SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Dicegat Di tengah Jalan


__ADS_3

"Mobil Rafi belum bergerak juga itu, Bos?" tunjuk salah seorang yang berada di sebuah motor, sambil mengawasi mobil mewah yang terparkir di tepi jalan, karena pemiliknya sedang masuk ke dalam gang untuk menemui seseorang.


"Sabar aja, yang penting kita sudah mendapat peluang bagus. Aku yakin malam ini, kita akan berhasil menghabisi Rafi, sama seperti kita menghabisi orang tuanya," balas pria yang dipanggil Bos dan dia berada di atas motor yang lain.


"Hahaha ... tragis banget ya? Ayah sama anak mengalami nasib yang sama," rekan mereka ikut menimpali.


"Ya itulah akibat berurusan dengan kita. Rafi pikir, dia akan bisa membalas kematian ayahnya? Hahaha ... justru nyawa dia sendiri yang malam ini akan lenyap."


Kelima orang yang duduk diatas tiga motor, serentak terbahak dengan nasib buruk yang akan mereka berikan kepada seorang pemuda. Tawa mereka terheenti saat mata kelima orang itu melihat sosok yang mereka incar, keluar dari gang, memasuki mobil mewah yang mereka awasi. Tak lama setelahhnya, mobil itu meluncur meninggalkan tempat itu.


"Saatnya kita beraksi!" seru salah satu dari lima orang itu dan tiga motor itu langsung dinyalakan mesinnya. Satu persatu motor bergerak maju mengikuti jalur mobil yang berisi target mereka.


Di dalam mobil sendiri, karena tidak ada obrolan, dua orang yang ada di dalamnya nampak fokus ke hal yang lainnya. Jika Dito fokus ke arah jalan sembari menikmati lagu yang dia putar di mobil yang dia kemudikan, Rafi lebih fokus pada ponsel dan juga pemandangan tepi jalan, dimana mobil itu memasuki kawasan hutan yang cukup sepi di hari yang sudah cukup gelap.

__ADS_1


"Sepertinya, ada yang mau main main sama kita," ucap Dito tiba tiba, dan hal itu sukses membuat Rafi mendongak.


"Ada apa?" Rafi langsung melempar pertanyaan dengan mata juga menngedar ke arah depan mobil.


"Tuh! Dua motor di depan kita, sepertinya mereka menginginkan kita untuk menepi?" Rafi memperhatikan dua motor di depannya. Dua orang yang membonceng motor itu memang terlihat memberi perintah untuk menepi. "Apa mereka orang orang suruhan Sergio?"


"Bisa jadi," jawab Rafi. Kedua orang itu malah terlihat tenang, tanpa rasa panik sedikitpun. "Mereka mengeluarkan senjata, Dit."


"Hahaha ... untung kita sudah siapkan senjata. Baiklah, kita turuti mereka atau gimana?"


Dito dan Rafi cukup kaget kalau di belakang mereka juga ada motor yang mengikutinya, dan sekarang mereka melihat ada lima orang yang turun dari tiga motor. Dua orang yang membonceng, menodongkan senjata api sembari mendekat ke arah mobil, terus mereka memberi perintah kepada Rafi dan Dito, untuk segera keluar dari mobil.


Dengan saling memberi kode juga, Rafi dan Dito mau menuruti perintah kelima orang itu. begitu keluar dari mobil, kedua pria itu langsung mengangkat tangan dan menempelkan dadanya pada mobil mereka. Rafi berada di sisi kiri mobil, sedangkan Dito berada di sisi kanan. Mereka saling memberi kode melalui mata mereka.

__ADS_1


"Jadi cuma itu kemampuan kamu?" entah itu sebuah pertanyaan atau sebuah ejekan, tapi Rafi yakin kalau pemilik suara itu adalah salah satu anggota tatto tulang ikan. Tangan kelima orang itu memakai sarung tangan dengan wajah ditutup menggunakan helm, membuat Rafi cukup sulit mengenali mereka.


"Siapa kalian?" tanya Rafi setenang mungkin.


"Yang pasti, aku adalah malaikat pencabut nyawamu," jawab orang itu dengan penuh percaya diri. "Sayang sekali ya? Nasib kamu sangat sial, harus berurusan dengan kami."


"Bagaimana mungkin aku bisa berurusan dengan kalian, kenal juga tidak," jawab Rafi masih dengan sikap yang sama. Rafi tidak mau menanggapinya dengan emosi yang nantinya bisa membahayakan dirinya sendiri dan juga Dito.


"Yang pasti kamu sangat mengenal kami, Tuan. Atau kalau perlu, aku akan ingatkan," Rafi memilih diam. Namun diamnya Rafi dianggap persetujuan oleh satu orang yang sedari tadi mengeluarkan suara yang cukup angkuh.


"Baiklah, akan aku ingatkan, aku adalah orang yang telah membuat ayah kamu lenyap dari bumi ini," orang itu berbicara di dekat telinga Rafi. Tentu saja, amarah Rafi langsung meningkat sampai kedua tangannya terkepal dengan kuat. Namun Rafi tahan emosinya dengan sekuat tenaga.


"Sudah ingat bukan? Hahaha ..." tawa orang itu langsung menggelegar penuh rasa bangga, lalu dia kembali mendekat ke telinga Rafi. "Dan malam ini, aku pastikan, kamu akan menyusul ayah kamu," orang itu menyeringai lalu menoleh ke arah rekannya. "Habisi dia!"

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2