SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Kejutan Dari Bos


__ADS_3

"Sepertinya saya akan menjual tempat ini. Fi."


Kening Rafi langsung berkerut, matanya menyipit dan wajahnya terlihat penuh rasa terkejut. "Kenapa di jual, Pak? Terus saya gimana?"


"Ya karena saya dan keluarga mau pindah ke luar negeri. Kamu tidak perlu khawatir, nanti jika tempat ini berpindah tangan, saya bisa bilang sama pemilik baru agar kamu tetap bisa berjaga di tempat ini."


Rafi nampak mkanggut manggut. "Tapi kenapa dijual, Pak? Maaf kalau saya lancang bertanya."


Sang bos nampak tersenyum masam. Matanya memandang lekat pemuda yang ada dihadapannya. "Kan tadi saya sudah bilang kalau saya mau pindah. Saya takut nanti tidak bisa memantau perkembangan tempat ini. Lagian usaha saya juga banyak. Anak anak juga sudah memiliki usaha sendiri. Ada tiga tempat usaha yang akan saya jual."


"Kalau boleh tahu, berapa harga yang bapak tawarkan? Apa sampai triliyunan?"


"Hahaha ... nggaklah, Fi. Paling akan saya lepas sekitar lima miliar."


Mata Rafi sontak membelalak. "mahal banget, pak!" serunya. "Kirain cuma satu miliar, hehehe."


"Itu termasuk murah, Fi. Satu miliar paling cuma tanahnya saja. Saya kan jual beserta bangunannya. Belum lagi fasilitasnya cukup lengkap. Kenapa? Kamu minat?"


Rafi seketika menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kalau hanya lima miliar tentu saja Rafi minat. Ini kan sama saja dengan investasi. Tapi apa bosnya percaya kalau Rafi bisa membayar dengan harga segitu? Sedangkan yang bos tahu, Rafi hanya pemuda biasa yang bekerja untuk dia.


"Memang bapak sudah tawarin kemana saja tempat ini?"


"Ya di koran, sosial media."

__ADS_1


"Nggak pake perantara?"


"Pakai juga"


Rafi nampak manggut manggut. Obrolan mereka berlanjut ke obrolan lainnya yang tidak jauh dari sesuatu yang berhubungan dengan tempat kost dan juga usaha sang bos. Hingga beberapa waktu berjalan, Sang bos akhirnya pamit undur diri karena harus mengunjungi tempat usaha lainnya.


Selepas kepergian sang bos, Rafi pun kepikiran tentang tujuan sang bos datang kemari. Dalam benaknya muncul rasa minat ingin membeli bangunan ini. Sebenarnya dia mampu membayar tempat ini sesuai dengan harga yang ditawarkan, tap Rafi harus mencari cara agar dia tidak terlalu mencolok memiliki uang banyak.


Rafi berpikir sambil memainkan ponselnya sampai dia teringat dengan sosok wanita yang sejak tadi masuk di dalam kamar kost tapi belum ada tanda tanda keluar atau menghubunginya lewat chat. Karena cukup khawatir, Rafi berencana akan ke kamarnya setelah dia mandi dan membeli makanan.


Saat petang tiba, Rafi bersiap diri menuju kamar Kalina. Rasa khawatir tentu saja merasuki hati pemuda itu karena sejak jam dua siang wanita itu berada tidak terlihat wujudnya. Dengan menenteng makanan, langkah kaki Rafi berhenti tepat di depan pintu kamar kalina.


Tok! Tok! Tok!


"Kamu habis mandi?" tanya Rafi yang cukup terkejut dengan penampilan Kalina yang hanya berbalut handuk.


"Hehehe ... iya. Soalnya aku baru bangun tidur belum lama ini."


"Astaga! Bikin khawatir saja," sungut Rafi tapi wajahnya nampak begitu lega. Rafi menyodorkan kantung plastik yang dia bawa. "Nih makanan."


"Ya ampun, Fi, repot repot amat. Aku kan sudah ada ada uang dari kamu. lagian kamu ngasih uangnya banyak banget, sih."


"Udah terima aja. oraang udah dibeli."

__ADS_1


"Baiklah terima kasih."


Rafi hanya melempar senyum lalu dia pamit, kembali ke post jaga. Kalina hanya mengangguk dan wanita itu segera menutup pintu kamarnya begitu Rafi pergi. Dengan senyum yang terkembang, Rafi melangkah menuju ke arahpost. pikiran nakalnya menari nari membayangkan tubuh Kalina dan keindahan yang ada pada wanita itu. Namun tak lama Rafi sampai di post jaga, kening Rafi berkerut saat melihat kedatangan wanita yang dia kenal.


"Nancy? Sama siapa dia?" gumam Rafi. Wajahnya terlihat cukup terkejut dengan kedatangan Nancy dengan seseorang dibelakangnya. Wanita itupun langsung melempar senyum saat menatap Rafi dan dia segera mendekat setleah memarkirkan motornya.


"Hallo Rafi, apa kabar?" sapa Nancy sambil mengulurkan tangannya mengajak Rafi berjabat tangan.


"Baik, kamu sendiri gimana? Kok kesini nggak ngsih kabar?" tanya Rafi sambil menjabat tangan wanita keturunan china itu.


"Hehehe ... sengaja, maubikin kejutan sama kamu," jawab Nancy sambil cengengesan. "Oh iya, Fi, kenalin nih Lingze, teman aku."


Rafi berjabat tangan dengan orang yang datang bersama Nancy. Seorang wanita cantik dengan postur tubuh yang lebih tinggi dari Nancy.


"Ada perlu apa kamu ke sini? Apa kamu membawa berita bagus tentang apa yang aku minta?"


"Tidak. Tapi aku kesini mau minta tolong sama kamu, bisa nggak?"


"Minta tolong? Minta tolong apa?"


"Teman aku ini lagi butuh uang, kamu mau nggak bayar mahkota dia?"


Waduhh.

__ADS_1


...@@@@...


__ADS_2