
Hari keberangkatan Marisa untuk menemui ayahnya di suatu negara, kini waktunya tiba. Karena penerbangannya berada di jam yang terbilang masih pagi, dengan terpaksa, Rafi yang baru berada di kantornya selama dua jam, harus menunda pekerjaanya karena mengantar wanita itu.
Sepanjang menunggu jam pemberangkatan, wajah Rafi terlihat sangat tidak semangat sekali. Sedari pagi saat bangun tidur sampai saat ini ketika sudah berada di bandara, pemuda itu menunjukkan wajah sedih dan tidak rela berpisah dengan wanita yang selama ini menjadi teman tidurnya. Padahal Marisa hanya pergi selama beberapa hari saja, tapi sedih yang ditunjukkan Rafi seakan Marisa akan pergi dalam waktu yang lama.
"Jangan cemberut gitu dong, Fi? Ih, gemesin ya, kayak anak kecil aja," gerutu Marisa antara kesal tapi juga gemas dengan sikap Rafi yang sedari tadi memasang wajah ditekuk.
"Tahu ah, orang mau berpisah, kamu malah kayak seneng gitu. Ada niat mau ngasih lubang nikmat kamu sama cowok lain ya?" Rafi malah menuduh Marisa yang aneh aneh sampai membuat wanita itu semakin gemas saja.
"Hahaha ... pikirannya itu mulu ih," sungut Marissa. "Nggak percaya kalau lubangku bakalan dikasih ke kamu untuk pertama kalinya?"
"Bukannnya nggak percaya, tapi aku takut aja. Di sana kan banyak bule yang lebih tampan dari aku. Takutnya kamu kegoda, karena kamu kan doyan mainan isi celana."
"Hahaha ... kegoda untuk mainin isi celana sih pasti, tapi kalau untuk masukin batang ke lubangku, kayaknya nggak bakalan deh. Buktinya aku kuat bertahan sama kamu meski kamu sering mainin lubangku dengan lidah."
"Awas aja, kalau kamu sampai nyerahin lubang kamu pertama kalinya sama cowok lain, aku nggak mau kenal kamu lagi."
__ADS_1
"Hahaha ... iya, Sayang iya. Gemesin banget sih kamu ini, Fi. Orang mau berpisah, yang di khawatirkan malah lubang aku."
Rafi pun akhirnya menunjukan senyumnya. Hingga tanpa terasa waktu keberangkatan pun tiba. Dengan segala rasa sedih yang membuncah, Rafi dan Marisa saling peluk sampai mereka harus berpisah karena waktu keberangkatan semakin dekat.
Beberapa saat kemudian, setelah Marisa berangkat, Rafi memilih kembali ke kantornya. Malam nanti mungkin rumah akan menjadi sepi. Karena nanti sore, keluarga Moreno juga akan kembali ke negaranya. Tapi Rafi akan merasa lega jika keluarga Moreno itu kembali. Karena bagi Rafi, Angela benar benar meresahkan jiwa laki lakinya. Bukannya Rafi tidak suka, tapi dia merasa tidak enak dengan Moreno. Takut dikira penghianat karena meniduri anaknya.
Begitu sampai di kantor, seorang wanita yang bertugas dibagian resepsionis, langsung memberitahukan kepada Rafi kalau hari ini dia ada tamu. "Tamu? Siapa?" tanya Rafi.
"Tidak tahu, Tuan, seorang wanita muda. Dia sedang menunggu Tuan di ruang sebelah sana," tunjuk wanita itu.
"Hallo, Nona. Apa benar, anda ingin bertemu saya?" tanyaa Rafi dengan sangat ramah.
"Kamu kan penjaga kost? Kenapa ada di sini? Aku mau ketemu Rafi, mana dia?" wanita itu terlihat begitu galak.
Rafi lantas tersenyum. "Saya sendiri yang bernama Rafi, nona."
__ADS_1
"Apa! Nggak mungkin!" pekik wanita itu merasa tidak perccaya. "Jangan ngimpi kamu deh, kamu pasti asistennya kan? Orang aku tahu betul wajah Rafi seperti apa."
Lagi lagi Rafi menunjukan senyum yang terkesan mengejek pada wanita itu. "Apa Noja tidak tahu? padahal video saya sudah tersebar sejak beberapa hari yang lalu, tapi anda masih menganggap orang yang tidur dengan anda di kamar kost saya itu si Rafi? hahaha ... anda lucu sekali."
Wanita itu ternganga. Jelas sekali kalau dia sangat terkejut dengan apa yang disampaikan Rafi barusan. "Apa? Dari mana kamu tahu hal itu?"
"Ya sudah pasti saya sangat mengetahuinya, Nona. Karena itu memang bagian dari rencana saya. Nona cek aja video yang Nona rekam diam diam dan bandingkan wajah Rafi yang tidur bersama nona, dengan Rafi pemimpin perusahaaan ini."
"Apa! Jadi kamu ..." wanita bernama Melda itu semakin ternganga tak percaya.
"Ya! Saya sangat tahu perbuatan anda. Bahkan saya juga sudah memiliki salinan video dari para pria yang menjad korban anda. Semua itu adalah bagian dari rencana saya untuk wanita yang entah saya harus menyebutnya apa."
"Tidak! Mana mungkin," wajah Melda langsung berubah pucat.
"Sebaiknya anda hati hati, Nona. Wajah anda akan saya sebarkan ke seluruh negeri, agar para laki laki selalu waspada jika dekat dengan anda, mengerti!"
__ADS_1
...@@@@@...