SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Menikmati Hari Libur


__ADS_3

Di sana, di dalam sebuah mobil, rasa canggung jelas sangat terasa diantara para penghuninya. Dua orang berbeda jenis yang duduknya di belakang pak supir, nampak saling terdiam sejak mereka keluar dari rumah sakit beberapa menit yang lalu. Keduanya tadi hanya sempat berkenalan satu sama lain, setelah itu tidak ada lagi obrolan yang terjadi sepanjang perjalanan.


Dialah Rafi. Di saat banyak orang sedang melakukan aktifitas di waktu pagi menjelang siang seperti sekarang ini, pemuda itu malah sedang berangkat menuju ke sebuah hotel yang letaknya tidak jauh dari rumah sakit. Rafi bersama wanita yang mengenalkan dirinya dengan nama Widuri, akan melakukan hubungan yang penuh kenikmatan saat waktu baru menunjukkan pukul sembilan pagi.


Rafi terpaka memilih waktu pagi menjelang siang karena banyak rencana yang harus dia kerjakan hari ini. Bahkan jika nanti waktunya tidak cukup, kemungkinan salah satu rencananya akan dia tunda esok hari. Karena Rafi tahu, berhubungan badan juga membutuhkan waktu yang lebih santai dan cukup banyak. Apa lagi lawan ranjangnya baru saja dia kenal dan masih belum berpengalaman.


"Kalau bapak mau pergi, silakan, tapi Bapak jangan pulang ke rumah," ucap Rafi begitu mereka telah sampai di depan halaman hotel. "Nanti jika urusan saya sudah selesai, saya telfon bapak."


"Baik, Tuan muda," jawab sang supir yang mengerti dengan urusan apa yang akan dilakukan Tuannya, meski pemuda itu tidak memberitahunya secara rinci.


Setelah berbicara sejenak dengan pak supir, Rafi lantas melangkah masuk ke dalam gedung bertingkat dan diikuti wanita yang agak canggung memasuki tempat mewah itu. Meski Rafi tidak pernah menginap di hotel, tapi dia sudah mempelajari cara cara memesan kamar. Bahkan Rafi bersikap seaakan dia sudah sangat berpengalaman dengan urusan sewa menyewa kamar hotel.


Rafi menyodorkan black card untuk melakukan pembayaran dan saat itu juga mata orang yang ada di sekitar Rafi langsung pada takjub melihatnya. Mereka tidak menyangka penampilan Rafi yang hanya memakai kaos dan celana pendek serta sepatu kets, malah menggunakan kartu yang hanya dimiliki oleh orang orang tertentu.

__ADS_1


"Kenapa diam? Grogi?" tanya Rafi begitu dia dan Widuri sudah berada di dalam kamar.


Wanita yang sedang duduk di sofa itu mengangguk dengan wajah tertunduk. "Saya nggak biasa berada di tempat seperiti ini, Tuan. Ini terlalu mewah."


Rafi lantas tersenyum. "Ya nggak apa apa, sekali kali main di tempat seperti ini bukan?" kamu mau mandi dulu atau gimana? Aku sudah pesan makanan."


"Aku sudah mandi, Tuan. Ini aja pakaian yang paling bagus yang aku punya."


Di saat bersamaan, Rafi mendengar pintu kamar diketuk. Ternyata itu adalah pelayan yang membawa makanan pesanan Rafi. "Sebelum kita mulai, mending isi perut dulu ya? Biar kuat." Widuri tersenyum tanggung dan hanya mengangguk sebagai jawaban.


Sambil menikmati hidangan yang ada, keduanya juga terlibat perbincangan yang lumayan seru. Dari dua orang itu, Widuri yang lebih banyak bercerita tentang nasibnya. Sedangkan Rafi lebih banyak melempar pertanyaan. Dari obrolan tersebut, Rafi lebih bisa memahami secara rinci alasan Widuri menjual mahkotanya.


Begitu selesai makan, keduanya kembali terlibat perbincangan. Tapi kali ini, Rafi memilih duduk di dekat Widuri biar bisa semakin akrab. Karena Widuri belum pengalaman tentang brhubungan badan, tentu saja Rafi harus bertindak lebih agresif. Bahkan sambil ngobrol, tangan Raffi perlahan tapi pasti, mulai menyentuh beberapa bagian tubuh Widuri seperti lutut mulus wanita itu.

__ADS_1


"Kamu pernah pacaran tidak, Wid?" tanya Rafi sembari jari jarinya dengan lembut mengusap paha Widuri yang tida tertutup kain dress yang dia pakai. Meski agak risih, Widuri memilih pasrah karena apa yang dilakukan Rafi adalah bentuk dari memberi pengaruh awal.


"Pernah beberapa kali, Tuan," jawab Wiiduri sesekali menatap wajah Rafi. Wanita itu lebih banyak menunduk karerna malu dan juga grogi.


"Selama pacaran, hubungan apa saja yang sudah kamu lakukan? misalnya ciuman atau apa gitu?"


"Paling cuma ciuman saja, Tuan," jawab Widuri jujur.


Rafi nampak menganggukan kepalanya beberapa kali. "Ya udah, sekarang kamu mau kan cium bibirku?" Widuri sontak mendongak sesaat menatap wajah Rafi, lalu kembali menuduk dan setelahnya dia mengangguk. "Ya sudah cium bibirku sekarang."


Widuri terdiam. Dia menghela nafasnya dalam dalam untuk mengatasi rasa gugupnya di dalam dada, lalu dia kembali mendongak. Begitu bibir Widuri terpampang di depan wajahnya, Rafi langsung bergerak cepat menyerang bibir Widuri.


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2