
Karena merasa tidak enak dengan pertengkaran keluarga yang terjad di depan matanya, Rafi dan Kalina memutuskan pergi meninggalkan keluarga kecil yang sedang dalam masalah itu. Rafi menggandeng tangan Kalina untuk turun dan duduk di dalam post. sebenarnya Kalina menolak tapi Rafi malah menariknya dengan paksa.
Alasan Kalina menolak karena dia masih kesal dengan sikap Rafi yang tidak mau menuruti permintaannya. Dengan wajah ditekuk, Kalina mengikuti langkah Rafi dan memilih duduk di ruang tamu yang udaranya cukup sejuk.
"Kamu mau beli bakso nggak?" Tanya Rafi yang tidak peka kalau Kalina saat ini masih kesal sama dia.
"Nggak!" jawab Kalina dengan ketus. Dari sikap Kalina barusan, Rafi baru sadar kalau wanita itu ternyata masih marah.
"Kamu masih marah?" tanya Rafi menatap wanita yang sedang memalingkan wajahnya.
"Siapa juga yang marah," kilah Kalina tak mau mengakui.
Senyum Rafi langsung terkembang dan dia berpindah duduk diselah wanita itu. "kamu mau ini?"
Kalina yang awalnya mengabaikan Rafi, melirik sekilas karene penasaran dengan apa yang ditawarkan pria itu. Ternyata Rafi memamerkan isi celananya. "Kamu gila!" seru Kalina.
__ADS_1
"Loh, gila kenapa?" tanya Rafi antara bingung dan terlkejut. "Katanya kamu pengin?" Kalina bukannya menjawab, tapi mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan, terutama langit langit ruang itu. "Kamu takut ada cctv?" terka Rafi.
"Iya lah, gila aja kamu. Lihatin isi celana ditempat umum," sungut Kalina.
"Hahaha ..." Rafi malah terkekeh. "Di ruangan ini nggak ada cctv. Adanya di halaman doang buat ngawasin motor dan orang orang yang datang. Di dalam sini aman."
Begitu mendengar kata aman dari mulut Rafi, wajah Kalina nampak sangat lega meski masih kurang bersahabat. Rafi pun kembali merayu wanita itu. walaupun awalnya menolak, tapi lama kelamaan tangan Kalina mau juga memainkan isi celana Rafi yamng sudah keluar dari sarangnya.
"Kamu curiga nggak, Kal, dengan suami dari wanita itu? aku yakin pekerjaan suaminya itu nggak benar," tanya Rafi dengan mata menatap tangan Kalina yang sedang memainkan batang yang mulai menengang. Biar bagaiamanapun namanya laki laki diperlakukan seprti itu pasti langsung hasratnya naik. Rafi mkencoba menahannya karena dia ingin membicarakan hal yang lain dulu sekalian cari cara agar bisa bertemu Lingze untuk menjalankan misi ketiga.
"Ya, memang mencurigakan. Kayaknya benar kalau pekerjaan suaminya nggak benar. Jangan jangan memang dia yang membunuh ayah kamu, Fi," ucap Kalina sembari menggerakkan tangan yang sedang menggenggam milik Rafi secara naik turun pelan pelan.
"Mana bisa aku fokus, Fi. orang aku sedang mainin batang kamu."
"Hehehe ... ya udah terusin dulu mainnya. Pakai mulut juga dong."
__ADS_1
Kalina langsung mendengus kasar tapi wanita itu tak kuasa menolak perintah Rafi. Dengan sedikit jongkok di hadapan Rafi, wanita itu mulai menikmati batang milik Rafi dengan mulutnya. "Dimasukin kelubangku juga dong, Fi, aku pengin."
"Ya udah kita main disini aja, dekat ruang olahraga, yuk. Disana ada matras."
Dengan sangat antusias wanita itu langsung setuju. Merek berdua bangkit dan melangkah menuju ruang olahrag yang luasnya sama seperti kamar kost. Disana ada sebuah matras dan mereka melakukan hubungan terlarang disana.
Hingga waktu berlalu, begitu permaianan selesai, mereka segera saja mengenakan pakaian mereka. Kali ini wajah Kalina terlihat lebih ceria setelah mendapat jatah dari Rafi. pemuda itu bahkan sempat heran dengan perubahan sikap Kalina. Setelah berhubungan badan, malah Kalina yang semangat minta dibelikan bakso. Walaupaun gemas, Rafi tetap menurutinya.
"Aku kok kayak wanita murahan banget ya? Habis dipakai cuma dibayar pake semangkkok bakso," ucap Kalina sambil menikmati bakso di ruang tamu tersebut. Mereka memang memilih makan bakso disana, biar enak ngobrolnya.
"Hahahha ... mungkin, kebanyakan anak sekolah yang sudah melepas mahkotanya juga kayak gini kali ya? Rela dinikmati dengan bayaran semangkok bakso."
"Bukan mungkin lagi, Fi. Kebanyakan emang gitu anak anak jaman sekarang. Eh malah aku juga menjalaninya, parah."
Rafi tersenyum simpul. "Gimana? Kamu ada ide nggak, untuk mengungkap pekerjaan pria yang tadi?"
__ADS_1
"Sebentar," jawab Kalina, dan dia langsung berpikir sembari menikmati baksonya. Tak lama setelahnya, Kalina sepertinya menemukan suatu cara. "Gimana kalau kita menyelamatkan anak istrinya tanpa sepengatahuan sang suami. Nanti jika suaminya bertanya sama kamu, sebisa mungkin kamu memacing dia agar dia mau bercerita. Atau kamu bilang aja kalau istri dan anaknya di bawa orang dan kamu menawarkan bantuan gitu. Intinya kita sembunyikan dulu anak dan istrinya, gimana?"
...@@@@@@...