SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Pesta Pun Usai


__ADS_3

Pesta pun berakhir dengan cukup mengecewakan. Beberapa tamu undangan bahkan memilih pulang lebih awal dari acara yang dijadwalkan karena sebuah insiden yang cukup memalukan. Begitu juga dengan Moreno dan dua anak muda yang datang bersamanya. Mereka segera pulang tak lama setelah keadaan lebih tenang.


Rencana yang sudah disusun rapi oleh sang tuan rumah benar benar berantakan akibat kebodohan Tania, yang bertindak dengan semaunya sendiri. Bahkan anak buah suruhan Sergio yang sudah siap melaksankan tugas, pulang dengan perasaan heran meski mereka tidak terlalu kecewa. Setidaknya lima orang anggota tato tulang ikan TGM itu masih bisa menikmati bayaran karena kegagalan bukan karena kesalahan mereka.


Semantara itu di tempat terjadinya pesta, suasana tegang sangat terasa diantara anggota kelurga yang sedang berkumpul. Begitu semua tamu sudah kembali ke tempatnya masing masing, Tania langsung disidang oleh seluruh anggota keluarga atas tindakan bodoh yang dia lakukan.


"Sekarang lihat kan! Gara gara ulah kamu yang bodoh itu, Papah tidak bisa menjaring satu perusahaanpun untuk berinvestasi pada keluarga kita," seru Burhan meluapkan segala kekesalan yang dia redam sejak terjadinya peristiwa memalukan tadi. "Bahkan Tuan Moreno langsung menyerahkan semua keputusan di tangan Rafi jika Papah ingin mengajukan kerja sama. Bagaimana caranya Papah bisa membujuk tuan Rafi kalau kamu sudah membuat malu calon istrinya, hah!"


Tania yang sedari tadi menunduk, sontak mendongak menatap tajam ke pria yang dipanggilnya Papah. "Ya biar aja mereka nggak jadi nikah, Pah. Bukankah itu hal yang bagus? Nanti aku bisa jadi pengganti Marisa."


"Enteng banget kamu kalau ngomong!" kini giliran mamahnya Tania yang bersuara. "Belum tentu juga Tuan Rafi mau sama kamu. Orang Lupita sendiri cerita kamu ditolak mentah mentah dua kali."


"Ya ampun, Mah. Justru karena penolakan itulah, aku semakin yakin kalau Tuan Rafi bisa aku mililki. Asal terus berusaha, aku yakin lama kelamaan, Tuan Rafi akan bertekuk lutut. Aku masih punya banyak kesempatan untuk mendekatinya."

__ADS_1


"Sebelum mendekatinya, mending kamu selidiki dulu latar belakang Rafi," sekarang sang nenek yang bersuara. "Aku curiga kalau Rafi bukan anak kandung Moreno. Cari kelemahan yang bisa dijadikan senjata agar Tuan Rafi bisa bertekuk lutut dihadapan kita."


"Nah, ini baru ide bagus," Tania nampak senang karena dapat pembelaan dari sang nenek. "Aku setuju dengan ide Nenek."


"Tapi, Nek, darimana kita bisa menyelidiki asal usul Tuan Rafi? Kita saja tidak memiliki petunjuk sama sekali," Burhan kembali bersuara.


"Kan Nenek tadi ngomong kalau Rafi mirip dengan Mail. Lebih baik suruh orang untuk menyelidiki Mail dan anaknya. Cari tahu sekarang mereka tinggal dimana," si Nenek muai menungkapkan rencananya.


"Astaga, Bu. Kita mau cari anak pungut itu dimana?" kini gantian Lupita yang berbicara. "kita saja sudah lama tidak mendengar kabar anak tidak tahu diri itu."


"Tadi Lupita berkata tentang anak pungut? Memang siapa anak pungut itu, Bu?" Sergio yang sedari tadi memilih diam, akhirnya mengeluarkan suaranya saat mendengar kata Mail keluar dari mulut ibu mertuanya.


Sang ibu mertua lantas tersenyum menatap sang menantu. "Namanya Mail, dia dulu Ibu ambil di sebuah panti asuhan karena sejak lima tahun menikah, Ibu tidak dikaruniai anak. Tapi setelah lima tahun kami mengadopsi Mail, ibu malah mengandung Burhan, dan lima tahun kemudian ibu hamil Lupita. Kalau anak itu mau menuruti perintah bapak, anak itu pasti bersama kita disini. Tapi karena dia menentang dan menghamili anak saingan bisnis bapak, dengan sangat terpaksa kami buang saja dia."

__ADS_1


Sergio nampak manggut manggut dengan otak mencerna semua kata yang keluar dari mertuanya. "Namanya Mail, Bu?"


Si ibu mertua mengangguk. "Kamu kenal?"


"Nggak, aku cuma kayak pernah dengar nama itu tapi dimana gitu," jawab Sergio dengan pikiran yang masih berjalan memikirkan nama yang nampak familiiar.


Sang Ibu mertuapun hanya menganggukkan kepala beberapa kali. Karena waktu sudah sangat malam, wanita itu menyusul suaminya yang sudah berada di dalam salah satu kamar hotel untuk beristirahat. Tak lama setelahnya, burhan dan istri turut serta ke kamarnya lalu dilanjut dengan Tania. TerakhirSergio dan Lupita yang beranjak mernuju kamar.


"Kok Papih kayak kenal siapa itu Mail ya?" Sergio masih bertanya tanya. Bahkan saat dia mulai merebahkan badannya di atas ranjang.


"Kan nama pasaran, Pih. Ya wajarlah kalau mungkin papih ada yang kenal. Kali aja itu nama karyawan papih."


Sergio lantas mengiyakan ucapan sang istri meski hati dan pikirannya seakan menolak ucapan wanita yang berbaring di sisinya.

__ADS_1


...@@@@@@...


__ADS_2