SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Diluar Harapan Mereka


__ADS_3

"Katakan saja, apa yang kalian inginkan dari saya?" tanya Rafi dengan sikap yang tenang dan begitu dingin.


"Tentu saja kami menginginkan uang," si pemimpin dari empat musuh itu langsung menjawab dengan santainya. "Beri kami sejumlah uang, maka wanita ini akan kami lepaskan."


Rafi seketika menyeringai. "Kalian meminta uang sama saya, untuk menebus orang yang tidak ada hubungan apapun dengan hidup saya? Hahahah ... apa kalian sedang bercanda?"


Deg!


Semua sontak tercengang melihat sikap dan jawaban yang ditunjukan oleh Rafi. Terutama Arinda dan ayahnya. "Maksud kamu, Fi?" Arinda sampai terbata suaranya karena sangat terkejut mendengar ucapan Rafi.


"Benar kan, apa yang aku katakan? Kamu bukan siapa siapa saya, ngapaian aku harus repot repot mengeluarkan uang untuk kamu?" sekarang Rafi yang berbicara dengan entengnya.


"Tapi kenapa kamu mau datang kesini, Fi? Bukankah kamu datang kesini karena kamu masih cinta sama aku?" tanya Arinda lagi.


"Benar, aku yakin kamu sedang bercanda kan, nak Rafi?" ayahnya Arinda ikut mengeluarkan suaranya. "Bukankah kamu datang kesini karena aku akan merestui hubungan kamu dengan anak saya kan?"


"Heheheh ..." Rafi malah terkekeh menatap pria tua di sebelahnya. "Jangan salah paham. Saya mau datang kesini karena menghormati warga di kampung saya. Bukan karena saya senang akan mendapat restu dari anda, bukan! Saya hanya tidak enak menolak permintaan anda di depan tetangga tetangga saya."


"Kamu bohong kan, Fi? Kamu sedang bercanda, kan?" Arinda masih tidak percaya dengan sikap yang Rafi tunjukkan. Begitu juga dengan ayahnya. Dito sendiri memilih diam dengan sikap waspada tanpa bereaksi apa apa. Dito cukup menjadi pendengar dan penonton yang baik dari drama yang saat ini sedang berlangsung di depan matanya.

__ADS_1


"Ngapain aku harus bohong dan bercanda? Agar kamu terkejut dan merasa istimewa begitu? Hahaha ..." ucapan Rafi semakin membuat Arinda dan ayahnya terdiam. Bukan seperti ini yang mereka inginkan.


"Udah! Nggak usah banyak mulut!" pemimpin dari para musuh terlihat geram. "Serahkan seratus juta atau aku habisi wanita ini!"


"Hahaha ..." bukannya takut, tawa Rafi malah semakin menggelegar. "Mau kalian habisi nyawa dia sekalipun, itu bukan urusan saya! Saya tidak akan rugi!"


"Jangan main main dengan saya! Kamu pikir saya tidak serius!" bentak sang pimpinan.


"Aku juga sangat serius. Paling yang terjadi nanti jika wanita itu mati, aku hanya akan dijadikan sebagai saksi, dan kalian berakhir dipenjara. Cuma gitu kan? Lagian, kalian akan kabur kemana setelah menghabisi nyawa wanita itu?"


Saat itu juga wajah bingung langsung ditunjukkan para penjahat. Sikap Rafi sungguh diluar dugaan empat orang itu. Berharap akan mendapat uang banyak, tapi dengan ancaman pun Rafi malah bersikap biasa saja. Para penjahat juga tidak mungkin akan melakukan pembunuhan. Biar bagaimanapun, bukan kejadian seperti ini yang mereka dapatkan.


"Hiyyaaa!"


Pertarungan pun tak bisa di hindari. Tiga lawan satu, kelihatan tidak seimbang. Tapi sepertinya itu tidak masalah bagi Dito. Ketiga musuhnya yang memiliki tubuh kecil dari dia, membuat Dito sangat mudah melayangkan pukulan, hantaman dan tendangan kepada tiga lawannya.


Dakh!


Bugh!

__ADS_1


Dezigg!


"Akhh!"


Ketiga musuh tumbang dengan wajah babak belur. Satu orang yang tersisa, kini wajahnya terlihat pucat. Dia pun mengancam dengan senjata tajam yang berada di dekat leher Arinda. "Jangan macam macam! Atau aku berbuat nekat!"


"Ayah, tolong!" Arinda menangis, begitu juga dengan ayahnya. Bahkan sang ayah sampai memohon kepada Rafi untuk menolong anaknya. Sisi kemanusiaan Rafi pun tergugah. Dia langsung memutar otak untuk memberikan pertolongan.


Rafi tersenyum sinis, sepertinya dia memiliki sebuah ide yang cukup bagus. Rafi merogoh tas slempang kebanggaannya dan mengambil isinya. Sebuah ponsel kini berada di tangannya dan Rafi langsung saja melakukan panggilan. "Hallo, kantor polisi, saya mau melapor ..."


Rafi belum menyelesaikan ucapannya tapi keempat musuh lansung panik. Dengan sendirinya mereka langsung melarikan diri melewati pintu yang berbeda. Arinda dan ayahnya terlihat begitu sangat lega. Sang ayah bergerak untuk melepas ikatan pada anaknya.


"Kita pergi, Dit," titah Rafi dan hal itu sontak mengejutkan dua orang, ayah dan anaknya. Mereka bergegas untuk ikut Rafi pergi.


"Kalian mau ngapain?" tanya Dito begitu melihat dua Arinda dan ayahnya ikut melangkah menuju mobil Rafi.


"Ikut kalian pulang," jawab Ayah Arinda dengan santainya.


Rafi langsung mendengus. "Itu ada motor para penjahat, kalian bawa salah satunya untuk pulang, Aku tidak mau satu mobil dengan kalian."

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2