang baru saja datang.
"Tuan muda di suruh ke ruangan Tuan besar," ucap wanita yang menjabat sebagai sekretaris tersebut.
"Sekarang?" tanya Rafi memastikan dan sang sekretaris mengangguk. "Baik, sebentar lagi saya kesana."
Sang sekretaris mengangguk serta mengiiyakan lalu dia pergi meninggalkan ruangan Rafi. tak lama setelah itu, Rafi berbegas menuju ke ruangan pria yang telah menganggapnya sebagai seorang anak. Begitu Rafi masuk keruangan tersebut, kening Rafi langsung berkerut saat melihat orang lain yang ada di ruangan Moreno.
...@@@@@@...
__ADS_1