
Tanpa terasa waktu terus bergulir maju. Meski lajunya pelan, tapi karena kesibukan manusia dalam menjalani aktifitasnya, hingga waktu seakan berjalan begitu cepat. Bahkan saking cepatnya kini malam telah mewarnai langit, berganti tugas dengan siang dalam menemani seluruh makhluk yang ada di muka bumi.
Di malam itu pula, Rafi terlihat duduk menyendiri di sebuah kursi yang tersedia di teras belakang menghadap ke taman sekaligus kolam renang yang ada di rumah mewah tempat Rafi tinggal. Mata Rafi terlihat serius menatap layar ponsel sampai dia tidak menyadari ada sosok yang mengawasinya, tak jauh dari tempat keberadaan pemuda itu. Tak lama setelahnya, sosok itu mendekat.
"Serius amat. Nak. Lagi chating sama pacar?" suara berat sang pemilik rumah terdengar mennggelegar hingga Rafi terekejut dibuatnya.
"Eh, Daddy. Nggak kok. Cuma lagi main sosmed," balas Rafi langsung menyimpan ponselnya ke dalam saku celana.
Pria yang dipanggil Daddy duduk di salah satu kursi yang jaraknya tak terlalu jauh dari tempat duduk Rafi. Pria bule itu lantas tersenyum. "Chat sama pacar juga nggak apa apa. Daddy nggak akan marah. Mungkin yang marah adalah cewek yang ada di kamar."
Rafi ikutan tersenyum, dia tahu siapa orang dimaksud Moreno. Setelah makan malam, Marisa memang memilih langsung ke kamar karena dia ingin ngobrol dengan teman temannya yang ada di laur negeri, tempat Marisa menuntut ilmu.
"Aku nggak ada hubungan apa apa sama Marisa, Dad," ucap Rafi menegaskan dengan pelan.
Moreno malah terkekeh. "Dia cantik loh. Sepertinya dia bukan tipe wanita yang gila harta. Kenapa nggak bikin hubungan saja dengan putri Alexander itu?"
Rafi malah terkekeh. "Yang ada nanti Tuan Alexander malah jantungan gara gara mendengar putri bungsunya menjalin asmara dengan anak miskin dari mantan supir yang bekerja di rumahnya. Apa nanti ngkak heboh?"
Moreno sontak ikutan terkekeh. "Hahaha ... tapi kalian aneh. Masa nggak ada hubungan khusus tapi tidurnya satu kamar terus."
__ADS_1
Rafi langsung mendengus . "Marisa penakut, Dad. Dia kalau tidur sendirian malah nggak bisa nyenyak. Aku pernah melihatnya."
Moreno nampak manggut manggut. "Mungkin dia mermiliki trauma saat kecil, jadi dia terus merasa takut hingga dia dewasa."
"Mungkin saja ya, Dad," balas Rafi dan mengangguk beberapa kali. " Daddy sendiri gimana? Kenapa keluarga Daddy nggak ikut kesini?"
Senyum yang sedari tadi terkembang sempurna, secara perlahan memudar. "Mereka tidak mau datang ke sini, Nak. Mereka punya kesibukan sendiri sendiri.. Lagtian ini kan rumah kamu."
"Apa! Rumah aku, Dad?" pekik Fafi dengan tatapan tak percaya.
Moreno nampak mengangguk dengan santainya. "Rumah ini memang untuk kamu. Anak anak dan istriku, nggak mungkin ikut ke sini," Rafi masih terdiam dengan rasa terkejutnya. "Kenapa? Apa ada masalah?"
Meski terkejut dengan penuturan Rafi, tapi sepertinya, Moreno mengerti kegundahan pemuda itu. "Keluargaku bukan orang yang gila harta, Nak. Semua sudah ada bagiannya masing masing. Kamu tidak perlu memikirkan itu semua. Anak dan istriku sudah aku kasih tahu tentang hal ini.
Rafi kembali tersenyum. Mendengar penjelasan Moreno membuat Rafi sedikit lega. Obrolan dua pria beda usia itupun berlajut hingga waktu hampir menjelang larut. Sekitar pukul sepuluh malam, Rafi kembali menuju kamar setelah Moreno mengakhiri obrolannya dan terlebih dulu masuk kembali ke kamarnya.
"Kamu belum tidur?" tanya Rafi begitu masuk kamar dan matanya menangkap sosok Marisa yang sedang tengkurap sembari menatap layar laptop.
"Belum, lagi nungguin kamu," jawab Marisa setelah menoleh sejenak ke arah Raafi lalu kembali fokus ke benda eletronik di hadapannya.
__ADS_1
Rafi hanya mendengus lalu melangkah menuju lemari pakaian. Di sana Rafi meraih cekana kolor yang cukup pende dan memakainya lalu beranjak menuju ranjang. Marisa kembali menoleh ke arah Rafi dan dia langsung membelalakkan matanya melihat Rafi hanya mengenakan celana kolor tanpa memakai baju.
"Kamu tidur nggak pakai baju?" tanya Marisa setelah bangkit dari tengkurapnya lalu mematikan laptop dan menaruhnya di meja sebelah ranjang.
"Percuma pakai baju kalau ujung ujungnya kamu lepasin agar mudah bermain dengan ketiak," balas Rafi sembari bersiap merebahkan badannya.
Marisa langsung cengengesan. "Tahu aja kamu apa yang aku suka, Fi."
"Kasurnya empuk sekali, bakalan tidur nyenyak banget aku," guman Rafi begitu dia merebahkan tubuhnya.
"Mamanya juga kasur sultan, ya jelas nyaman lah," balas Marisa langsung menempel pada tubuh Rafi setelah memasukan badan mereka dengan selimut yang ada disana.
"Sa, bisa minta tolong nggak?"
"Minta tolong apa?"
"Pegangin isi celanaku dong."
waduhh
__ADS_1
...@@@@@...