SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Menjalankan Rencana


__ADS_3

Rafi terdiam. Sambil menikmati bakso yang tinggal sedikit lagi akan habis, dia mencerna usulan wanita yang ada di hadapannya. Usulan wanita itu memang masuk akal, tapi yang menjadi pemikiran Rafi selanjutnya adalah, dimana dia akan menyembunyikan istri dan anak dari pria itu?"


Saat Rafi sedang sibuk berpikir, ponsel Rafi berdering, memberi tanda kalau ada pesan masuk dalam ponselnya. Ponsel yang tergeletak di atas meja dekat mangkok bakso, langsung Rafi ambil dan dibacanya pesan yang masuk dan ternyata pesan itu berasal dari Pak rt tempat tinggal Rafi.


Pak Rt memberi tahu Rafi kalau rumahnya sekarang sudah diperbaiki seperti yang dia perintahkan. Rafi memang sempat minta tolong kepada temannya di kampung untuk memperbaiki rumah peninggalan orang tuanya beberapa hari yang lalu. Dia tidak menyangka kalau respon yang dia berikan cukup cepat ditanggapi. Bahkan Pak ** bilang para warga membantu merenovasi rumah tersebut.


Meski hanya menggunakan papan kayu dan anyaman bambu, tapi setidaknya rumah Rafi terlihat lebih rapi dan layak untuk ditinggali jika dia pulang nanti. Rafi tidak mungkin membangun rumah itu agar lebih bagus. Dia tidak mau para tetangga penasaran dan menimbulkan banyak tanya tentang uang yang digunakan Rafi untuk membangun rumah tersebut.


Berbicara tentang rumah, Rafi jadi teringat soal rencana yang di ucapkan oleh Kalina. Dia seperti menemukan sebuah ide yang cukup bagus. "Kalau kamu ajak istri dan anak orang itu, bersembunyi di kampungku, kamu mau nggak, Kal?"


Kalina yang sedari tadi asyik menikmati baksonya tanpa peduli Rafi yang sedang berbalas chat, sontak mendongak begitu mendengar ucapan pria itu. "Di kampung kamu? dimana?"


"Nanti aku kasih tahu, sekalian buat sembunyi kamu juga. Bukankah kamu bilang orang yang mau menikah dengan kamu sedang mencari kamu?" Kalina mengangguk sembari mencerna ucapan Rafi. "Aku rasa rumahku tempat yang aman untuk bersembunyi. Nanti biar aku yang bilang sama pak Rt kalau kalian keluarga yang ingin mengontrak di sana, gimana?"

__ADS_1


"Lah terus nanti urusan aku gimana? Yang ada malah nggak selesai selesai?"


"Kamu tenang saja. Pasti kita akan selesaikan urusan kamu dan paman kamu. Aku yakin sertifikat rumah kamu akan tetap aman. Pasti orang itu akan terus menekan keluarga paman kamu jadi kamu tenang saja."


"Baiklah. Tapi disana nanti aku nganggur dong?"


"Di kampungku ada beberapa pedagang kue kue dan cemilan. Kalau kamu nggak malu, kamu bisa ikut jualan. Barangnya bisa ambil dulu. Nanti aku yang ngomong ke orangnya."


"Hahaha ... terencana banget, Fi. tapi okelah kalau begitu, aku terima. Lagian aku juga nggak enak sama kamu. Jadi beban mulu."


"Oke."


Kesepakatan pun terjadi. Hingga saat hari menjelang petang, di saat para penghuni kost kembali berdatangan setelah aktifitas mereka seharian, Kalina mulai melaksanakan aksinya. Melihat suami dari wanita yang ada di sebelah kamarnya pergi sejak beberapa jam yang lalu, Kalina langsung menggunakan kesempatan itu untuk menjalankan rencanya bersama rafi.

__ADS_1


"Apa suami Mbak, selalu begini? Ninggalin Mbak tanpa kejelasan?" tanya Kalina pada wanita yang sedang menyuapi anaknya. Wanita yang mengaku bernama Minem itu mengangguk.


"Ya begitulah suami aku, Dek. Aku sendiri juga nggak pernah tenang jika dia pamit bekerja. Selalu was was, takut kalau kalau dia kenapa kenapa."


Kalina mengangguk pelan. Tangannya sesekali mengusap kepala bocah yang nampak ceria meski orang tuanya sedang dalam kesulitan. "Mbak sendiri bilang katanya Mbak selalu berpindah pindah tempat tinggal? Itu kenapa, Mbak?"


"Mbak juga nggak tahu. Itu kemauan suamiku. Aku sendiri capek menjalani hidup seperti itu. Apa lagi anakku sebentar lagi sudah mau masuk sekolah."


"Benar juga ya? Kalau terus pindah pindah, nasib anak juga bakalan terganggu. Kasihan dia nanti tidak punya teman."


"Nah itu dia, aku juga bingung."


Kalina kembali menganggukan kepalanya beberapa kali. Merasa ini adalah waktu yang tepat untuk menjalankan rencananya. Kalina langsung mengutarakan rencana itu kepada wanita beranak satu tersebut. Minem tentu saja terkejut dan dia melempar beberapa pertanyaan. Wajar kalau Minem agak curiga dan pertanyaannya seperti sedang menyelidIki. Itu semua dia lakukan karena Minem dan Kalina baru kenal.

__ADS_1


Minem juga cukup terkejut saat mengetahui cerita tentang apa yang terjadi pada kalina. maka dari itu dia mencerna ucapan wanita muda itu dengan baik baik. Setelah terjadi tanya jawab dan berbagi cerita pilu dalam waktu yang cukup lama, akhirnya Minem setuju dengan ide yang Kalina berikan.


...@@@@@...


__ADS_2