SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Dalam Mode Kesal


__ADS_3

"Ya udah, kita tidur sekamar aja gimana?"


"Astaga! Yang benar aja!" Rafi sungguh dibuat tak percaya dengan tingkah wanita itu. Bisa bisanya dia dengan mudah mengatakan tidur dalam satu kamar. Rafi tahu kehidupan di luar negeri lebih bebas dari negara ini, tapi bukan berarti seenaknya seperti itu.


Rafi keluar dari kamarnya dengan perasaan yang cukup kesal. Namun Marisa tanpa rasa bersalah malah berbaring diatas tempat tidur kemar Rafi. Hingga beberapa saat kemudian wanita itu berteriak. "Rafi! Aku lapar!"


Rafi cukup terkejut saat wanita itu menyebut namanya. Tapi karena merasa kesal, Rafi tetap diam dan meneruskan memainkan ponselnya. Tanpa Rafi sadari, Marisa pelan pelan keluar dari kamarnya dan diam diam mendekat ke arah rafi dan mengambil ponselnya.


"Hayo loh, ketahuan!"


"Nona!" seru Rafi. "Kembalikan ponselku, woy!"


"Wahh, lagi nyari teman kencan, Hahaha ..."


Rafi hanya mendengus dan merebuit paksa ponselnya. Marisa bukannya takut sama Rafi, dia malah mendekat dan menatap Rafi dengan wajah terlihat sangat meledek. "Apa sih!" hardik Rafi langsung meletakkan ponselnya dalam saku celana.


"Lapar," ucap wanita itu manja.


"Lapar tinggal beli makanan, bukannya merengek," sungut Rafi benar benar emosinya di uji malam ini.


"Aku kan nggak tahu tempat ini, kenapa kamu mesti galak galak?"

__ADS_1


Rafi mendengus kesal. "Ya udah ayok, cari makan!"


"Bisa bersikap lembut dikit nggak sama cewek? galak amat. Aku bilangin Pak Budi loh," ancam Marisa yang makin membuat Rafi merasa kesal. Namun pria itu tidak bisa berbuat apa apa karena takut dilaporkan ke Pak Budi. Biar bagaimanapun Rafi tidak enak kalau Pak Budi tahu Rafi memperlakukan anak majikannya dengan tidak baik.


Tanpa pikir panjang, Rafi meraih tangan Marisa dan menariknya secara paksa dan membawanya keluar tempat kost untuk mencari makanan. Tanpa banyak bicara dan tidak mau mendengarkan protesan Marisa, Rafi memilih tempat makan sesuai seleranya sendiri.


"Kita makan disini?" tanya Marisa dengan tatapan terlihat cukup terkejut.


"Kenapa? Nggak suka? Disini nggak ada restoran mewah dan aku nggak suka berada di tempat seperti itu," balas Rafi ketus sembari tangannya meraih satu bungkus krupuk yang tersaji di atas meja.


"Hehehe ... suka kok," Marisa malah cengengesan, membuat Rafi malah makin tambah kesal. Bahkan Rafi menggigit kerupuk dengan sangat keras saking kesalnya. Rafi lalu memesan makanan seperti biasa dan Marisa mengikutinya.


"Pacar Rafi ya, Mbak?" tanya penjual nasi campur sambil menaruh pesanan makanan yang dipeaan dua anak muda itu.


"Iya, Bu. Pacarnya," Marisa menjawab dengan cepat sampai Rafi tidak bisa meneruskan kata katanya.


"Wahh! Rafi pinter nyari cewek ya? Cantik," puji penjual nasi sampai wajah Rafi memerah. Entah karena malu atau kesal, tapi Rafi berusaha tersenyum kepada penjual nasi tersebut.


"Tapi Rafi lagi marah sama saya, Bu," Adu Marisa hingga mata Rafi membulat. "Padahal saya jauh jauh datang kesini loh. Apa Rafi sudah punya cewek lain lagi ya?"


"Kalau ngomong nggak usah ngarang deh," bantah Rafi dengan suara yang cukup tinggi.

__ADS_1


"Tuh kan, Bu, galak banget," adu Marina lagi.


"Rafi, jangan gitu ih. Kasihan. cantik cantik kok digituin," Ibu penjual nasi malah membela Marisa yang lagi cengengesan.


"Wah! Rafi ganti cewek lagi!" seru penjual bakso yang ada di sebelah pedagang nasi campur. " Lah terus, kemarin Rafi pesen dua bakso di bawa ke tempat kost buat siapa?"


Rafi benar benar merasa terpojok. Dia memilih diam sambil menikmati makanannya. Sedangkan orang yang melihat tingkah Rafi saat ini malah pada cengengesan. Disaat Rafi hampir selesai menikmati hidangannya, Marisa beranjak mendekati ibu penjual dan membayar makanan mereka. Awalnya Rafi menolak untuk dibayarin, tapi Marisa malah cuek saja dan tetap meneruskan pembayaran makanan mereka berdua.


"Akhirnya kenyang juga, bisa tidur nyanyak malam ini," seru Marisa begitu mereka kembali ke tempat kost. dengan cueknya wanita itu bergelayut dilengan Rafi sejak keluar dari warung makan yang tadi mereka kunjungi. Karena Rafi masih kesal dengan tingkah Marisa, dia jadi merasa agak risih digelayutin oleh wanita itu.


"Ya udah sana kembali ke kamar, masa nggak berani tidur sendiri?"


Bukannya menuruti, Marisa malah masuk ke kamar Rafi dan berbaring disana. Rafi mendengus kesal dan untuk malam ini dia pasrah tidur di sofa lagi. Hingga waktu terus bergulir, saat jam di dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam, Rafi bersiap hendak menutup pintu gerbang.


Namun saat Rafi hendak beranjak, telinganya menangkap suara dari dalam kamar. Kening Rafi berkerut dan dia perlahan melangkah menuju ke sana. Betapa terkejutnya Rafi saat melihat keadaan wanita yang sedang berada di kamarnya.


@@@@


Hy reader, makasih ya yang sudah mendukung karya saya yang absurd sampai detik ini. Saya sebagai penulis cuma mau ngasih tahu, mulai besok dan selama bulan puasa, saya akan up tiap sore menjelang petang tiga bab sekalian ya. Agar puasa terjaga aja gitu.


Untuk yang bertanya kenapa hadiahnya hanya uang. Saya memang sengaja mengambil tema saat uang berkuasa. Nah maka itu saya fokus ke masalah yang selalu berhubungan dengan uang atau harta. Oke? Semoga jawabannya puas. Terima kasih.

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2